'Gloss Drop' - Battles: Matematika Rumit yang Menyenangkan

'Gloss Drop' - Battles: Matematika Rumit yang Menyenangkan

- detikHot
Jumat, 10 Jun 2011 11:26 WIB
Gloss Drop - Battles: Matematika Rumit yang Menyenangkan
Jakarta - Battles muncul di blantika musik sebagai salah satu pengusung progressive rock modern (atau lebih bergengsi jika disebut math rock) dengan aransemen yang teknis dan tergolong rumit. Bagaikan sebuah soal matematika dengan rumus-rumus membingungkan, jawabannya harus dipecahkan dengan berkutat sehari-semalam. Biasanya musik mereka dilengkapi dengan vokal yang bukannya bernyanyi, melainkan mengikuti pattern drum atau melodi gitar (Anda bisa mendengarkan kembali album 'Mirrored' pada track 'Ddiamondd').

Pada 2010, Tyondai Braxton (gitar, vokal, keyboard) pergi meninggalkan band. Sebuah kekhawatiran muncul mengingat Tyondai dianggap sebagai personel yang telah menorehkan sisi menyenangkan pada aransemen musik Battles. Namun ternyata hal tersebut pada akhirnya tidak menjadi masalah besar. Sebab, pada 2011 band asal New York ini merilis album kedua yang bertajuk 'Gloss Drop'.

Terlihat dari sampul albumnya yang menampilkan gumpalan permen karet berwarna merah jambu dengan latar putih bersih, seolah mengesankan bahwa mereka berniat mempersembahkan musik mereka dari sisi yang lebih menyenangkan, sisi yang lebih ceria dan berwarna. Dan benar saja, eksperimen nada yang menjamah mood ceria sangat kental di sini.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Walaupun mereka membukanya dengan 'Africastle' yang sedikit menghantui dengan layer-layer gitarnya yang mencekam dan masuk ke aransemen instrumental yang sedikit mengingatkan kita pada Holy Fuck (band electro eksperimental asal Ontario, Canada), namun kemudian muncullah 'Ice Cream' yang cukup mencengangkan. Mencengangkan dalam artian, lagu ini sangatlah menyenangkan untuk didengarkan, lebih berwarna, fun, playful, dan sangat berbeda dari lagu-lagu mereka sebelumnya.

Dalam album ini, mereka menggaet Matias Aguayo, salah satu dedengkot electronica asal Chili. Sound gitar dan keyboard pada album ini seperti terinspirasi dengan nuansa tropis. Coba simak 'Dominican Fad' atau 'Inchworm', yang senantiasa akan mengingatkan Anda pada nuansa kepulauan Karibia. Ini sudah tentu merupakan salah satu faktor yang menyebabkan musik Battles terdengar lebih friendly.

Beberapa kolaborasi pun terjadi dalam album ini. Setelah Matias Aguayo, ada pula Kazu Makino (Blonde Redhead) dalam track 'Sweetie & Shag' yang memberikan sentuhan feminin yang quirky. Gary Numan, salah satu pionir dalam ranah musik elektronik ikut ambil andil di sini, menyumbangkan karakternya yang gelap dan penuh teror dalam 'My Machine'.

Jika Anda sedari dulu mengagumi ramuan musik Battles dengan segala kerumitannya, mungkin Anda akan merindukan hal tersebut di sini. Karena Gloss Drop jelas terdengar lebih ringan, dengan aransemen yang lebih loose, sehingga lebih cepat dan mudah dicerna bagi siapapun yang telinganya sama sekali tidak bisa menerima musik mereka dengan baik dan benar. Namun jangan khawatir, mereka tentu tidak akan meninggalkan ciri khas mereka.

Kerinduan Anda akan terbayar ketika mendengarkan track 'My Machines', 'White Electric', dan 'Wall Street' yang masih jumawa. Kesimpulan yang bisa saya tarik setelah mendengarkan album Gloss Drop: setidaknya kali ini soal matematika yang sulit itu sedikit demi sedikit telah terpecahkan.

(mmu/mmu)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads