Dimulai sejak sore, festival jazz tertua di Indonesia itu lebih dulu memberikan panggung kepada pemusik-pemusik baru. Konsep pembinaan pemusik baru yang diberi nama Trifest Jak Jazz, akan diterapkan hingga tiga tahun ke depan.
Tiga panggung langsung disiapkan. Panggung utama, beberapa meter ke kanan panggung kedua yang ukurannya lebih kecil, dan beberapa meter lagi 'truck stage' atau panggung yang dibangun di atas truk Lamborghini Jakarta, sponsor utama Jak Jazz 2014.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Memasuki sore, hujan mengguyur Ibu Kota. Menyisakan genangan air di berbagai tempat. Jak Jazz 2014 juga terkena imbasnya karena penonton memilih untuk berteduh.
Lampu sorot warna-warni yang menghiasi Tugu Monas menandakan malam sudah tiba. Bazaar makanan yang terletak tidak berjauhan membuat suasana Jak Jazz 2014 semakin semarak.
Musisi jazz lintas genre kembali naik panggung, dimulai dengan penampilan Krishna Balagita dan rekan ADA Band yang lain Dika. Bersama Bowi 'Gugun Blues Shelter' grup tersebut memainkan musik jazz instrumental yang up-beat.
Di panggung utama, sebuah grup bernama Elsafa memukau penonton yang berdiri di depannya. Sebabnya adalah grup tersebut dihuni oleh orang-orang tuna netra. Mereka dengan lihai memetik, memukul, memencet tuts keyboard dan bernyanyi.
Tidak lama setelahnya, Ireng Maulana naik panggung. Bersama teman-temannya, legenda hidup musik jazz nasional itu tampil sempurna dengan gitarnya.
Sementara di dua panggung lainnya, pemusik baru unjuk gigi, panggung utama kembali disuguhi musisi jazz kawakan. Kali ini adalah Mus Mujiono dan bandnya. Terlihat barisan penonton makin asik terlena dan mulai menggoyangkan badannya.
Malam penutupan Jak Jazz 2014 tidak hanya mereka, ada Art of Tree, Ivan Nestorman, Rocker Kasarunk juga Beben Jazz. Ada lagi Edric Nigel, T-Five dan banyak lagi yang lainnya.
Jak Jazz 2014 membuat malam terakhirnya menjadi pesta musik rakyat yang berkelas. Monas, bazaar makanan dan tanpa tiket masuk, menjadikan festival itu ramai didatangi masyarakat pecinta jazz dan tidak.
Hanya saja pelaksanannya mungkin harus lebih baik lagi. Musisi yang tampil, pemilihan tempat dan juga masalah teknis seperti tata suara dan panggung. Semoga kekurangan itu bisa ditutupi di Jak Jazz 2015.
Sampai jumpa tahun depan!
(ron/ron)











































