Bekerja sebagai pembuat surat, Theo masih belum bisa mengisi kekosongan harinya setelah berpisah dengan istrinya, Catherine (Rooney Mara). Hidupnya berjalan sebagai rutinitas kecil-kecil yang membosankan: bekerja, pulang, main game, tidur dan besoknya ia akan melakukan hal yang sama. Sampai suatu hari sebuah sistem operasi menyediakan update-an terbaru artificial intellegence (A.I) system dan Theo pun mencobanya.
A.I yang sekilas mirip Siri itu membuat Theo terkesan. Menamakan dirinya Samantha (disuarakan oleh Scarlett Johansson), A.I tersebut sanggup melakukan pembicaraan layaknya manusia normal umumnya. Hampir tidak ada yang tidak bisa dilakukan Samantha, mulai dari mengecek email, mengingatkan jadwal sampai membangunkan Theo di pagi hari. Dan, seiring berjalannya waktu, Theo tiba pada suatu masa ketika dia mulai jatuh cinta dengan Samantha. Anehnya --atau kerennya?-- Samantha juga merasakan hal yang sama. Maka, tibalah kita pada pertanyaan abad 21: bisakah manusia jatuh cinta pada sebuah program komputer?
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kini, lewat 'Her', Jonze membuktikan bahwa dia bisa membuat orang jatuh cinta dengan hal yang tidak nyata. Film yang ditulisnya sendiri ini adalah sebuah roller coaster emosi bagi siapapun yang pernah merasakan jatuh cinta atau berada dalam sebuah relationship. Setiap momen yang tergambar di layar --dibantu dengan sinematografi yang dahsyat oleh Hoyte van Hoytema-- menularkan virus cinta yang ampuh. Color pallette berwarna jingga yang mendominasi sepanjang film --kudos kepada production designer K.K Barrett-- jelas ikut mendukung nuansa ini. Musik dari musisi hipster macam Arcade Fire dan Karen O dengan lagunya 'Moon Song' yang masuk nominasi Oscar kemarin juga tidak ketinggalan menyumbang nilai bagi film ini.
Jonze, yang baru saja memenangkan Oscar pertamanya untuk kategori penulisan skenario asli, tidak hanya memberikan karakter-karakter "biasa" yang unik namun juga interaksi per karakter yang sederhana namun dalam. Tidak hanya interaksi antara Theo dan Samantha yang jelas menjadi highlight film ini, tapi interaksi antara Theo dan sahabatnya Amy (Amy Adams) juga menghangatkan dan nyata. Dialog-dialognya tidak hanya quote-able ("Falling in love is a crazy thing to do. It's kind of like a form of socially acceptable insanity.") tapi juga begitu menusuk ulu hati saking relevannya.
Joaquin Phoenix, yang terkenal dengan peran-peran aneh dan nyeleneh kali ini menghidupkan sosok pria kebanyakan, namun begitu tersiksa. Amy Adams juga memiliki chemistry yang bagus dengan Phoenix sebagai tetangga/sahabat yang selalu kompak. Namun, pahlawan dalam 'Her' memang Scarlett Johansson. Anda tidak akan melihat sosoknya sama sekali dalam film ini. Namun, suaranya yang seksi, penuh perasaan dan tidak jarang menjadi manipulatif adalah kendaraan yang membuat 'Her' terasa nyata. Dengan suaranya, Anda pun akan mempercayai bahwa siapapun bisa mencintai sistem operasi ini.
Ending 'Her' memang dibuat dengan begitu realistis --kalau Anda mau menghindari kata "kejam". Her adalah jawaban bagi generasi pengguna Twitter: apakah manusia bisa mencintai sesuatu yang tidak nyata? Ini juga sekaligus jawaban Spike Jonze kepada dunia perfilman atas pertanyaan, "Apakah masih ada yang bisa membuat film cinta di abad 21 yang original dan relevan?" Her bukan sekedar film, ini adalah sebuah pengalaman.
Candra Aditya penulis, pecinta film. Kini tengah menyelesaikan studinya di Jurusan Film, Binus International, Jakarta.
(mmu/mmu)











































