'Long Road to Heaven' Ketok Pintu Warga Bali
Jumat, 16 Feb 2007 15:16 WIB
Denpasar - Setelah diputar di Jakarta, 'Long Road to Heaven' merambah Bali. Sebelum resmi diputar, kisah tragedi Bom Bali 1 itu, ditonton dulu oleh para korban bom dan tokoh agama Bali. Apa tanggapan mereka?Gede Martawan, waiter di Sari Club (klub yang menjadi sasaran pemboman), mengatakan, adegan-adegan di film yang disutradarai Enison Sinaro itu tidak seperti kejadian yang dialaminya. Jika saat kejadian ia sangat tegang, 'Long Road to Heaven' menurut Gede sama sekali tidak menegangkannya."Tapi saya bisa tahu proses kejadian, pelakunya siapa dan teknik pengebomannya seperti apa," ujar Gede memuji, ditemui usai pemutaran terbatas 'Long Road to Heaven' di kantor Gubernur, Jl Basuki Rahmat, Denpasar, Bali, Jumat (16/2/2007).Salah satu saksi mata bom Bali lainnya, H. Bambang, yang dalam 'Long Road to Heaven' diubah namanya menjadi H. Ismail, juga memberi komentar yang tak jauh berbeda dari Gede. Katanya, dalam film ia menjadi lebih banyak berfilosofi."Saya lebih banyak ngomong, sedangkan sebenarnya saya lebih banyak berbuat untuk menolong para korban," tuturnya.Produser 'Long Road to Heaven', Nia Dinata menjelaskan, pemutaran terbatas dilakukan sebagai ajang ketok pintu pada warga Bali. Karena cerita dalam filmnya cukup sensitif, Nia tidak mau berbuat gegabah dengan langsung memutar film yang syutingnya banyak dilakukan di Lombok itu.Sementara itu, menurut Ketua Badan Pembina Perfilman Daerah Bali Gusti Ngurah Gede, setelah pemutaran terbatas, lembaganya siap menerima masukan dari para tokoh agama dan masyarakat. Nantinya pendapat mereka akan menjadi acuan apakah 'Long Road to Heaven' layak diputar atau tidak di Bali."Kalau film itu tidak sesuai dengan kondisi masyarakat Bali dan diperkirakan akan membawa hal-hal yang kurang baik pada masyarakat Bali tentu kita tolak, kalau tidak ya kita terima," imbuh Gusti. (eny/eny)











































