Pak Sandi, Mengapa Hollywood Lebih Pilih Bali CGI?

ADVERTISEMENT

Pak Sandi, Mengapa Hollywood Lebih Pilih Bali CGI?

Tim detikcom - detikHot
Selasa, 05 Jul 2022 16:39 WIB
Menparekraf Sandiaga Salahuddin Uno di Sleman, Jumat (1/7/2022).
Menparekraf Sandiaga Uno saat hadiri sebuah acara. Pradito Rida Pertana/detikJateng
Jakarta -

Jika ingat dengan film Red Notice, di sana ada adegan yang berlatarkan Bali. Namun sayangnya film yang dibintangi oleh Ryan Reynolds, Dwayne Johnson dan Gal Gadot itu tak benar-benar syuting di sana, alias hanya CGI.

Hal itu pun sempat ramai dan dikritisi oleh masyarakat. Mereka merasa heran apakah ada regulasi yang membuat pihak produksi luar negeri menjadi kesulitan untuk syuting di Indonesia.

Menanggapi hal tersebut, Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Menparekraf) Sandiaga Uno menyebutkan jika hal itu jadi tantangan dan koreksi bagi pemerintah.

"Mengapa tidak syuting langsung ke Bali, ini tentu menjadi tantangan sekaligus sebagai koreksi bagi kita dan para pelaku industri film sebagai bagian dari ekosistem perfilman nasional," ujarnya, Selasa (5/7).

Ia pun menjelaskan, hingga saat ini belum ada aturan khusus seperti insentif untuk rumah produksi asing yang ingin melakukan produksi di Tanah Air dan hal itu hanya berlaku bagi para sineas lokal yang berkoordinasi dengan pemerintah daerah serta Badan Perfilman Indonesia.

Sandiaga Uno pun sedikit mengungkit soal fenomena film Eat, Pray, Love yang mengambil lokasi syuting di Bali. Hal itu diyakininya sebagai salah salah booster yang menaikan pamor pariwisata daerah.

"Kita mempunyai destinasi wisata yang sukses digunakan sebagai lokasi syuting film layar lebar. Film tersebut sukses tayang dan membawa dampak positif pada promosi dengan naiknya popularitas destinasi wisata tersebut. Tidak lama kemudian lokasi syuting film itu banyak dikunjungi wisatawan."

"Sebagai contoh, Film 'Eat, Pray, and Love' dibintangi Julia Robert, sebagian mengambil lokasi syuting di kawasan Ubud Bali, tahun 2010 sukses tayang di seluruh dunia. Dampaknya, tidak lama kemudian kunjungan turis ke Bali, khususnya ke kawasan Ubud, meningkat tajam. Berkaca dari kisah sukses tersebut, menjadi kontradiksi bila ada film makers mengambil lokasi syuting di luar negeri, dengan setting Bali," terangnya.

Ia menjelaskan salah satu faktor kenapa beberapa rumah produksi luar enggan syuting di Indonesia karena efesiensi biaya akibat pandemi COVID-19.

"Salah satu faktor yang mempengaruhi mengapa film luar memilih syuting ala Indonesia di studio adalah terkait efisiensi biaya produksi dari PH tersebut dan dengan adanya kondisi pandemi untuk melakukan produksi film seperti pengambilan gambar di Indonesia memerlukan biaya yang besar dan persyaratan dokumen yang lebih detail untuk memitigasi resiko yang mungkin dapat terjadi dengan kedatangan tim produksi dan talent asing tersebut," ujarnya.

Jika bicara soal biaya, Red Notice sendiri merupakan film termahal yang pernah diproduksi oleh Netflix. Mereka bahkan sampai menggelontorkan 160-200 juta USD atau senilai Rp 2,8 triliun untuk produksi film tersebut.

Film tersebut pun meraup kesuksesan yang cukup besar dengan jumlah waktu tayang selama 278 juta jam dan berada di bawah Bird Box yang mencapai 282 juta jam. Angka itu tak bisa disamaratakan dengan penayangan di bioskop.

Lihat juga video 'Jabodetabek Kena PPKM Level 2 Jawa Bali, Simak Aturannya':

[Gambas:Video 20detik]



(ass/nu2)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT