Souljah
Dari Jepang ke Indonesia, Dari Ska ke Jamaika
Jumat, 20 Mei 2005 16:14 WIB
Jakarta - Ketika band-band lokal berlomba-lomba go international, Arigatoo malah mengawali karir bermusik di negeri seberang. Band yang terbentuk tahun 1998 itu ikut dalam album kompilasi "Asian Ska Foundation" yang diproduksi sebuah label asal Jepang pada 2003 lalu. Setahun berselang, band yang sebagian personelnya adalah lulusan Universitas Indonesia (UI) itu merilis album perdana. Judulnya, "Kami Bukan Perawan Lagi". Sayangnya album tersebut tidak meledak di pasaran. Strategi pun disusun ulang. Para personelnya ingin band mereka bergairah kembali. Keputusannya, Arigatoo berganti nama menjadi Souljah. Nama ini diambil dari bahasa Inggris 'Soldier' yang diucapkan dengan logat Jamaika. Mengapa logat Jamaika? Karena aliran musik mereka pun berganti dari ska menjadi nuansa Jamaika. "Dengan mengekspresikan ide-ide yang mengakar dari musik Jamaika, kami merasa lebih bebas," ujar para personelnya. Gairah menggebu-gebu, karya pun bergulir deras. Maret 2005, Danar (vocalist), Renhat (bassist), Bayu (guitarist), Dimas (drummer), Said (rap/toasting) dan David (trumpet/keyboard) merilis album "Souljah Breaking the Roots". Agar albumnya laris manis, sederet bintang ternama pun digandeng. Ada model dan presenter seksi Happy Salma yang mengisi vokal pada lagu berjudul 'Magenta'. Ada juga penyanyi keroncong Sundari Soekotjo pada lagu 'Lelaki'. Grup hip-hop Soulid juga tak ketinggalan muncul di lagu 'All I Know'. Mengklaim sebagai album yang segar, pintar dan mengejutkan, Souljah yakin album"Breaking the Roots" akan lebih sukses dibanding "Kami Bukan Perawan Lagi". Souljah pun optimis bisa berkiprah di industri musik Indonesia. Buktinya, album yang lebih liar dan kreatif sedang digarap untuk dijadwalkan rilis 2006 besok. (ine/)











































