Menonton Java Jazz Festival

Menonton Java Jazz Festival

- detikHot
Minggu, 06 Mar 2005 18:10 WIB
Menonton Java Jazz Festival
Jakarta - Musik sudah bukan lagi sekedar simbol kesenian, musik, khususnya Jazz bisa dibilang telah menjelma menjadi gaya hidup. Selama 3 hari penyelenggaraan Java Jazz Festival kebutuhan akan hasrat musik dan gaya hidup terpuaskan sekaligus. Memasuki area Jakarta Convention Center, aura "Jazzy" sudah sangat terasa. Dengan harga tiket yang lumayan di tengah kenaikan BBM ini para penonton bisa dipastikan banyak berasal dari kelas menengah dan keatas. Wangi, trendy, dan keren, begitulah gambaran umum penonton Java Jazz Festival. Penonton yang usianya 30 keatas kebanyakan datang dengan gaya busana yang dandy dan sedikit glamour. Para pria dengan kemeja rapih, kaus polo shirt, atau minimal kaus oblong santai dengan merk ternama. Sedangkan yang wanita pastinya dengan gaya pakaian bak halaman mode majalah ibukota. Kelompok ini biasanya paling banyak terlihat di panggung assembly hall 1 dan 2 yang banyak memajang musik-musik cozy, classy, dan tingkat seni tinggi. Banyak dari mereka yang datang untuk memuaskan hasrat reuni dengan musik favoritnya dimasa lalu. Musisi-musisi lawas yang tampil menjadi daya tarik bagi kelompok ini. Aura reuni bahkan dikuatkan oleh seorang penonton ada yang hadir dengan kaus Jak Jazz, event Jazz besar yang digelar sekitar 10 tahun lalu itu. Seperti dijanjikan penyelenggara, Java Jazz bukan digarap untuk menjadi konsumsi segmen, golongan, ataupun kelompok umur tertentu. Event yang diperkirakan menghabiskan biaya sekitar 20 milyar itu juga ramai didatangi generasi muda. Kelompok ini datang dengan penampilan yang nggak keluar dari garis mode dan rambu berpakaian masa kini. Tapi jangan salah, gaya yang diusung mereka di Java Jazz bukan gaya ala jalan-jalan ke mall. Baju gaya hip-hop, topi ala penyanyi blues, sampai baju etnik gaya penyanyi Jazz Afro mewarnai gaya busana anak-anak muda di pesta Jazz ini. Walau ramai menyebar di berbagai pertunjukan, namun paling banyak anak-anak muda ini bercokol di panggung milik MTV terletak di Cendrawasih 2. Musik Jazz pop dan trendy macam Glenn, Maliq & D'Essential, Marcell, Humania, The Groove, sampai Amp Fiddler tampil menggoyang penonton yang selalu penuh dengan energi dan histeria. Saking banyaknya beberapa "orang tua" agak risih masuk. Seorang bapak yang datang dengan istrinya, batal masuk ke dalam pertunjukan yang ketika itu sedang diisi Glenn Fedly tersebut. "Ah nggak usah kesini, isinya anak muda semua gitu lho bu," ujar si bapak. Keluar dari dua ruangan yang berseberangan tersebut tepat di depan pintu masuk ada dua panggung terbuka. Panggung yang diisi oleh penyanyi Jazz berbagai genre itu juga tak pernah sepi penonton. Semua orang sepertinya telah mempunyai pilihan dan "habitat"nya masing-masing. Tak hanya sekedar menonton Jazz, penonton juga banyak yang datang hanya karena rasa penasaran. Rata-rata mereka ini datang sebagai penikmat salah satu nama musisi semisal Glenn, Maliq & D'Essential ataupun Incognito. Yang juga menyenangkan dari Festival ini adalah ramahnya suasana. Tak jarang di tengah keramaian penonton kita bertemu dengan Jeff Kashiwa, Amp Fiddler, ataupun Eric Bennet. Bukannya tak mungkin juga di jalan menuju panggung kita akan berpapasan dengan personel "Earth, Wind, and Fire", Bubi Chen, George Duke, atau musisi Indonesia seperti the Groove, Marcell, Glenn, sampai Elfa singers. Semuanya berjalan dengan santai dan berbaur bersama penonton lainnya menikmati event Jazz yang jarang-jarang ini. Jika sudah demikian, bukannya tak mungkin mereka dicegat untuk foto bareng, minta tanda tangan atau sekedar ngobrol santai. Dengan penuh senyum musisi-musisi ini meladeni keinginan para penggemar. Ajang Java Jazz ini bisa dibilang tak hanya sekedar pentas musik tapi juga event gaul terkini. Di ribuan penonton yang hadir tak jarang mereka bertemu dengan teman lama secara janjian atau tak sengaja. Intinya, "masa sih hari gini nggak datang ke Java Jazz," demikian seorang penonton muda dengan gaya Missy Elliot, seorang ikon hip-hop asal Amerika. Apapun alasannya, hampir semua penonton datang dengan aura yang ceria. Namun bukan berarti penyelenggaraan ini bebas dari beberapa kerikil kecil. Namanya juga penyelenggaraan pertama pastinya masih banyak lubang yang perlu ditambal. Misalnya jadwal brosur yang kerap meleset dari jadwal asli, rambu-rambu panggung yang jarang sehingga membuat banyak penonton bingung, dan tempat makanan yang kurang banyak sehingga menimbulkan antrian panjang di setiap counternya. Tak hanya penonton, wartawan yang meliput juga sering terkena imbas dari "lubang-lubang" ini. Hampir setiap pertunjukan, petugas keamanannya punya peraturan yang berbeda. Kadang boleh masuk, kadang tidak boleh masuk. Untuk tetap dapat melakukan tugas jurnalistik kadang para wartawan harus adu mulut dulu dengan sang petugas keamanan. "Belum ada perintah dari atas pak," adalah alasan paling populer yang dipakai para petugas keamanan. Menjawab pertanyaan itu biasanya para wartawan sampai perlu mengeluarkan peraturan setebal 7 halaman beserta denah yang dirilis panitia sebelum hari-H berlangsung. Peraturan yang jelas menyatakan mengizinkan peliputan itu kadang masih dibantah oleh sang petugas keamanan, hmmm... jika keadaan seperti ini banyak yang memilih pergi dan pindah ke tempat lain dengan kesal. Belum lagi jika jadwal banyak molor, meliput "Incognito" yang baru mulai tengah malam pastinya harus bergulat melawan kantuk. Well, terlepas dari segala "lubang-lubang" tersebut Java Jazz Festival sukses menghidupan aura Jazz di jantung ibukota selama beberapa hari. Java Jazz yang belakangan ini santer sebagai agenda gaul paling wajib itu memang tak pernah sepi penonton. Maklum, setelah sekitar 10 tahun tak ada event musik Jazz akbar, penonton pastinya sangat bahagia datang ke acara ini. Pindah dari panggung ke panggung penonton yang sudah datang sejak sore sampai tengah malam tak pernah kehilangan senyum dan semangatnya menyaksikan suguhan Jazz yang memukau itu. Jika penonton gembira, apalagi sang pengisi acara. Semua musisi Indonesia yang tampil terlihat sangat antusias mengisi acara di Java Jazz Festival. Aura penonton yang semangat berbaur dengan aksi dan magnet pesona para performer memang menjadi campuran momen yang tak terlupakan. Semoga saja antusiasme ini tak hilang begitu saja di penyelenggaraan yang selanjutnya. See you next year and years after!Keterangan Foto:Cover: Maliq & D'Essential, band muda yang penampilannya patut diacungi jempol.Dalam: Marcella Zalianty di baris depan penonton Maliq & D'Essential. (fta/)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads