The Panturas Manfaatkan Karantina untuk Proses Kreatif

Dyah Paramita Saraswati - detikHot
Kamis, 27 Agu 2020 18:20 WIB
The Panturas, .Feast, Soundstream
The Panturas Foto: dok. Istimewa
Jakarta -

The Panturas memanfaatkan masa karantina saat pandemi COVID-19 melanda Indonesia untuk menggarap album kedua. Targetnya tidak muluk, mereka berharap dapat merampungkan dan membagikan album itu pada pendengarnya di tahun depan.

Menurut drummer The Panturas, Surya Fikri, album kali ini akan digarap dengan lebih matang ketimbang Mabuk Laut (2018) yang merupakan debut mereka.

"Gue baru rekaman kebetulan sekarang. Rencananya masih kasar, detailnya belum tahu sih. Cuman kayaknya tahun depan kalau keburu ya," ujar dia dalam konferensi pers virtual.

"Di album selanjutnya juga banyak yang kami eksplor. Kalau Mabuk Laut kan serampangan, kalau yang ini lebih kami pikirin. Gue ingin lagunya begini, musiknya begini," sambung pria yang akrab disapa Kuya itu.

Kuya mengatakan, dalam penggarapan album kali ini, The Panturas menggarapnya dari lagu per lagu. Tiap lagunya, masing-masing personel mengulik lebih dalam bebunyian seperti apa yang ingin mereka tampilkan dalam lagu mereka.

Metode tersebut diakuinya berbeda dari apa yang mereka lakukan saat menggarap debut album mereka.

"Kenapa lebih matang karena lagu per lagu yang sekarang lebih detail. Kalau yang Mabuk Laut itu kami sewa studio, semua lagu direkam, semua audio beres. Kalau yang sekarang lagu per lagu nih, gitarnya mau gimana, sound kibornya mau gimana. Ada eksplorasi-ekspolorasi yang belum pernah kami lakukan," jelasnya.

Menurut Kuya, adanya album masih merupakan satu hal penting untuk menandai di fase mana musisi tersebut berada.

"Gue ingin bikin karya aja sebagai penanda. Band ini misalnya kalau sudah nggak ada, ya The Panturas ini ada penandanya. Gue bisa saja bikin single-single tapi fasenya nggak kelihatan. Dari album bisa kelihatan fase-fasenya," urainya.

Meski demikian, Surya Fikri mengaku masih belum dapat menentukan di fase mana The Panturas berada saat ini. Saat ini, dia dan rekan-rekan satu bandnya hanya ingin menggali lebih dalam arah bermusik mereka.

"Gue menjalani The Panturas seperti gue menjalani pas awal-awal saja. Tapi secara fase lebih eksplorasi aja secara pengkaryaan. Gue mungkin lebih banyak ngobrol sama orang-orang yang gue idoalain banget dulu, tapi sekarang bisa ngobrol, jadi lebih banyak tukar pikiran," tutur Kuya.

The Panturas merupakan grup musik yang terbentuk di Jatinangor, Sumedang, Jawa Barat. Mereka merilis debut Mabuk Laut pada 2018.

Album itu berisikan tujuh lagu dan memiliki beberapa single, di antaranya Sunshine dan Gurita Kota.



Simak Video "Rizky Febian-Fourtwnty Rayakan 17 Agustusan di Konser Virtual"
[Gambas:Video 20detik]
(srs/dar)