Dalami Frekuensi, Kunto Aji Jalankan Riset untuk Album Selanjutnya

Dyah Paramita Saraswati - detikHot
Kamis, 24 Sep 2020 11:27 WIB
Kunto Aji launching single baru Konon Katanya di kawasan Kemang.
Kunto Aji. Foto: Ismail/detikHOT
Jakarta -

Kunto Aji menggunakan frekuensi 396 Hz yang menurut penelitian dapat mengeluarkan pikiran negatif dan memberikan ketenangan dalam lagu Rehat untuk album Mantra Mantra. Sejak itu, dirinya tertarik untuk mendalami dan mempelajari perihal frekuensi suara yang bisa memberikan berbagai macam efek.

Penelitian mengenai frekuensi suara itu telah lama dikenal dengan sebutan Solfeggio Frequencies. Dirinya tertarik untuk mempelajari hal itu, sebab baginya, segala macam bunyi dapat memberikan perasaan yang berbeda.

"Kenapa musik bisa diciptakan pasti ada sesuatu yang dirasain makanya mereka melakukan itu," ujar Kunto Aji dalam wawancara dengan detikcom, baru-baru ini.

Musikus kelahiran 4 Januari 1987 itu mencontohkan, genderang perang yang merupakan tanda mulainya peperangan rupanya bisa memberikan semangat pada para pasukan yang tengah berperang melalui bebunyian.

Dia juga mencontohkan bagaimana scoring dari film horor dapat membuat suasana lebih mencekam dan memberikan rasa takut pada penonton.

"Dari situ pola pikir saya terhadap musik berkembang lagi setelah album pertama, sebenernya musik itu sejauh itu perannya untuk manusia, karena musik itu frekuensi, bisa bukan hanya sekadar mengungkapkan kata hati dari lirik," kata dia.

PenyanyiKunto Aji. Foto: Asep Syaifullah

"Kadang musik yang nggak ada liriknya pun tetap bisa membangun mood tertentu yang seragam," sambungnya.

Atas dasar itu, Kunto Aji mulai berpikir bisa saja frekuensi digunakan untuk menghasilkan perasaan yang menenangkan dan menyehatkan jiwa.

"Saya berpikir pasti ada dimana musik atau frekuensi yang digunakan tanpa lirik, notasi saja, itu bisa membuat orang rileks, berkontemplasi menemukan apa yang belum dia temukan. Diperkuat lagi oleh lirik," ungkapnya.

Berangkat dari hal itu, Kunto Aji pun kini tengah mencoba mengembangkan riset yang berkaitan dengan frekuensi. Dirinya mengatakan riset itu sebenarnya hanyalah riset berskala kecil yang akan dia aplikasikan untuk album maupun proyek musik berikutnya yang dia ciptakan.

"Risetnya masih panjang sebenernya, karena saya sendiri yakin nggak mungkin selesai dalam dua tiga tahun, saya butuh bertemu orang untuk melakukan riset yang mendalam tentang itu," tutur dia.

"Jadi memang ada beberapa hal yang coba saya riset, meskipun risetnya masih panjang, untuk di album-album berikutnya gimana musik ini untuk bisa menjadikan fungsinya. Fungsi musik ini bukan hanya sekadar didengar saja, tapi juga bisa membantu kita," lanjut Kunto Aji.

Dalam penelitiannya, Kunto Aji mencoba melakukannya metode kuantatif. Dirinya akan mengambil sampel dari orang-orang untuk mendengarkan musik pada frekuensi tertentu. Namun dirinya tidak keberatan apabila nantinya riset yang ia lakukan dapat dikembangkan menjadi metode kualitatif.

Hanya saja Kunto Aji menekankan risetnya tersebut bukan ditujukan untuk menghasilkan temuan akademik baru. Melainkan memang dibuat untuk diaplikasikan pada musik pop, termasuk lagu-lagunya.

"Sejauh ini saya sudah bertemu dengan orang-orang yang mempelajari frekuensi itu, cuman riset juga panjang, kami butuh sample orang yang mendengarkan dan lain-lain. Sedangkan yang saya buat ini kan masuknya ke entry level, ke musik pop. Untuk bisa memadukan itu ke musik pop langkahnya panjang sekali," terang dia.

"Mungkin nanti bisa jadi sangat serius, tapi ranahnya untuk musik pop. Biarpun orang-orang saya libatkan juga orang yang sudah bergelut di bidang itu," jelasnya lagi.



Simak Video "Komentar Fiersa Besari-Kunto Aji soal Bentak-bentak Maba Ospek Unesa"
[Gambas:Video 20detik]
(srs/dar)