Lupakan bagaimana festival tahun lalu itu mempomosikan karya sutradara Jean Paul Salome ini sebagai "film yang dibintangi oleh Gadis Bond". Lupakan judul versi Inggrisnya yang "komersil banget". Film ini adalah sebuah drama berlatar Perang Dunia II yang memanjakan kita dengan plot yang enak diikuti, gambar-gambar yang indah, dan akting para pemainnya yang menawan.
Sophie Marceau --oke, salah satu dari aktris yang pernah menjadi Gadis Bond itu-- berperan sebagai Louise, pejuang militan Perancis yang masih bertahan karena dendam atas kematian suaminya. Bersama kakaknya, Pierre (Julien Boisselier) dia direkrut oleh agen Inggris untuk menjalankan misi Perdana Menteri Winston Churchill, yang bernama Special Operations Executive (SEO).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Yang pertama terpikir adalah Jeanne (Julie Depardieu), seorang pelacur yang sedang dipenjara menunggu eksekusi mati karena kasus pembunuhan. Dengan iming-iming akan dibebaskan jika misi berhasil, ia yang awalnya menolak akhirnya menerima tawaran itu. Kemudian, Louise juga berhasil merekrut seorang ahli bom Gaelle (Deborah Francois) dan seorang penyanyi klab Suzy (Marie Gillain). Mereka lalu memanfaatkan Luzzato (Maya Sansa), seorang perempuan Yahudi yang pernah punya hubungan dengan komandan Nazi Kolonel Heindrich (Moritz Bleibtreu).
Film dibuka dengan adegan baku tembak di sebuah gudang di Perancis untuk memperkenalkan latar belakang kakak-beradik pejuang militan Louise dan Pierre, sebelum kemudian bersama tim "female agents" yang telah dibentuk, mereka terbang ke Inggris.
Dari markas SEO di Inggris, tim dikirim ke Normandy, diturunkan dengan parasut untuk menyusup ke rumah sakit tempat geologis Inggris yang menyimpan banyak rahasia itu dirawat. Dengan menyamar sebagai perawat, Louise dan kawan-kawan berhasil membebaskan sang ilmuwan, namun Pierre tertangkap. Komandan Nazi Kolonel Heindrich segera memerintahkan anak buahnya untuk mengejar para perempuan penyelundup itu, sebelum mereka menjalankan misi berikutnya.
Selebihnya, alur film ini mengajak kita untuk mengikuti petualangan Louise dan timnya menyelamatkan diri dari kejaran tentara Nazi. Adegan-adegan di lorong kereta bawah tanah, atau di dalam kereta api menjadi bagian dari puncak-puncak momen yang paling mengesankan sekaligus menegangkan dari film ini.
Julie Depardieu mencuri perhatian atas perannya sebagai pelacur-pembunuh yang awalnya sama sekali tidak peduli dengan politik perang Perancis namun lambat-laun berubah menjadi pejuang yang berani, berdedikasi dan bahkan rela berkorban.Β
Pertemuan kembali antara Luzzato dengan Kolonel Heindrich memunculkan ketegangan yang lain, dan membuat kita menebak-nebak, siapa yang akan mati di antara mereka berdua. Bagaimana pun, merekrut perempuan-perempuan "biasa" menjadi spionase memang tidaklah mudah, dan film ini menghadirkan drama itu dengan bagus berkat akting para pemainnya yang meyakinkan.
Sophie Marceau memerankan bagiannya dengan baik sebagai pejuang bawah tanah yang terbiasa dengan kekejaman, dingin dan tanpa perasaan merekrut perempuan-perempuan "tak berdosa".Β
Dengan pendekatan yang "old fashioned", sutradara Paul Salome tidak terlalu mengumbar sensasi kekerasan dan kengerian dalam mengangkat satu episode dari tragedi zaman Nazi. Kolonel Heindrich bahkan digambarkan dengan tidak terlalu sadis. Demikian juga dengan para agen perempuan itu, mereka juga tidaklah sangat jagoan.
Perang menjadi sesuatu yang tidak hitam-putih. Namun, tetap saja, dengan gaya klasiknya sebagai drama sejarah, film ini menampilkan sisi kelam perang sebagai mimpi buruk yang merengut kehidupan manusia-manusia, dari ilmuwan hingga pelacur.
(iy/iy)











































