'Her': Apakah Kita Bisa Mencintai Yang Tak Nyata?

'Her': Apakah Kita Bisa Mencintai Yang Tak Nyata?

- detikHot
Kamis, 13 Mar 2014 11:15 WIB
Her: Apakah Kita Bisa Mencintai Yang Tak Nyata?
Jakarta - Masa depan, dalam film panjang keempat Spike Jonze, tidak seliar film-film futuristik pada umumnya. Orang-orang tidak tinggal di sebuah rumah yang melayang, tidak ada motor terbang, monyet masih berada dalam kandang dan tidak menguasai dunia. Juga, tidak ada tanda-tanda bahwa alien atau robot menginvasi manusia. Satu-satunya yang membedakan masa kini dan masa depan, menurut Spike Jonze, adalah kecanggihan komputer-komputernya. Sisanya sama. Manusia masih mencoba untuk mencari cara mengatasi rasa kesepian, seperti yang dirasakan oleh sang tokoh utama kita, Theodore (Joaquin Phoenix).

Bekerja sebagai pembuat surat, Theo masih belum bisa mengisi kekosongan harinya setelah berpisah dengan istrinya, Catherine (Rooney Mara). Hidupnya berjalan sebagai rutinitas kecil-kecil yang membosankan: bekerja, pulang, main game, tidur dan besoknya ia akan melakukan hal yang sama. Sampai suatu hari sebuah sistem operasi menyediakan update-an terbaru artificial intellegence (A.I) system dan Theo pun mencobanya.

A.I yang sekilas mirip Siri itu membuat Theo terkesan. Menamakan dirinya Samantha (disuarakan oleh Scarlett Johansson), A.I tersebut sanggup melakukan pembicaraan layaknya manusia normal umumnya. Hampir tidak ada yang tidak bisa dilakukan Samantha, mulai dari mengecek email, mengingatkan jadwal sampai membangunkan Theo di pagi hari. Dan, seiring berjalannya waktu, Theo tiba pada suatu masa ketika dia mulai jatuh cinta dengan Samantha. Anehnya --atau kerennya?-- Samantha juga merasakan hal yang sama. Maka, tibalah kita pada pertanyaan abad 21: bisakah manusia jatuh cinta pada sebuah program komputer?

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Spike Jonze bukan nama sembarangan di dunia film. Kariernya dimulai dari tahun 90-an ketika dia gemar menyutradarai video klip musisi-musisi keren Weezer, Beastie Boys dan Bjork. Begitu selektifnya memilih proyek, sejauh ini Jonze hanya membuat empat film panjang yang kesemuanya menunjukkan betapa jenius pria yang kini berumur 44 tahun ini. 'Being John Malkovich' menunjukkan betapa terobsesinya manusia untuk menjadi orang lain. 'Adaptation', kolaborasi keduanya dengan Charlie Kauffman, menunjukkan bahwa ia bisa mengaburkan batas antara fiksi dan kenyataan. 'Where The Wild Things Are' adalah bukti bahwa Jonze bisa memvisualkan sesuatu yang mungkin sebelumnya tak terpikirkan oleh orang lain bisa difilmkan.

Kini, lewat 'Her', Jonze membuktikan bahwa dia bisa membuat orang jatuh cinta dengan hal yang tidak nyata. Film yang ditulisnya sendiri ini adalah sebuah roller coaster emosi bagi siapapun yang pernah merasakan jatuh cinta atau berada dalam sebuah relationship. Setiap momen yang tergambar di layar --dibantu dengan sinematografi yang dahsyat oleh Hoyte van Hoytema-- menularkan virus cinta yang ampuh. Color pallette berwarna jingga yang mendominasi sepanjang film --kudos kepada production designer K.K Barrett-- jelas ikut mendukung nuansa ini. Musik dari musisi hipster macam Arcade Fire dan Karen O dengan lagunya 'Moon Song' yang masuk nominasi Oscar kemarin juga tidak ketinggalan menyumbang nilai bagi film ini.

Jonze, yang baru saja memenangkan Oscar pertamanya untuk kategori penulisan skenario asli, tidak hanya memberikan karakter-karakter "biasa" yang unik namun juga interaksi per karakter yang sederhana namun dalam. Tidak hanya interaksi antara Theo dan Samantha yang jelas menjadi highlight film ini, tapi interaksi antara Theo dan sahabatnya Amy (Amy Adams) juga menghangatkan dan nyata. Dialog-dialognya tidak hanya quote-able ("Falling in love is a crazy thing to do. It's kind of like a form of socially acceptable insanity.") tapi juga begitu menusuk ulu hati saking relevannya.

Joaquin Phoenix, yang terkenal dengan peran-peran aneh dan nyeleneh kali ini menghidupkan sosok pria kebanyakan, namun begitu tersiksa. Amy Adams juga memiliki chemistry yang bagus dengan Phoenix sebagai tetangga/sahabat yang selalu kompak. Namun, pahlawan dalam 'Her' memang Scarlett Johansson. Anda tidak akan melihat sosoknya sama sekali dalam film ini. Namun, suaranya yang seksi, penuh perasaan dan tidak jarang menjadi manipulatif adalah kendaraan yang membuat 'Her' terasa nyata. Dengan suaranya, Anda pun akan mempercayai bahwa siapapun bisa mencintai sistem operasi ini.

Ending 'Her' memang dibuat dengan begitu realistis --kalau Anda mau menghindari kata "kejam". Her adalah jawaban bagi generasi pengguna Twitter: apakah manusia bisa mencintai sesuatu yang tidak nyata? Ini juga sekaligus jawaban Spike Jonze kepada dunia perfilman atas pertanyaan, "Apakah masih ada yang bisa membuat film cinta di abad 21 yang original dan relevan?" Her bukan sekedar film, ini adalah sebuah pengalaman.

Candra Aditya penulis, pecinta film. Kini tengah menyelesaikan studinya di Jurusan Film, Binus International, Jakarta.

(mmu/mmu)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads