Protes Aturan COVID di China: Blur Penonton Piala Dunia hingga Rindu Nonton Film

ADVERTISEMENT

Protes Aturan COVID di China: Blur Penonton Piala Dunia hingga Rindu Nonton Film

Asep Syaifullah - detikHot
Senin, 28 Nov 2022 21:04 WIB
BEIJING, CHINA -NOVEMBER 28: A protesters shouts slogans during a protest against Chinas strict zero COVID measures on November 28, 2022 in Beijing, China. Protesters took to the streets in multiple Chinese cities after a deadly apartment fire in Xinjiang province sparked a national outcry as many blamed COVID restrictions for the deaths. (Photo by Kevin Frayer/Getty Images)
Demo peraturan COVID di China. Getty Images/Kevin Frayer
Jakarta -

China kembali memberlakukan aturan protokol kesehatan COVID yang ketat yang membuat masyarakat kembali gusar. Badai protes atas kebijakan itu pun merebak ke mana-mana, apalagi banyak hal yang dilakukan pemerintah yang cukup aneh, seperti sensor pada penonton Piala Dunia 2022 yang tak memakai masker.

Kejadian ini terjadi pada pertandingan antara Jepang melawan Kosta Rika yang ditayangkan oleh stasiun televisi pemerintah yakni CCTV. Mereka mengedit tayangan yang menampilkan para penonton yang hadir tanpa mengenakan masker di stadion dengan beberapa gambar para pemain dan official.

Pada beberapa pertandingan lainnya pun hampir jarang sekali mereka menampilkan situasi para penonton di stadion (yang memang hampir seluruhnya tanpa masker) dengan gambar lainnya atau memilih untuk melakukan blur pada gambar para penonton yang duduk di belakang para bintang sepakbola tersebut.

Hal ini ternyata bermula dari protes masyarakat yang melihat kondisi di Qatar, tempat perhelatan Piala Dunia 2022, yang awalnya ditayangkan tanpa sensor seperti yang disebutkan tadi. Mereka pun melakukan protes dan membandingkan situasi di sana dengan apa yang mereka alami dengan ketatnya kebijakan terkait Zero COVID.

"Apakah ini World Cup 2018? Tak ada yang khawatir sama sekali dengan virus," tulis salah seorang netizen.

Beberapa unggahan dan komentar sarkas pun langsung menghilang dari media sosial seperti WeChat dan Weibo. Pemerintah pun langsung menerapkan sensor terhadap tayangan seluruh pertandingan tersebut.



Selain itu juga, terjadi demo terkait kebijakan COVID yang diberlakukan dan berimbas ke industri film. Dalam sebuah video yang diambil di Shanghai, tampak para pendemo meneriakkan 'Kami ingin nonton film!' dan cukup ramai dibahas oleh para sineas di seluruh dunia.

China memang mengalami penurunan tajam di sektor industri film dan hanya mampu mendapatkan setengah dari jumlah pendapatan mereka di 2019. Dilansir dari beragam sumber, disebutkan ada penurunan sebesar 35 persen di 2021, di mana total pendapatan tahunan mereka hanya mencapai Rp 59 triliun saja dan berbeda jauh dari 2019 di mana mereka mendapatkan Rp 127 triliun.

Per hari ini pun penjualan tiket bioskop di sana menurun tajam hingga 36 persen dibandingkan tahun lalu dan 50 persen dibandingkan sebelum pandemi, dilansir dari Artisan Gateway.

Hingga saat ini pun, film terkini yang meraup pendapatan terbesar di tahun ini dicapai oleh Home Coming yang dibintangi oleh Zhang Yi hingga Yin Tao. Film drama yang menceritakan penyelamatan diplomat China di Afrika Utara itu meraup pendapatan kotor sebesar 211 juta USD atau senilai Rp 3,3 triliun sejak dirilis pada 30 September 2022.

Selain pandemi, penurunan industri perfilman China pun disebabkan beberapa masalah politis yang terjadi akhir-akhir ini. Ada beberapa kebijakan yang dianggap sangat aneh dan membuat para rumah studio besar menjadi tak produktif. Minat publik untuk kembali ke bioskop pun mulai menurun dan lebih memilih menyaksikan film di layanan OTT.



Simak Video "Bantahan China soal Tudingan Tidak Transparan Terkait Covid-19"
[Gambas:Video 20detik]
(ass/mau)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT