'Jurassic World' (3D): Atraksi Lama dengan Wajah Baru

Candra Aditya - detikHot
Senin, 15 Jun 2015 11:20 WIB
Jakarta - Duapuluh dua tahun setelah mimpi buruk Jeff Goldblum terjadi dalam 'Jurassic Park', sebuah taman wisata dengan para dinosaurus dibuka dengan nama Jurassic World. Kakak beradik Zach (Nick Robinson) dan Gray Mitchell (Ty Simpkins) mendapatkan kesempatan istimewa untuk menemui tante mereka, Claire (Bryce Dallas Howard) dan tiket VIP untuk melihat semua hewan-hewan purba ini semau mereka.

Tampaknya impian mereka untuk langsung bersenang-senang dengan si tante sedikit tertunda. Bertahun-tahun Jurassic World dibuka, para pengunjung mulai bosan. Mereka sudah menguap melihat atraksi membosankan seperti hiu yang dimakan mentah-mentah oleh Mosasaurus. Mereka menginginkan sesuatu yang lebih gawat, lebih besar, lebih menakutkan, lebih berkilat dan terutama, lebih banyak gigi. Tugas Claire adalah memastikan bahwa atraksi yang baru ini akan menarik perhatian banyak pengunjung. Ia sudah meyakinkan para investor dan pemilik taman, sekarang giliran mengetes apakah atraksi ini memang layak dipertontonkan kepada seluruh dunia.

Masuklah Owen (Chris Pratt), seorang pecinta binatang yang saking canggihnya bisa mengatur Raptor untuk berdansa Lady GaGa. Keahliannya yang jarang dimiliki orang tersebut membuatnya kembali bertemu dengan Claire dan tentu saja memastikan si dinosaurus terbaru tidak hanya meyakinkan namun juga aman. Tapi tentu saja itu tidak terjadi. Proyek dinosaurus hybrid tersebut ternyata melebihi apapun yang para kreatornya buat. Dan sekarang adalah tugas mereka untuk tidak hanya menyelamatkan nyawa orang sebanyak-banyaknya tapi juga bertahan hidup dari sebuah monster cerdas yang tak pernah mereka kira sebelumnya.

Dengan proyek sebesar ini, tidak ada yang mengira bahwa Spielberg akan memilih sutradara indie seperti Colin Trevorrow untuk langsung melenggang dan mengerjakan proyek masif seharga 150 juta dollar ini. Film terakhirnya, 'Safety Not Guaranteed', meskipun mendapatkan begitu banyak kritik, hanyalah sebuah film sederhana minim visual efek yang bercerita tentang seorang pria yang merasa dirinya bisa bepergian ke masa lalu. Namun ternyata feeling Spielberg bekerja. 'Jurassic World' tetap terasa seperti sebuah hasil dari anak buah Spielberg.

Trevorrow, seperti halnya Spielberg, tahu bagaimana cara membuat sebuah adegan yang menggetarkan dan menegangkan. Dia tahu bagaimana cara membuat penonton menahan napas dan berteriak, “Cepetan cabut!” Salah satu contoh kuatnya adalah pertemuan Owen dengan Indominus rex untuk pertama kalinya di kandang. Adegan tersebut di-build up dengan sederhana dan menghasilkan efek yang kuat. Visualnya mantap dengan CGI yang keren meskipun 3D-nya agak tidak berguna. 3D dalam re-release 'Jurassic Park' beberapa tahun lalu justru jauh lebih megang.

Warisan Spielberg yang kedua adalah bagaimana family friendly-nya film ini. Trevorrow tidak lupa untuk membuat 'Jurassic World' tetap bisa dikunyah oleh anak-anak meskipun film ini melibatkan potongan tubuh manusia dan darah. Dan tentu saja, seperti homage film pertamanya, kedua anak kecil dalam 'Jurassic World' tetap cerdas dan sanggup lari dari kejaran monster.

Sayangnya, keahlian paten Trevorrow tidak didukung oleh skrip yang lebih solid. Ditulis ramai-ramai oleh Rick Jaffa, Amanda Silver, Derek Connolly dan Colin Trevorrow sendiri, 'Jurassic World' terasa dipenuhi oleh berbagai macam klise yang sudah kita lihat sebelumnya. Alasan kenapa terjadi teror dalam taman tersebut tentu saja karena para manusia ini tidak pernah belajar. 'Jurassic Park' adalah sebuah film keluarga yang tidak hanya berhasil membuat penonton anak-anak menjerit namun juga membuat penonton dewasa mendapatkan mimpi buruk. Salah satu faktornya adalah karakter yang kuat.

'Jurassic Park' tidak pernah ragu-ragu dalam menggaris-bawahi seperti apa karakter mereka. Memang butuh pemanasan yang jauh lebih lama, tapi ini efektif. Begitu teror muncul, penonton langsung mendapatkan keterikatan langsung dengan karakternya sehingga penonton akan berharap mereka bisa selamat. 'Jurassic World' sayangnya tidak menyediakan itu. Semua karakternya tidak ada yang tiga dimensi. Mereka hanyalah makhluk berjalan yang hanya menunggu takdir apakah mereka akan selamat atau tidak. Interaksi Owen dan Claire tidak bisa dibandingkan dengan Sam Neill dan Laura Dern dalam 'Jurassic Park'. Dan tidak ada satu pun yang bisa menggantikan keeksentrikan Jeff Goldblum yang melenakan.

Chris Pratt dan Bryce Dallas Howard memang cukup berhasil untuk membuat karakter mereka menyenangkan meskipun sejujurnya terlihat begitu hampa. Kharisma mereka cukup kuat untuk menutup itu semua. Pratt berhasil membius penonton dengan gaya santai namun macho-nya, sementara itu Howard mengimbanginya dengan ke-bitchy-an yang pas.

Tapi, meskipun banyak catatan, Jurassic World tetap patut disimak karena ini adalah nostalgia yang menyenangkan. Ya, senang sekali rasanya melihat kembali pertempuran mendebarkan dengan makhluk-makhluk purba ini.

Candra Aditya penulis, pecinta film. Kini tengah menyelesaikan studinya di Jurusan Film, Binus International, Jakarta.

(mmu/mmu)