detikHot

music

Kisah Cholil Mahmud 'ERK' Turun ke Jalan hingga Hindari Gas Air Mata

Minggu, 29 Sep 2019 19:41 WIB Dyah Paramita Saraswati - detikHot
Foto: Dyah Paramita Saraswati Foto: Dyah Paramita Saraswati
Jakarta - Tak hanya kerap menyuarakan kegelisahan akan isu-isu sosial lewat lagu, para personel Efek Rumah Kaca ikut turun ke jalan bersama para mahasiswa dalam aksi 23 dan 24 September 2019 di Gedung MPR/DPR, Jakarta.

Sepanjang Agustus dan September ini, memang ada sejumlah kejadian di negeri ini. Dimulai dengan perlakuan rasis yang diterima warga asal Papua yang berujung kericuhan, kebakaran hutan di Sumatera dan Kalimantan, disahkannya UU KPK, pembahasan revisi KUHP, RUU Pertanahan, Minerba, Keamanan Siber, dan lain-lain yang menuai protes, hingga mandeknya pembahasan RUU P-KS untuk disahkan.

Berbagai persoalan tersebut membuat mahasiswa untuk bergerak dan meminta pemerintah serta DPR memperbaiki kondisi negara dengan serius. Mereka akhirnya turun ke jalan.


Tak hanya di Jakarta, aksi itu juga digelar di sejumlah kota. Misalnya di Yogyakarta ada gerakan bernama #GejayanMemanggil yang memiliki tuntutan yang nyaris serupa.

"Kami turun ke jalan karena sesuai sama pesan yang diusung mahasiswa. Mahasiswa semua pesannya rata-rata sama, kalaupun ada yang beda, ya beda-beda tipislah," kata vokalis Efek Rumah Kaca, Cholil Mahmud, mengungkapkan alasan mereka ikut turun ke jalan.

"(Pesannya) tentang KUHP dan RUU-RUU lain yang benar-benar mencederai kepercayaan masyarakat, tapi justru dikebut di masa-masa akhir periode (2014-2019). (UU) KPK juga sangat vital, kan sebenarnya senjata terakhir presiden itu bisa pakai Perpu (Peraturan Pengganti Undang-Undang). Masing-masing punya urgensi," sambungnya.


Ketika turun ke jalan, seperti halnya mahasiswa, personel Efek Rumah Kaca juga sempat merasakan berlari menghindari gas air mata dan watercanon. Hal itu terjadi justru ketika mereka sudah berniat untuk pulang.

Saat mahasiswa dibubarkan, Cholil dan rekan satu bandnya tengah berada di bawah jalan layang dekat pertigaan ke arah Jalan Gerbang Pemuda, Senayan. Dari kejauhan, ia melihat mahasiswa mulai menyingkir dan berlari ke arahnya.

Meski telah berlari menyingkir, aparat tetap mengejar mahasiswa bahkan hingga ke sekitaran area komplek Gelora Bung Karno.

"Polisi itu tiba-tiba mengejar ke dalam GBK, ke pintu depan TVRI. Akhirnya saya jalan ramai-ramai sampai dengan Plaza Senayan, sampai sana sudah agak lega," ceritanya.


Selain turun ke jalan, Efek Rumah Kaca ikut membantu Ananda Badudu menggalang dana untuk keperluan logistik para mahasiswa. Saat Nanda dijemput oleh pihak kepolisian, detikHOT mencoba menghubungi manajer Efek Rumah Kaca, Dimas Ario.

"Kami baik-baik saja," ujar Dimas melalui sambungan telepon. "Kami hanya bantu nge-post saja. Dananya tetap (disalurkan) dari yang Nanda itu," terangnya lagi.




Simak Video "Detik-detik Gletser di Greenland Terbelah"
[Gambas:Video 20detik]
(srs/mau)

Photo Gallery
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikhot.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com