DetikHot

music

Kok Bisa Festival Jazz Isinya Penyanyi Pop?

Selasa, 16 Okt 2018 15:45 WIB  ·   Dyah Paramita Saraswati - detikHOT
Kok Bisa Festival Jazz Isinya Penyanyi Pop? Keseruan Java Jazz Festival. Foto: Hanif Hawari/ detikHOT
Jakarta - Dalam 10 tahun ke belakang, tren festival kian menjamur. Salah satunya adalah festival jazz. Mulai dari yang komersil dan berskala internasional hingga yang digarap oleh mahasiswa.

Nyatanya tak semua acara yang menamai dirinya sebagai festival jazz mengundang artis-artis beraliran musik tersebut. Banyak di antaranya yang justru didominasi oleh keberadaan musisi-musisi dari genre lain, pop misalnya.

Menanggapi hal itu, dua musisi jazz Indra Lesmana dan Nikita Dompas berbincang dalam sebuah sesi di Archipelago Festival yang berlangsung di Soehanna Hall, The Energy Building, SCBD, Jakarta Selatan.

Menurut Indra Lesmana, hal itu kerap menjadi dilema bagi para pelaku festival. "Ini memang sedikit complicated," ungkapnya.

"Karena yang sering terjadi adalah misalnya ada sponsor yang mau masuk, tapi sponsornya minta ada artis A yang ternyata artis itu bukan jazz. Atau sponsor ya memang memberikan dana melihat headline-nya dulu," kata Indra.



"Tapi memang sekarang festival yang besar itu sudah menjadi komoditas, sudah jadi pop culture. Jadi bukan lagi jazz culture," sambungnya.

Setali tiga uang dengan apa yang diutara Indra Lesmana, Nikita Dompas pun sepakat bahwa sangat sulit memisahkan musisi bergenre lain yang tampil di festival jazz.

Akan tetapi, baginya hal tersebut tak menjadi masalah asalkan pengisi acaranya berimbang.

Nikita Dompas justru melihat, adanya bintang pop untuk menarik massa justru dapat menjadi ajang yang baik untuk mempromosikan musik jazz.

"Sebenarnya itu justru bisa menjadi trigger karena kita nggak pernah tahu, dengerin musik itu awalnya darimana," ucap Nikita.



Anggapan tersebut juga didukung oleh Indra Lesmana. Ia berharap, dengan adanya musisi terkenal dari genre lain yang tampil di festival jazz justru dapat membuat para penikmat musik menjadi penasaran dan mencoba mengenal jazz lebih jauh.

"Kami sebenarnya mengharapkan masyarakat yang datang ke festival jazz bisa melihat jazz sebagai open book karena sangat terbuka. Jazz kan termasuk salah satu jenis musik yang sangat terbuka, terbukti sub genre-nya banyak sekali," urai Indra.


Bagi keduanya, festival jazz bisa menjadi ajang perkenalan bagi pendengar baru sehingga bisa tercipta regenerasi.

"Sebenarnya kami inginnya yang regenerate itu bukan hanya musisinya, tapi semuanya. Penontonya juga harus regenerasi, bahkan yang megang lampu dan lain-lain juga harus regenerasi, semua yang ada di ekosistem," papar Indra.



(srs/nu2)

Photo Gallery
1 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed