DetikHot

music

Ucok 'Homicide' Bicara Soal Musik dan Aktivisme

Minggu, 15 Okt 2017 18:10 WIB  ·   Dyah Paramita Saraswati - detikHOT
Ucok Homicide Bicara Soal Musik dan Aktivisme Archipelago Festival 2017 Foto: Dyah Paramita Saraswati
Jakarta - Bagi mereka yang sudah hidup di era reformasi mungkin masih ingat bagaimana lagu 'Bento' dan 'Bongkar' dikumandangkan pada demonstrari mahasiswa untuk menumbangkan pemerintahan Orde Baru saat itu.

Pertanyaannya, benarkah musik dan lagu protes memiliki peranan dalam aktivisme?

Hal itu yang menjadi perbincangan dalam panel berjudul 'Music & Activism' yang digelar di acara Archipelago Festival 2017, sebuah konferensi musik yang berlangsung pada 14-15 Oktober 2017 di Soehanna Hall, SCBD, Jakarta Selatan.

Ucok 'Homicide' menjadi pembicara pada panel tersebut dengan Taufiq Rahman sebagai moderatornya.

"Saya tidak percaya dengan adanya musik protes atau musik politis. Bagi saya itu ada karena kita harus punya terminologi," ujar Ucok dalam diskusi yang berlangsung pada Sabtu (14/10) tersebut.


"Yang ada adalah musik yang punya irisan, punya koneksi dengan pergolakan zaman," lanjut Ucok lagi.

Menurut Ucok ada kesalahan cara pandang terhadap musisi yang kerap menyampaikan suaranya terhadap isu sosial tertentu. Bagi Ucok, musisi adalah musisi, bukan aktivis.

Ucok mencontohkan dengan apa yang dilakukan oleh Efek Rumah Kaca ketika membuat lagu 'Di Udara'. Menurutnya, Cholil Mahmud dan kawan-kawannya bukanlah aktivis.

"Tapi musik yang mereka buat bisa menjadi media agar generasi ini bisa mengenal Munir, menangkap semangat jaman yang ada di Munir," tuturnya.

Baginya, musisi membuat lagu untuk menyampaikan apa yang ada dipikirannya. Tidak harus selalu bernada protes.

"Mungkin kesalahan pertama adalah bagaimana kita memandang musisi itu sendiri, kenapa kita nggak memandang figur itu sebagai bagian dari kehidupan," kata Ucok lagi.


Menurutnya lagi, bisa saja seorang musisi tidak membawakan lagu bernada protes, namun apa yang dilakukannya sangat lah politis.

"Misalnya ada musisi yang bermain di titik-titik penggusuran warga, meski sebenarnya lagu yang dibawakannya nggak ada pesan politiknya. Musik berbicara lain di sana," tuturnya.

Ucok pun menambahkan, bukan musik yang seharusnya membawa pesan politik dan memiliki tanggung jawab sosial. Yang memiliki tanggung jawab tersebut adalah pelaku yang kemudian menghidupkan musik tersebut.

"Saya nggak percaya musik punya tanggung jawab sosial, tapi musik itu harus hidup. Musik nggak harus punya pesan politis, bukan musiknya (yang seharusnya politis) tapi orang-orangnya, musisinya, komunitasnya harus punya irisan dengan semangat zaman," terangnya lagi.

Ucok kemudian menjelaskan, baginya musik bisa menjadi alat membawa suatu ide untuk masuk ke satu wilayah, akan tetapi musik juga tidak bisa membawa perubahan jika pendengarnya tidak reaktif.

"Musik itu bisa merubah pandangan satu dua orang untuk kemudian melakukan sesuatu di luar sana, tapi untuk merubah tatanan itu nggak," ujarnya.


"Musik itu akan punya peran besar ketika musik itu jadi nyawa dan denyut bagi orang-orang yang punya masalah di luar sana," sambungnya.

Dalam lagunya, rapper asal Bandung ini memang kerap menyuarakan protesnya terhadap isu-isu sosial yang terjadi. Tapi ketika ditanyai bagaimana caranya membuat sebuah lagu yang bisa relevan dengan semangat zaman, Ucok mengatakan ia tidak memiliki formulanya.

"Nggak ada, nggak ada template-nya, nggak ada how to-nya, nggak ada satu blue print harus apa. Yang penting nulis aja yang saya tahu, yang bisa dilihat dari apa yang sudah dihasilkan di Tanah Air. Coba untuk menangkap semangat zaman aja dan itu susah untuk didefinisikan," kata Ucok.
(srs/dar)

Photo Gallery
1 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed