Dewa Budjana hingga Trie Utami Mainkan Alat Musik yang Ada di Relief Candi Borobudur

Eko Susanto - detikHot
Jumat, 09 Apr 2021 10:45 WIB
Sound of Borobudur yang berlangsung di Omah Mbudur, Jowahan, Wanurejo, Borobudur, Kabupaten Magelang, Kamis (8/4/2021).
Dewa Budjana. Foto: Eko Susanto/detikcom
Magelang -

Sejumlah musisi Tanah Air memainkan alat musik yang tergambar dalam replika dari relief Candi Borobudur, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah. Musisi yang memainkan ini ada Dewa Budjana, Trie Utami, Bintang Indrianto, Purwacaraka, dan lain-lain.

Penampilan itu bertajuk Sound of Borobudur. Mereka tampil di Omah Mbudur, Jowahan, Wanurejo, Kecamatan Borobudur, Kabupaten Magelang.

Alunan musik dari alat yang ada terdengar merdu sekali. Alat musik yang dimainkan tersebut merupakan replika dari relief di Candi Borobudur.

"Ya, ini kelanjutan seperti saya bilang lima tahun lalu ketika saya cuman diajak kesini (Candi Borobudur) akhirnya dapat pengetahuan tentang relief yang bukan hanya buat foto-foto. Kami dulu tahunya kesini berdarmawisata foto, ternyata apa yang ada di seluruh dunia ini tergambarkan di candi ini. Jadi boleh dibilang kayak perpustakaan semua ada disini," kata Dewa Budjana kepada wartawan ditemui di Omah Mbudur, Jowahan, Wanurejo, Borobudur, Kamis (8/4/2021).

"Dari situ tergeraklah, kita waktu itu saya sama Iie (Tri Utami), nyoba mereplika instrumennya, terus gimana membunyikan dengan tentunya dengan cara sekarang karena saya sendiri belum lahir zaman dulu. Coba-coba itu cukup lama prosesnya sampai akhirnya dapat komposisi dan kami garap dibantu sama Mas Bintang Indrianto, kita garap akhirnya jadi seperti tadi," ujarnya lagu

Dewa Budjana mengatakan ada ratusan alat musik tergambarkan di relief Candi Borobudur. Untuk itu, dia berandai, jika dulunya ada sebuah orkestra yang berlangsung di Borobudur, juga tidak ada yang mengetahuinya. Maka bunyi yang ia hasilkan pun merupakan hasil interpretasi dirinya

"Instrumen lain kayak tiup yang ada misalnya di Thailand, 'Lho kenapa bisa disini (relief) semua tergambarkan' apa mungkin dulu ada sebuah orkestra di sini, kita nggak ada yang tahu kalau itu, makanya kalau saya ditanya soal tanggung jawab bunyi itu interpretasi saat ini," tuturnya.

Sound of Borobudur yang berlangsung di Omah Mbudur, Jowahan, Wanurejo, Borobudur, Kabupaten Magelang, Kamis (8/4/2021).Sound of Borobudur yang berlangsung di Omah Mbudur, Jowahan, Wanurejo, Borobudur, Kabupaten Magelang, Kamis (8/4/2021). Foto: Eko Susanto/detikcom

Sementara itu, Trie Utami menambahkan, Sound of Borobudur yang dipentaskan dulu berbeda. Dulu digarap seadanya dan yang terpenting berbunyi, kemudian sekarang 200 alat sudah ada.

"Jelas dengan yang dulu lain, dulu seadanya yang penting bunyi, nggak cuman gagasan, wacana besar, terus kerja besar, lima tahun bolak-balik sekarang ya sudah 200 alat sesuai relief," ujarnya.

Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo, yang hadir melihat langsung mengatakan, Sound of Borobudur sebenarnya reinventing yang dahsyat. Sejumlah musisi melakukan riset mengeksplorasi alat musik yang ada di relief, kemudian direplika dan dibunyikan.

"Jadi ini sebenarnya seperti reinventing, penemuan kembali yang dahsyat karena waktu itu, kami sudah diskusi, kita ada webinar bahwa ada beberapa orang yang nekad. Ada Kang Purwa, terus kemudian ada Mbak Iie, ada Dewa Budjana, yang mengeksplor tentu banyak juga ilmuwan-ilmuwan yang terlibat. Mencatat dari seluruh relief dan ditemukannya alat-alat musik itu," kata Ganjar.

Mimpi para musisi itu, katanya, bukan hanya sekadar membuat, namun membunyikan. Mereka yang melakukan riset dengan hipotesis 'Borobudur memang pusat seni', pusat musik dunia atau justru sebaliknya

"Mimpi mereka adalah bagaimana itu bunyi, tidak hanya sekadar dibuat replikanya, tapi bunyi dan itulah kerja-kerja seni yang sangat luar biasa. Risetnya tidak selesai membunyikan dicari sebenarnya dengan hipotesis 'apakah Borobudur itu memang pusat seni, pusat musik dunia' atau sebaliknya kita tempat bertemunya peralatan musik, instrumen seluruh dunia yang mana," ujarnya.

"Hipotesis ini akan diuji dalam perkembangan, maka satu bentuk seperti gitar itu di banyak tempat namanya beda-beda. Satu bentuk kendang itu ternyata namanya beda-beda dan itulah yang kemudian mengkristalkan mereka untuk bersemangat membuat replikanya, memainkan dan jadilah musik itu," sambung Ganjar.

Adapun kelanjutannya, kata Ganjar, pertama bagaimana alat musik ini diproduksi. Kemudian, yang kedua bagaimana dimainkan dan dilakukan workshop. Keberadaan alat-alat musik ini bisa memperkaya Borobudur.

"Nah, tugas berikutnya adalah bagaimana alat musik ini, satu bisa diproduksi, dua dimainkan, ada workshop-nya dan kedua bisa menjadi bagian yang memperkaya Borobudur. Jadi menurut saya ini kesuksesan dari reinventing dari peralatan musik yang ada relief Borobudur dan ini menunjukkan peradaban yang luar biasa. Ini sekali lagi menunjukkan bahwa Candi Borobudur itu pusat peradaban yang sebenarnya. Ini baru seni ya, belum tadi kita bicara lingkungan, tanaman, relasi dengan antar manusia, nilai-nilai dan seabreklah kekayaan yang terpahat disana," ungkapnya.



Simak Video "Taman Wisata Candi Borobudur Bersiap Dibuka untuk Wisatawan"
[Gambas:Video 20detik]
(srs/srs)