Top Gun: Maverick, Misi Sulit dan Masa Lalu yang Rumit

Tim detikcom - detikHot
Rabu, 25 Mei 2022 19:24 WIB
Jennifer Connelly di Top Gun: Maverick (2022)
(Foto: Dok. Paramount) Terlepas dari apakah kamu sudah menyaksikan Top Gun (1986) atau belum, Top Gun: Maverick adalah sajian yang tidak bisa dilewatkan begitu saja di layar besar.
Jakarta -

Berselang puluhan tahun dari kejadian di Top Gun, Pete 'Maverick' Mitchell (Tom Cruise) mendapat sebuah misi khusus yang berbahaya. Dia diminta buat melatih para pilot-pilot terbaik dan menunjukkan mereka cara untuk sukses menyelesaikan misi ini. Tapi kesuksesan misi ini di benak Pete dan bosnya ternyata berbeda.

Buat Pete yang dikenal juga dengan nama Maverick itu, misi ini tidak hanya harus berhasil karena tugas para pilot selesai sesuai komando. Tapi mereka juga harus bisa kembali pulang dengan selamat dan tidak ada yang gugur dalam misi tersebut. Buat Maverick, tantangan terbesarnya bukan hanya memberi pelatihan pada para pilot demi menyelesaikan misi besar itu, tapi justru bagaimana dia bisa mengobati luka batin yang dirasakannya atas kehilangan sang sahabat di film pertama.

Maverick tidak ingin melewati lubang neraka yang sama dua kali. Maka kali ini dia harus berhasil melaksanakan misi tanpa ada korban jiwa.

Buat yang menyaksikan Top Gun: Maverick sebagai kelanjutan dari film pertamanya, mereka akan merasakan sebuah roller coaster emosi yang luar biasa. Karakter-karakter lama yang tampil kembali memberikan kesan nostalgia yang kental sementara wajah-wajah baru menambah warna dari cerita. Peran wajah-wajah baru dalam perkembangan karakter Kapten Pete pun sangat penting sehingga mereka bukan hanya sekadar pajangan berwajah tampan dan cantik.

Di sisi lain, buat mereka yang tidak pernah menyaksikan film pertama Top Gun karena dirilis jauh sebelum mereka lahir, atau belum terpikir buat menyaksikan film tersebut dan langsung melompat ke sekuelnya pun tidak jadi masalah. Konflik batin yang dialami Pete di film pertama masih dibawa ke Top Gun: Maverick dan diceritakan dengan jelas dan tanpa bertele-tele. Tentu semuanya akan jadi lebih masuk akal apabila menyaksikan film kedua ini setelah melihat film pertamanya. Meski demikian, apabila ditonton dalam urutan terbalik pun rasanya tak masalah.

Alih-alih memikirkan sederet kejadian di film pertama yang membawa kita ke sederet konflik di film kedua, penonton mungkin bakal jauh lebih fokus dengan aksi terbang para pilot yang tidak main-main. Sinematografi yang disajikan Claudio Miranda memberi kesan epik dan akan membuat kamu yang menyaksikan film ini di layar IMAX akan ikut melayang terbang dan berputar-putar di udara. Setiap ledakan terasa nyata, setiap kali pesawat berbelok hingga jungkir-balik di udara rasanya seperti ikut terbang di atas langit. Di level yang lebih parah, kamu mungkin bisa ikut pusing dibuatnya.

Selain aksi epik di angkasa, Top Gun: Maverick juga menghadirkan lelucon yang tidak berlebihan. Love-hate relationship antara Rooster (Miles Teller) dan Maverick memunculkan rasa gemas dan hangat di saat yang sama. Senyuman yang diberikan Pete ke Penny (Jennifer Connelly) akan bikin hanyut dan berharap kali ini keduanya akan benar-benar bersama tanpa terlalu banyak drama.

Mudah sekali untuk seratus persen mendukung Pete dalam film ini tanpa pikir panjang. Sejak kemunculan pertama dia di layar dan percobaan penerbangan menuju Mach 10 di pembuka film, penonton tidak dibuat sedikitpun meragukan diri atau kemampuan Pete sampai di akhir film. Kalau ada orang yang akan menang dalam segala pertarungan hidup, bisa jadi Pete adalah orangnya.

Terlepas dari apakah kamu sudah menyaksikan Top Gun (1986) atau belum, Top Gun: Maverick adalah sajian yang tidak bisa dilewatkan begitu saja di layar besar. Jangan tunggu sampai film ini datang ke platform streaming karena pengalaman nontonnya pasti sangat berbeda.

Top Gun: Maverick sudah tayang di seluruh jaringan bioskop Indonesia.

(aay/wes)