'Kingsman: The Secret Service': Dunia Agen Rahasia yang (Masih) Seksi

- detikHot
Kamis, 12 Feb 2015 11:25 WIB
Jakarta - Februari adalah bulan penuh cinta. Sebentar lagi bioskop akan dipenuhi dengan film-film bertema kasih sayang. 'Kingsman: The Secret Service', film terbaru Matthew Vaughn, memang bukanlah film cinta tapi dijamin setelah Anda menontonnya akan jatuh cinta. Film ini tidak hanya sangat menghibur tapi akan membuat Anda kembali kangen dengan film spionase yang menegangkan dan seru.

Film ini menceritakan tentang petualangan agen-agen super-rahasia yang berdomisili di Inggris. Dalam penjelasannya di tengah film, Harry (Colin Firth, dalam mode mematikan namun tetap tampil rapi ala bangsawan) menjelaskan bahwa apa yang membuat anggota Kingsman berbeda dengan agen intelejen yang lain adalah tidak ada omong kosong birokrat dengan pemerintahan. Itulah yang membuat kerahasiaan peran mereka benar-benar diutamakan. Dan, seperti film-film keren lainnya, film ini dimulai dengan tokoh serampangan bernama Eggsy (Taron Egerton, dalam definisi keren yang diinginkan semua aktor muda zaman sekarang) yang mendapatkan keistimewaan untuk mengikuti tes menjadi anggota Kingsman.

Ayah Eggsy adalah salah satu rekan Harry yang meninggal tujuh belas tahun yang lalu di sebuah misi rahasia di Timur Tengah. Hadirnya Eggsy yang serampangan —meskipun tentu saja mempunyai kecerdasan dan ketangkasan di atas rata-rata— menjadi bercandaan para calon rekrutan Kingsman yang baru. Tapi, Eggsy tidak peduli. Yang dia tahu adalah bersenang-senang dan mencoba menjadi yang terhebat. Dan, dimulailah tes-tes ekstrem untuk menjadi agen Inggris paling mematikan.

'Kingsman: The Secret Service' adalah adaptasi dari komik karangan Mark Millar dan Dave Gibbons. Bagi penggemar komik, nama Mark Millar tentu saja tak asing. Dua karyanya telah diangkat ke layar lebar dan menghasilkan pundi-pundi dollar yang lumayan. Baik 'Wanted' maupun 'Kick-Ass' tidak hanya menjadi film adaptasi komik yang sukses secara komersial, namun juga secara kualitas sangat unggul di antara film-film sejenis. Film ini merupakan kolaborasi kedua Jane Goldman sebagai penulis skrip dan Matthew Vaughn sebagai penulis dan juga sutradara terhadap karya Millar setelah 'Kick-Ass'.

Tidak bisa dipungkiri bahwa film ini seperti dibuat oleh —dan ditujukan kepada— orang-orang yang terlalu banyak menonton film-film James Bond. Agen rahasia yang tetap cool dan tampil suave 24/7? Tentu saja James Bond adalah biang keladinya. Tapi, baik Jane Goldman dan Matthew Vaughn sebagai pengadaptasi tahu bagaimana bersenang-senang. Terbukti dengan banyaknya inside joke yang bergelimangan di dalam film seputar James Bond atau bahkan film spionase secara umum. Lelucon-lelucon itu dibuat dengan sangat pintar. Misalnya ketika bos Kingsman (Michael Caine, sepintas namun benar-benar efektif) yang menanyakan kepanjangan nama anjing Eggsy, “James Bond? Jason Bourne?” Eggsy dengan santai menjawab, “Jack Bauer.” Lelucon ini tentu saja akan menguap begitu saja bagi penonton yang tidak tahu konteksnya.

Selain humor-humor yang keren, Goldman dan Vaughn juga berhasil membentuk karakter-karakter dalam film ini menyenangkan untuk diperhatikan. Eggsy memang menjadi satu-satunya karakter yang mempunyai perjalanan emosi yang lengkap, namun penjahatnya juga diberikan alasan yang kuat --walaupun tetap menjadi bercandaan. Karakter Richmond Valentine (Samuel L. Jackson, sengaja cadel untuk menjadi tolol) dan tangan kanannya Gazelle (Sofia Boutella, membuat semua penjahat Bond yang seksi terlihat seperti Dijah Yellow) mempunyai alasan yang jenius untuk menghancurkan dunia. Tidak ada obsesi materi dan haus kekuasaan. Alasannya untuk menyelamatkan bumi memang ekstrem --serial Inggris 'Utopia' dan komik '20th Century Boys' mempunyai ide yang sama tapi dengan eksekusi yang sama sekali berbeda-- tapi tetap saja berbeda. Dan, fakta bahwa sebagai seorang penjahat Valentine takut akan darah menjadi lelucon tersendiri.

Sebagai sutradara Mattthew Vaughn mempunyai kualitas yang membanggakan. Hampir di setiap film barunya dia memberikan sesuatu yang baru. Setelah menjadi orang nyinyir dalam 'Kick-Ass', kemudian me-reboot superhero yang dicintai semua orang dalam 'X-Men: The First Class', Vaughn mempersembahkan karya terbaiknya dalam 'Kingsman: The Secret Service'. Pilihan aktornya tidak ada yang meleset, secara visual cukup menggetarkan dan pengadeganan adegan-adegan aksi membuat 'Skyfall' yang dibuat dengan lima kali bujet film ini mempunyai tandingan.
 
Satu-satunya 'kekurangan' film ini adalah ke-Inggris-annya yang mungkin akan membuat penonton agak asing. Referensi James Bond yang bisa ditemukan baik secara visual —kudos kepada production designer Paul Kirby— dan musik (oleh Henry Jackman, langganan Vaugn) membuat film ini terlalu asik dengan dunianya. Tapi, itu hanyalah remah-remah tidak penting. 'Kingsman: The Secret Service' adalah tontonan yang menyenangkan, seru, seksi dan sangat lucu. Setelah itu, mari kita berharap Matthew Vaughn mendapat panggilan untuk menyutradarai film James Bond selanjutnya.

Candra Aditya penulis, pecinta film. Kini tengah menyelesaikan studinya di Jurusan Film, Binus International, Jakarta.

(mmu/mmu)