'About U' MUNA; Di Sini untuk Sebuah Misi

Yarra Aristi - detikHot
Rabu, 14 Jun 2017 11:46 WIB
Foto: Istimewa
Jakarta -

MUNA adalah tiga perempuan pengusung musik synth pop yang terdiri dari Katie Gavin (vokal), Josette Maskin (gitar), and Naomi McPherson (gitar). Beberapa media menyebut genre musik mereka sebagai dark pop, yakni pop dengan sentuhan instrument dark wave.

Namun agaknya predikat ini cukup berat untuk disandang, karena ketika mendengarkan keseluruhan materi album About U, mereka terlalu manis untuk disebut sebagai penggagas dark pop. Kita bisa mengkategorikan MUNA dengan lebih sederhana, yaitu mengusung synth-pop dengan sentuhan R&B dan new wave.

Berasal dari Los Angeles, California, mereka mengakui bahwa mereka adalah bagian dari kaum LGBT dan memproklamirkan diri sebagai pembela pergerakan kaum tersebut. Maka itu, kisah cinta yang dikisahkan pada lirik-lirik lagunya terasa sedikit berbeda.

Alih-alih menceritakannya secara gamblang mengenai percintaan sesama jenis, kisah mengenai jatuh cinta, dimabuk asmara, patah hati mereka ceritakan secara bias dan menawan.

About U merupakan sebuah karya yang menawarkan produksi handal dan melodi-melodi rancak. Mereka banyak memberikan polesan lebih pada departemen vokal, yang selalu muncul berlapis, atau berefek vocoder, yang sering sekali membuat benak kita mengawang pada vokal Imogen Heap.

Simak saja hit mereka "I Know a Place" yang super catchy, atau "Loudspeaker" yang akan membawa Anda kembali ke tahun '80-an. "Loudspeaker" merupakan sebuah narasi mengenai pengalaman pribadi Gavin, sang vokalis, di mana menceritakan perasaannya.

Dalam sebuah wawancara ia mengatakan lagu ini terinspirasi juga dari betapa umumnya pelecehan seksual pada perempuan itu terjadi.

Ada "End of Desire" yang kental akan komponen new wave terasa kontras dengan vokal berbisik yang berlapis. "After" bercerita mengenai lamunan dini hari setelah sebelumnya terjadi kisah cinta yang singkat, "If U Love Me Now" merupakan gambaran betapa rumitnya sebuah hubungan percintaan.

Topik ini pun mereka ceritakan pada "Crying On the Bathroom Floor", mengenai terjebak dalam sebuah hubungan yang menyengsarakan dalam aransemen yang gelap.

Satu lagi yang mencuri perhatian adalah "Winterbreak", yang menghadirkan nuansa yang lebih mengawang, dengan efek vokal berlapis. Lagu yang bercerita tentang sebuah cinta yang lama hilang ini bertutur mengenai luka lama, keinginan untuk bersama yang tidak mungkin, dan kepercayaan terpendam yang pada akhirnya tidak menjadi nyata.

Sementara "Everything" adalah track menuju akhir yang sangat lirih dan emosional, masih dengan vokal berlapis, gitar yang jauh mengawang, serta sampling dan drums yang diselimuti echo tebal.

Trio ini sukses menghantarkan berbagai topik menarik yang selalu dialami oleh perempuan. Apakah itu cinta, kecewa, patah hati, hingga makna tersirat yang bermaksud membela kaum perempuan. Mereka di sini untuk sebuah misi, entah untuk kesetaraan atau sekedar menceritakan isi hati.



(ken/ken)