Taylor Hawkins: Queen, Wanita, dan Foo Fighters

ADVERTISEMENT

Round Up

Taylor Hawkins: Queen, Wanita, dan Foo Fighters

Asep Syaifullah - detikHot
Sabtu, 26 Mar 2022 22:04 WIB
LONDON - JULY 07:  Taylor Hawkins of American rock band Foo Fighters plays with the SOS Allstars on stage during the Live Earth concert held at Wembley Stadium on July 7, 2007 in London. Live Earth is a 24-hour, 7-continent concert series taking place on 7/7/07, bringing together more than 100 music artists and 2 billion people to trigger a global movement to solve the climate crisis.  (Photo by Gareth Cattermole/Getty Images)
(Foto: Getty Images/Gareth Cattermole)
Jakarta -

Rambut pirang panjang dengan berewok menjadi ciri khas dari penampilan Taylor Hawkins, sang drummer Foo Fighters. Sosok garang yang ditunjukkannya itu ternyata untuk menutupi sifat lembut yang terbawa dari sang ibu, Elizabeth Ann Hawkins.

Taylor kecil tumbuh dalam keluarga yang lumayan harmonis. Sang ayah, Terry, merupakan sosok yang keras dan selalu mendidik anak-anaknya dengan penuh disiplin yang berbanding terbalik dengan sang ibu.

Ia pun mengingat dengan jelas betapa dirinya selalu mencoba untuk tampil bernyanyi dan menari hanya untuk membahagiakan ibunya yang sangat menyukai musik.

Pada 1982, Taylor diajak oleh sang ibu untuk menyaksikan konser Queen yang menjadi pengalaman pertamanya melihat konser rock. Pengalaman itu pun begitu membekas untuknya hingga membuatnya bermimpi bisa ada di atas panggung.

"Aku berkata pada ibuku, 'Aku akan bermain di stadion tersebut suatu hari nanti,'" kenangnya dalam wawancara bersama The Sydney Morning Herald.

Meski kerap ditentang oleh sang ayah, Taylor pun tetap ngotot mencurahkan hidupnya lewat musik. Hal itu dilakukannya karena dukungan sang ibu dan tatapan bangganya saat melihat dia bermain drum.

Pengakuan itu pun membuat Taylor semakin bersemangat untuk berlatih drum.

"Saat aku pertama kali bermain drum, ia adalah yang pertama menyaksikannya. Ia adalah pendukung terbesarku dan selalu mengatakan aku bisa melakukannya. Ia sangat berbeda dengan ayahku yang dingin, seperti halnya pria era 70'an pada umumnya," ungkapnya.

Ada masa sulit yang dialami oleh Taylor Hawkins dalam mengejar mimpi. Sang ayah kerap kali memarahinya untuk berhenti nge-band dan memilih fokus ke sekolah atau pun menjadi pegawai kantoran.

Ia pun selalu dibanding-bandingkan dengan saudara-saudaranya yang sukses sebagai pengusaha, sementara dirinya masih tak memiliki penghasilan tetap dan tinggal bersama orang tuanya itu.

LONDON - JULY 07:  Taylor Hawkins of American rock band Foo Fighters plays with the SOS Allstars on stage during the Live Earth concert held at Wembley Stadium on July 7, 2007 in London. Live Earth is a 24-hour, 7-continent concert series taking place on 7/7/07, bringing together more than 100 music artists and 2 billion people to trigger a global movement to solve the climate crisis.  (Photo by Gareth Cattermole/Getty Images)Salah satu panggung Taylor Hawkins bersama Foo Fighters. Foto: Getty Images/Gareth Cattermole

Namun kariernya pun perlahan mulai meningkat, apalagi saat dirinya direkrut oleh Alanis Morissette pada 1995. Ia pun ikut tur bersamanya hingga ke Australia.

Nama Alanis Morissette kala itu memang tengah moncer-moncernya. Tak heran Taylor pun berkenalan dengan sejumlah musisi lewat tur tersebut. Bahkan Radiohead pun sempat jadi pembuka tur mereka pada 1996 lalu.

"Karier bermusikku dimulai karena wanita. Aku berhutang banyak padanya (Alanis Morissette). Aku juga sempat rekaman dengan beberapa musisi wanita seperti Coattail Riders, Get the Money: Chrissie Hynde, LeAnn Rimes dan Heart's Nancy Wilson. Aku juga sempat meminta Olivia Newton-John untuk berkolaborasi namun manajemennya tak membalasku. Mungkin suatu hari nanti," papar Taylor Hawkins.

Dari sanalah ia mulai berkenalan dengan Dave Grohl, yang kala itu baru merilis album perdana dengan Foo Fighters. Dave yang bersitegang dengan mantan drummer-nya yakni William Goldsmith kala mempersiapkan album kedua mereka pun langsung mengajak Taylor untuk bergabung dengannya.

Namun Dave Grohl tak terlalu berharap banyak karena mengingat nama Alanis Morissette yang lebih beken dibandingkan bandnya itu.

LONDON - JULY 07:  Taylor Hawkins of American rock band Foo Fighters plays with the SOS Allstars on stage during the Live Earth concert held at Wembley Stadium on July 7, 2007 in London. Live Earth is a 24-hour, 7-continent concert series taking place on 7/7/07, bringing together more than 100 music artists and 2 billion people to trigger a global movement to solve the climate crisis.  (Photo by Gareth Cattermole/Getty Images)Taylor Hawkins di balik drum. Foto: Getty Images/Gareth Cattermole

Gayung pun bersambut, Taylor Hawkins ternyata memang memimpikan untuk menjadi drummer dan mempunyai band sendiri dibandingkan menjadi musisi pengiring.

Pada 18 Maret 1997 ia resmi bergabung dengan Foo Fighters dan bertahan hingga akhir hayatnya itu.

Bersama Foo Fighters, Taylor Hawkins mengeksplorasi seluruh musikalitasnya. Ia tak hanya sekadar pemain drum, ia juga menulis lagu, mengisi part gitar, piano dalam beberapa lagu band tersebut.

Kariernya pun semakin moncer dengan Foo Fighters, bahkan pada 2005 lalu ia dinobatkan sebagai Best Rock Drummer pada majalah Rhythm.

Dalam wawancaranya bersama Rolling Stones, Dave Grohl pun sempat mengungkapkan kesuksesan Foo Fighters tak jauh dari andil Taylor Hawkins.

"Ku rasa Taylor terlalu merendahkan betapa pentingnya ia untuk band ini. Mungkin karena ia bukan drummer pertama, namun ya Tuhan apa yang bisa kami lakukan tanpa Taylor Hawkins? Bisakah kau bayangkan? Itu mungkin akan jadi hal yang berbeda," ujarnya pada wawancara tahun lalu.

Namun perjalanan musiknya bersama Dave Grohl Cs terhenti pada 25 Maret 2022 atau tepatnya 25 tahun sejak ia bergabung. Taylor Hawkins ditemukan meninggal dunia di kamar hotelnya di Bogota, Kolombia.

Ia wafat pada usia 50 tahun menjelang penampilan mereka di festival Estereo Picnic di sana.

(ass/aay)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT