Mengambil tema 'Freedom of Jazzpression', JGTC ingin menjadi perwujudan aliran musik yang mencerminkan kebebasan dan terus berevolusi seiring perkembangan zaman. Bahwa musik jazz saat ini sudah tak lagi dianggap 'musik kelas atas', dan bisa menjangkau semua kalangan.
Pukul 19.00 WIB panggung sudah mulai panas. Penampilan Fariz RM yang tampak santai dengan kemeja hitam lengan pendek ternyata tak sesederhana busananya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Usai puas melihat Fariz, dari panggung utama penampilan Tompi juga tak kalah ciamiknya. Penonton kali ini benar-benar membludak saat sang dokter tampil.
Tompi memang tahu benar mengajak penonton bernyanyi bersama dengan lagu-lagu andalannya. Penonton pun seperti tak rela kala Tompi akan mengakhiri performance-nya.
"Bayarnnya dikit mintanya banyak," canda Tompi di atas panggung. Dan kemudian lagu 'Balonku' pun dilantunkan.
"Ini untuk menghibur jiwa kekanak-kanakan yang ada di sini," tambahnya.
Usai Tompi, band Orange Pekoe asal Jepang juga disambut begitu hangat oleh penonton. Sekitar satu jam mereka tampil, 'penonton' Tompi tadi nyatanya tak terlihat surut dan tetap antusias melihat penampilan band tersebut.
Hingga akhirnya pukul 23.15 WIB, reuni The Groove muncul menjadi penutup JGTC dan mengajak goyang semua yang hadir. Tak kurang dari 36 performers siap menggoyang Campus Ground Fakultas Ekonomi UI, Depok. Tak seluruhnya berasal dari Indonesia, sebagian merupakan musisi jazz asing.
Martin Denev (Bulgaria) dan Orange Pekoe (Jepang) adalah beberapa nama musisi internasional yang dipastikan hadir. Selain itu ada juga Tinonho Horta yang berasal dari Brazil.
Sementara artis lokalnya sendiri adalah Tompi, Tohpati Bertiga, dan The Groove. Serta special project 'Indonesia Longplay Extended Project'.
(kmb/ich)











































