Meski secara musikalitas mereka lebih bebas, namun ada risikonya juga. Tanpa label besar yang menaungi, memanage dan mendisiplinkan, musikus indie juga bisa hilang arah. Jalur karir bisa jadi jalan di tempat.
Untungnya kini ada sejumlah perusahaan rekaman alternatif yang menjembatani antara kedua jenis label itu. Mereka konon mengembangkan kedisiplinan manajemen ala mayor label, tapi mempertahankan kemerdekaan para musikus layaknya di dunia indie. Berikut kisah mereka yang berkutat di dunia antara mainstream versus indie ini seperti penelusuran detikHOT.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sulit dipungkiri bahwa kehadiran band-band seperti Efek Rumah Kaca, Pure Saturday, White Shoes and The Couples Company hingga Burgerkill telah membawa warna baru dalam belantika musik Indonesia.
Gaya, aliran dan konsentrasi pesan yang dibawakan musik mereka sangat pun sangat beragam.
Namun, meski mereka sering mengisi acara di sejumlah panggung dan festival besar juga festival besar di Indonesia dan mancanegara, para musikus ini tidak berada dalam naungan nama besar sebuah perusahaan label rekaman mainstream.
Mereka bisa eksis di industri musik karena dukungan label rekaman alternatif, yang lebih terbuka pada keberagaman warna musik dan anti mendikte musikalitas para musikusnya.
Salah satu label rekaman alternatif, yang telah ada di Indonesia sejak 2001 silam adalah Demajors Independent Music Industry (DIMI). Ya, nama-nama band di atas bersama sekitar 400 nama band juga musikus lainnya, telah mengisi katalog dari Demajors hingga saat ini.
Demajors didirikan oleh trio yang memiliki kecintaan terhadap dunia musik, David Karto, Sandy Maheswara, dan Adhi Djimar. Sebagai pecinta musik, ketiganya merasa punya tanggung jawab untuk mengembangkan potensi musik yang ada di Indonesia.
"Ini tugas kami, perjuangan yang tidak akan pernah selesai. Selama bumi ini berputar kita akan terus berkarya dan berproduksi terus," ujar David Karto, Managing Director di Demajors, kepada detikHOT di markas Demajors, Fatmawati Golf Mansion, Jakarta Selatan, Senin (19/8/2013)
Kebetulan pula ketiganya memang punya kedekatan dengan banyak sejumlah komunitas musik indie Indonesia. Tujuan mereka tentu saja tak sekadar bisa memproduksi dan memasarkan karya musik band indie, tapi juga memperkenalkan dan memperdengarkannya ke khalayak yang lebih luas.
"Kami enggak muluk-muluk, tapi kita coba mencapai target masuk ke angka 100-400 ribu kopi dulu. Enggak usah dari angka penjualan dulu, tapi dari angka pendengar dan penikmatnya," kata David.
***
Kebebasan ekspresi yang dianut Demajors sendiri termasuk di dalamnya tidak mengikuti pasar dan lebih menghargai keberagaman referensi musik bagi pendengar. Maka tak heran jika kemudian musikus yang bernaung dibawah Demajors jadi sangat beragam. Ada rock, metal, jazz, folk, reggae dan lain sebagainya.
"Akhirnya orang melihat kita agak berbeda karena warna musik kita cukup berani. Misalnya Endah n Rhesa dengan musik folk dan berbahasa Inggris, tapi ternyata ini jalan dan bagus," kata David. Kini, album Endah n Rhesa sendiri telah mencapai penjualan hingga 30 ribu kopi.
Demi menjaga kebebasan musikusnya, Demajors biasanya menawarkan beberapa opsi. Pertama adalah pasang lisensi. Artinya, Demajors yang akan memproduksi, membiayai, membuatkan perencanaan promosi sampai marketingnya. Sementara dengan sistem titip edar, Demajors hanya akan membantu pendistribusiannya rekaman saja.
Saat proses rekaman, meski ada produser eksekutif dari Demajors, David meyakinkan tak akan ada campur tangan Demajors dalam penataan dan pengaturan artistik. "Kalau kita masuk ke wilayah ini, jadi enggak beda sama mainstream. Mengatur lagu dan liriknya harus begini, chord-nya jangan yang terlalu berat supaya gampang diingat. Akhirnya streotip bisnisnya tidak berubah," kata David.
David melanjutkan, bahayanya jika pihak produser ikut campur soal artistik, musisi jadi tidak terlalu bebas mengembangkan diri. Padahal idealnya musikus punya pakem dan idealis sendiri dalam berkarya. "Setiap hari banyak banget demo yang masuk. Yang namanya proses kreatif memang enggak boleh berhenti kan."
Lalu apa kabarnya dengan hitung-hitungan bisnis dan target pendapatan? Bagaimana mereka menutupi biaya operasional jika tak tunduk pada selera pasar semata?. "Ya, wallahu alam sih sampai 13 tahun usia Demajors sekarang, kita masih di level yang aman, artinya kami tidak merugi tapi juga tidak memiliki keuntungan yang berlebihan," tutur David.
***
Hampir 80 persen konten musik yang ditawarkan oleh Demajors berasal dari negeri sendiri. Tapi mereka juga memegang beberapa lisensi artis internasional untuk di Indonesia, demi membina hubungan dengan musisi indie di ranah global. Di antaranya Monday Michiru, Thirdiq, Martin Denev, Joujouka, Root Soul, Domu.
Timbal baliknya ternyata cukup memuaskan. Sejumlah musikus di bawah naungan Demajors kini sudah mulai mendunia pula. Misalnya Burgerkill yang baru saja meraih penghargaan kategori Metal as F**k di ajang Golden Gods Award yang diadakan di London, Inggris.
Sementara, White Shoes and the Couples Company cukup sering diundang pada acara di luar negeri, mereka baru saja melakukan tur Eropa dan pada Agustus ini akan bertolak ke benua Australia.
(utw/utw)