Pilihan Lucky untuk "mengisi" cerita film bertema kisah klasik cinta remaja beda kelas sosial yang diangkat dari novel karya Eddy D Iskandar dengan unsur musik berikut teknologi kaset pitanya sungguh menyentuh. Dalam versi sutradara yang sebelumnya merilis 'Selamat Pagi, Malam' yang mendapat banyak pujian itu, Galih sang tokoh utama dikisahkan sebagai seorang pewaris toko kaset yang kini sepi pembeli.
"Siapa yang masih mendengarkan kaset?" demikian salah satu dialog yang beberapa kali terucap dalam percakapan antara Galih dengan sang dewi pujaan hati, murid baru di sekolahnya, Ratna. Namun, seperti bumerang, ungkapan itu seperti berbalik ke arah para pelontarnya, dan membuat mereka kemudian menggilai kaset.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Galih lalu mengulurkan salah satu earphone-nya untuk bisa didengar oleh Ratna. Dari situ Ratna tahu, Galih sedang mendengarkan lagu 'Sakura' dari Fariz RM. "Aku suka banget dengan kata nestapa," kata Ratna, merujuk pada lirik di bagian chorus yang berbunyi:
Bersama dirimu terbebas dari nestapa/
Dalam wangi bunga cita cinta nan bahagia
Lalu, obrolan mereka bergulir lebih jauh dengan membahas, betapa lagu dengan irama yang riang itu sebenarnya mengungkapkan sebuah kepedihan hati yang tak tertanggungkan. "Lirik sebuah lagu kadang memang tidak sesuai dengan irama musiknya," demikian kira-kira kata-kata yang kemudian terlontar di antara mereka, dan keduanya pun rasanya sudah mengenal bertahun-tahun lamanya.
Kedekatan keduanya berlanjut dengan kunjungan Ratna ke toko kaset Galih, yang di pintunya dipasangi tanda "dijual". Singkat cerita, ketika Ratna mengajukan "proposal cinta"-nya untuk Galih, dia bersedia membantu sang arjuna untuk mengelola toko kaset itu bersama. Mendengar itu, tanpa ragu, Galih pun menyobek tanda "dijual" yang dipasang secara sepihak oleh ibunya, yang sebenarnya sejak awal memang tak disetujuinya.
Dengan lembut, tanpa terkesan untuk menjejal-njelalkan ke dalam cerita sehingga terasa dipaksakan, film ini menggunakan elemen nostalgia musik dari era Fariz RM secara intens di sepanjang alurnya. Salah satu contohnya ketika Galih dan Ratna "berdebat" apakah Pas Band itu masuk dalam aliran musik rock ataukah indie rock. Tanpa kata-kata, keduanya digambarkan berebut memindah-mindahkan album Pas Band di rak berlabel "rock" dan "indie rock" secara bergantian, lalu tertawa bersama.
Kamera juga tidak secara vulgar menyorot ke arah album tertentu, sebelum kedua tokoh tersebut membahas soal-soal yang berkaitan dengan pernak-pernik musik Indonesia di masa lalu. Misalnya, suatu kali Ratna mengambil dari rak kaset album pertama Naif, dan bermaksud membelinya. Padahal, Ratna tidak memiliki tape recorder untuk memutarnya; dia membeli dengan alasan menyukai artwotk-nya untuk dikoleksi. Dari situ, bergulir obrolan mengenai keasikan (atau, harus disebut sebagai "keagungan"?) mendengarkan sebuah album dari masa pra-digital.
Namun, film ini tak lantas berlebihan memandang sisi "negatif" album musik digital yang bisa dinikmati tanpa harus berurutan, dan bisa dilompati "seenaknya" bagian lagu yang tak ingin didengarkan. Ketika sampai pada diskusi ini, Ratna, gadis pindahan dari Jakarta di kota Bogor itu, mengimbanginya dengan argumen yang menetralkan. Begitulah, romantika kaset pita menjadi "motif" cerita film ini, dengan berbagai serba-serbinya, seperti bagaimana cara memprotek sebuah rekaman, atau mengatasi pita kaset yang kusut.
Album (dan nama) Candra Darusman secara khusus disorot (dan disebut) lebih dari sekali, sebagai bentuk penghargaan pada musisi yang di kemudian hari dikenal sebagai pengurus soal hak cipta itu. Dari sini, generasi Spotify barangkali akan penasaran dibuatnya, lalu meng-googling, siapa dia dan apa saja album atau lagu-lagu hits-nya. Dan, semua itu hanya satu sisi saja dari film 'Galih dan Ratna', yang dengan manis menguak sebuah gita dari kekayaan musik Indonesia di masa lalu, yang membangkitkan "rindu dendam" akan zaman SMA dulu. Masa remaja punahlah sudahβ¦.
(mmu/mmu)











































