detikHot

music

Gilang Ramadhan: Saya Adalah Drum

Jumat, 06 Jul 2018 16:55 WIB Dyah Paramita Saraswati - detikHot
Gilang Ramadhan di acara Kumpul ID. Foto: Nugraha Rodiana Gilang Ramadhan di acara Kumpul ID. Foto: Nugraha Rodiana
Jakarta - "Sampai hidup saya tuh semuanya buat drum gitu. Memang iya. Jadinya kalau ngelihat wajah saya, wajah saya tuh wajah drum kali ya. Gilang is drum. Yes, I am. I am a freak of drum," kelakar Gilang Ramadhan kemudian ia terkekeh.

Nama Gilang Ramadhan sebagai penggebuk drum memang menjadi legenda. Bak legenda hidup pada umumnya, ia begitu dihargai. Namanya menjadi sakral terlebih karena memiliki banyak murid.

Sejumlah drummer-drummer yang saat ini mengisi industri musik kebanyakan adalah muridnya, atau setidaknya pernah berguru padanya.

Hal tersebut tergambar pada saat detikHOT berbincang dengan Gilang Ramadhan di sela-sela acara Kumpul ID yang berlangsung pada akhir pekan lalu di Kuningan City, Jakarta Selatan. Sebentar-sebentar percakapan antar Gilang dan detikHOT harus terhenti karena ada beberapa orang yang menyalaminya, mereka adalah drummer kawakan Tanah Air, sebut saja Brian 'Sheila On 7' atau Echa Soemantri.

Darah seni memang mengalir deras di tubuh Gilang Ramadhan. Ia merupakan putra dari pasangan seniman, Ramadhan K.H. dan diplomat RI, Pruistin Atmadjasaputra.

Karier bermusik Gilang di Tanah Air bermula dari kepulangannya ke Indonesia selepas menimba ilmu di Negeri Paman Sam. Namun jauh sebelum itu, perkenalannya dengan drum di mulai di tahun 1974. Saat itu pria kelahiran 30 Mei 1963 tersebut masih berusia 9 tahun.

Sang Ibu tiba-tiba saja membeli sebuah drum. Sejak kecil, Gilang memang sudah dekat dengan dunia musik, ia telah bisa memainkan biola dan piano saat drum tersebut tiba di rumahnya.

Penampilan Gilang Ramadhan di Kumpul ID. Penampilan Gilang Ramadhan di Kumpul ID. Foto: Nugraha Rodiana


"Kayanya dia ngebeliin drum buat kakak saya. Terus habis itu, wah, ada drum. Terus saya mainin. Langsung bisa nge-groove. Nggak tahu ya, cuma kayanya pada saat itu asyik. Terus kakak saya (bilang), 'Yaudah deh lo aja yang main'. Dia main gitar, yaudah saya main drum," kenang Gilang.

Meski kedua orangtua Gilang sangat mendukung kegiatannya bermusik saat ia masih kecil, namun mereka tak bisa menyembunyikan keterkejutannya ketika sang anak mengatakan niatnya untuk hidup dari bermusik.

"Ah itu pada saat itu, pada tahun itu, (ditanya) 'Ini maksudnya drum tuh gimana? Kehidupaan main drum kaya gimana?' Apalagi dia berpikirnya akan tinggal di Indonesia kan tahun 80-an. (Ditanya lagi) 'Ngeband kamu?'," kisahnya.

Seiring berjalannya waktu, orangtua Gilang pun akhirnya memahami bahwa musik adalah jalan pilihan anaknya. Di masa remaja, Gilang Ramadhan bahkan kerap mangkir dari sekolah dan pulang ke rumahnya. Alasannya adalah karena ia kerap tak sabar untuk kembali latihan musik.

Melihat itu, dukungan orangtuanya menjadi penuh. Berangkatlah Gilang Ramadhan pergi sekolah ke Amerika Serikat.

Gilang ingat, pada suatu hari ada seorang tamu datang ke rumahnya. Sang tamu pun bertanya kepada Ibunda, dimana anaknya bersekolah. Tamu tersebut terkejut saat mengetahui anak rekannya itu tengah menempuh pendidikan musik.

Dengan santai sang Ibu menjawab kepada tamunya, "Kalau semuanya sekolah arsitek, yang mau menghiburnya siapa?"

Di titik itu, Gilang tahu bahwa pilihannya telah didukung oleh keluarganya. Ia menyadari, keberhasilannya dalam dunia drum tak pernah lepas dari peranan keluarga.

Penampilan Gilang Ramadhan di Kumpul ID. Penampilan Gilang Ramadhan di Kumpul ID. Foto: Nugraha Rodiana


Namun pada satu pesan Ibunda Gilang yang dirasanya pada saat itu mengganjal hatinya. "Kamu kalau seandainya sudah mahir, kamu bawa pulang ke Indonesia, ya," ujar sang Ibu.

Gilang yang saat itu masih muda dan penuh ambisi untuk menaklukan dunia musik Hollywood pun hatinya bergejolak. "Indonesia? Pada saat itu gue mikir, 'Gile ngapain?' Terus teman saya di Hollywood bertanya-tanya, 'Are you crazy?'," tuturnya.

Pulang ke Tanah Air

Pergolakan batin Gilang Ramadhan bertambah saat rekannya yang juga bermusik di luar negeri, Indra Lesmana, turut mengajaknya pulang. Tak disangka, ajakan kawan itulah yang kemudian sangat berpengaruh pada keputusannya untuk berkarier di Indonesia.

"Eh kita balik, yuk," ajak Indra saat itu. Awalnya Gilang menolak, "Ah gila lo, ngapain? Ada apa di sana?" jawab Gilang. Tapi Indra tak kehabisan akal. Ia kembali meyakinkan temannya itu, "Udah kita pulang bentar aja," bujuk Indra kala itu.

Keduanya akhirnya pulang ke Tanah Air. Bersama-sama, Gilang Ramadhan dan Indra Lesmana memiliki karier yang gemilang. Keduanya pun kerap bermusik dalam sebuah grup yang sama.

"Memang betul, pas kami pulang kan wah,udah kaya apa. Kami anak umur-umur yang muda, diberi tepuk tangan setiap hari, kan jadinya yaudah, kami stay di sini. Pada saat itu gitu," ungkap Gilang.

Di Indonesia, Gilang bermusik di sejumlah band, mulai dari Nebula, GIF (Gilang Indra Fariz), Exit, Karimata, hingga Krakatau yang paling melambungkan namanya.

Dengan karier yang gemilang, ia seakan tak mau berhenti berkarya. Tak puas hanya dengan menjadi pemusik,ia pun mendirikan sekolah drum. Kini sekolah drum miliknya telah tersebar di berbagai kota di Indonesia.

Ia juga kini mendirikan perkumpulan Indonesian Drummers di mana kini ia menjabat sebagai ketua yayasan.

Kadang, dirinya masih tidak percaya dengan apa yang dimilikinya kini. "Ayah saya dulu bilang, 'Kamu coba membuat lapangan pekerjaa'. Oh ternyata sekarang saya punya banyak sekolahan," katanya.

Dengan apa yang dicapainya kini, Gilang Ramadhan masih belum mau berpuas diri.

"Kalau ditanya ada pertanyaan, terus mau ngapain lagi? Wah masih banyak," tuturnya. Hingga kini ia masih terus mengulik apa yang bisa dilakukan dengan drum.

"Dari kecil, tiap hari saya latihan 8 jam, tapi saya nggak merasakan itu sebuah hal yang capek. Ya namanya juga suka. Saya suka drum, drum, drum. Saya melihat drum tuh kaya apa ya, kaya it's my blood," tegasnya.

Ditanyai menyesalkan ia dengan keputusannya pulang pada saat itu. Gilang Ramadhan sedikit menerawang. "Saya sering bukan menyesali ya, tapi saya mencoba menskenariokan, kalau mungkin pada saat itu gue nggak pulang, gue gimana ya. Mungkin saya main sama Santana kali ya? Nggak tahu, I don't know," ucapnya.

Setelah memikirkan, Gilang kemudian menjawab dengan mantap bahwa ia tidak pernah sama sekali menyesal dengan keputusannya untuk pulang. Karena pada akhirnya, jalan tersebut yang menuntunnya hingga ke titik sekarang.

"Pada saat itu kami sangat mencintai Indonesia. It's a big mistake (untuk pulang), tapi terasa benar. Gimana dong, ini negara gue? Beberapa waktu memang gue terlalu enjoying life di Indonesia, tapi akhirnya saya mencoba memberikan hal-hal yang positif lewat dunia drum," jawabnya.



(srs/nu2)

Photo Gallery
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikhot.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com