Versus Peterpan
1-0 Untuk Spin Doctors
Kamis, 02 Jun 2005 02:34 WIB
Jakarta - Rabu (1/6/2005) malam bertempat di Jakarta Convention Center, konser bareng Spin Doctors-Peterpan digelar. Jika diibaratkan pertandingan olahraga, untuk urusan penampilan, Spin Doctors menang atas Peterpan. Konser dibuka pukul 20.25 WIB. Arena pertunjukan yang berkapasitas 5.000 orang hanya dipadati seperlimanya. Penonton terbilang cukup beragam. Hal ini telah diprediksi sebelumnya. Spin Doctors yang terkenal di tahun 1990-an memiliki penggemar yang tahun 2005 ini berumur 20 sampai 30-an tahun. Sedangkan band asal Bandung Peterpan sangat digilai remaja belasan tahun plus anak-anak usia sekolah dasar. Bagi anak kecil, tipis kemungkinan untuk mereka nonton konser sendirian. Orangtua yang akhirnya menjadi 'korban'. Jadilah konser dengan penonton yang campur aduk. Menarik plus mengundang geli. Saat Ariel cs mulai membuka konser dengan tembang "2 DSD", anak-anak yang memegang tiket festival alias berdiri mulai "protes". "Nggak kelihatan," tutur seorang gadis cilik. Dengan sigap sang ayah langsung memanggul anaknya di pundak. Aksi gendong pundak itu dilakukan setidaknya oleh 5 pasang ayah-anak. "2 DSD" disambut tepuk tangan penonton. Tak terlalu meriah, tapi lumayan untuk menghangatkan suasana. Sebelum beranjak ke lagu "Mimpi Yang Sempurna", Peterpan menyapa penonton. Band yang dipayungi Musica Studio itu juga mewanti-wanti penonton agar turut bernyanyi sampai akhir pertunjukan. Penonton memang mengikuti permintaan Peterpan. Tapi tak ada yang spesial. Lirik lagu dilantunkan penonton seperti ketika mereka mendengar kaset atau CD album. Komposisi musik yang tak berbeda dari yang penonton sering dengar sebelumnya di kesempatan yang lain membuat show malam itu biasa-biasa saja. Ditambah lagi vokal Ariel yang terdengar tidak fit, show jadi semakin tidak spesial. Dalam jumpa pers yang digelar sehari menjelang konser, Ariel pun mengaku khawatir penampilan bandnya akan biasa-biasa saja. "Kita takut penonton ngerasa bosan. Mereka kan sering dengar lagu-lagu kita. Kalau di konser nanti kita mainnya begitu-begitu aja, kasihan mereka. Makanya kita kasih pertunjukan yang spesial," kata Ariel.Spesial yang dimaksud Peterpan adalah dukungan lima musisi lokal. Ada Thomas Ramadhan dari GIGI yang berkolaborasi dalam lagu "Khayalan Tingkat Tinggi", DJ Riri dalam "Bintang di Surga", Enno drummer Netral dalam "Topeng", Doni pemain saxophone dalam hits "Semua Tentang Kita" dan Abdee Slank dalam "Di Atas Normal". Sayangnya, Peterpan tidak bisa meningkatkan kadar spesial menjadi luar biasa. Saat Abdee Slank muncul, sayatan gitarnya membuat lagu "Di Atas Normal" menjadi lebih nge-rock. Tapi Uki dan Lukman yang memegang posisi gitaris di Peterpan kurang bisa mengimbangi Abdee. Terlihat tak ada persiapan matang untuk membuat kolaborasi menjadi cantik. Saat DJ Riri ikut nimbrung di "Bintang di Surga", nuansa baru hanya ditemukan di 10 detik pertama. setelah itu, datar.Kolaborasi apik baru terlihat nyata saat menginjak lagu kesembilan. Tak sia-sia Peterpan menggandeng Doni. Pemain saxophone itu membuat lagu "Semua Tentang Kita" menjadi syahdu. Temaramnya lampu JCC membuat suasana jadi romantis. Tanpa dikomando, penonton pun turut bernyanyi. ada cerita tentang aku dan diadan kita bersama saat dulu kalaada cerita tentang masa yang indahsaat kita berduka, saat kita tertawaUsai itu, Peterpan membawakan "Ada Apa Denganmu", tembang andalan yang sekaligus menjadi penutup. Sekitar pukul 21.15 WIB, Ariel (vokal), Uki (gitar), Indra (bas), Lukman (gitar), Reza (drum) dan Andika (keyboard) undur diri. Turunnya Peterpan dari atas panggung diikuti sebagian penonton. "Ayo pulang. Besok sekolah," ujar beberapa orangtua pada anaknya. Tapi pertunjukan belum selesai. Peterpan keluar, Spin Doctors langsung masuk. Seharusnya begitu, tapi nyatanya tidak. Penonton harus menunggu sekitar 20 menit untuk menyaksikan penampilan band asal New York, Amerika Serikat itu. Pukul 21.35 WIB, Chris Barron (vokal), Eric Schenkman (gitar), Mark White (bass) dan Aaron Comess (drum) baru menunjukkan diri. Tanpa babibu, mereka langsung membawakan "What Time Is It?". Sayangnya, mayoritas penonton tak mengenal lagu tersebut. Koor panjang penonton yang biasanya mengisi sebuah konser tak muncul di lagu pertama. Tapi itu tak membuat Spin Doctors loyo. Melihat penonton kurang bisa mengikuti lirik lagu, band yang album "Pocketful of Kryptonite"nya laku sampai 8 juta kopi ini berusaha menggoda penonton dengan instrumen.Dengan berbekal kaos double, topi, kacamata hitam dan tentunya kelihaian bermain gitar, Eric Schenkman memainkan jemarinya. "Sayatan maut" yang biasanya terdengar di konser musisi bergenre rock atau metal jadi andalan Spin Doctors di Jakarta. Bukankah Spin Doctors memang grup musik beraliran rock? Bukankah wajar kalau "sayatan maut" menjadi andalan? Spin Doctors memang band rock. Tapi dalam konsernya di Jakarta, band tersebut tak hanya membawakan lagu bernuansa rock. Tapi juga blues, jazz dan slow rock. Dalam jumpa pers yang digelar, (31/5/2005), di Hotel Hilton, Jakarta, Chris Barron bahkan mengungkapkan kalau album terbaru Spin Doctors yang rencananya segera dirilis akan kental nuansa dance. Kembali ke soal konser, selain mengandalkan permainan gitar Eric, Spin Doctors juga menjagokan ramuan musik yang lebih fresh. "Cleopatra", "Little Miss Can't Be Wrong" dan "Refrigerator Car" yang disajikan Spin Doctors dalam konser terdengar lebih nge-beat dan membuat penonton tak kuasa menahan godaan untuk menggoyangkan badan atau sekedar menganggukkan kepala. Sayangnya, kehandalan Spin Doctors meramu musik tak diapresiasi dengan meriah. Sebabnya, penonton yang awalnya 1.000 orang jumlahnya berangsur menyusut. Hal ini menurut penyelenggara dikarenakan penonton mayoritas memang ingin menyaksikan penampilan Peterpan, bukan Spin Doctors. Maka ketika Ariel pulang, sebagian penonton pun ikut-ikutan pulang. Yang perlu diacungi jempol, minimnya penonton sama sekali tak mempengaruhi aksi panggung Spin Doctors. Mereka terlihat tampil sangat enerjik. Komunikasi pun tak pernah putus. Selamat malam, apa kabar, kami Spin Doctors, funky Jakarta, terima Kasih adalah kalimat-kalimat yang meluncur terus menerus dari bibir Chriss. Komunikasi tak hanya berlangsung satu arah. Penonton juga diajak untuk mengikuti alunan musik Spin Doctors. Menginjak lagu kesepuluh, "Two Princess", suasana semakin akrab. Apalagi lagu tersebut sempat menjadi hits tahun 1990-an lalu. Jarang penonton yang tak kenal. Said, if you want to call me babyJust go ahead, nowAnd if you'd like to tell me maybeJust go ahead, nowAnd If you wanna buy me flowersJust go ahead, nowAnd if you'd like to talk for hoursJust go ahead, nowUsai lagu tersebut, Spin Doctors pura-pura undur diri. Sebagian penonton yang mungkin sudah ngantuk pun manut tanpa perlawanan. Mereka beranjak menuju pintu keluar. Tapi untuk fans setia yang jumlahnya hanya sekitar 100 orang, aksi pura-pura tersebut disambut dengan kalimat "We want more. We want more". Spin Doctors muncul kembali. Meski melihat penonton hanya segelintir, mereka tetap beraksi. "Oke, kami akan main lagi," giliran Mark White sang bassist yang angkat bicara. Dua lagu pun mereka bawakan dengan sangat manis. Usai itu, mereka pamit. Bagai sahabat yang akan berpisah, Spin Doctors memberi kenang-kenangan. Stick drum dan handuk pun dilemparkan kepada penonton. Tak hanya itu, Chriss juga sempat mengabadikan lambaian tangan penonton lewat mini-DVnya. So long Spin Doctors!. 1-0 Untuk penampilan Spin Doctors versus Peterpan. (ine/)











































