Pentingnya Kritik Buat Industri Film Indonesia

Tim detikcom - detikHot
Senin, 23 Agu 2021 15:48 WIB
Sejarah Popcorn hingga Jadi Camilan Bioskop Favorit
(Foto: iStock) Ilustrasi film.
Jakarta -

Belakangan sedang ramai di media sosial tentang kritik yang diberikan publik terhadap film Selesai. Tak hanya buat filmnya, kritik pun ditujukan untuk sang sutradara yakni Tompi.

Kritik terhadap Tompi diberikan usai dirinya bicara dalam sebuah diskusi film di Space Twitter. Beberapa di antaranya menyebut soal bagaimana film Selesai terlalu menyudutkan perempuan hingga kualitas film tersebut yang seperti sinetron.

Jawaban Tompi terhadap kritik yang ditujukan kepadanya juga mengundang reaksi lain dari netizen. Dalam sebuah wawancara dengan detikcom, Tompi menjelaskan sudut pandangnya mengenai kritik yang diberikan terhadapnya. Dia pun menampung kritik dan menjadikan hal tersebut bahan belajar, meski tak juga memungkiri bahwa tidak semua kritik akan diterimanya.

"Saya rasa ini sesuatu yang menarik ya, artinya ini isu yang dibawa berhasil merangsang orang untuk berpikir lebih jauh. Ada yang merasa senasib, ada yang senang, ada yang mungkin tidak senang, itu hal yang biasa dalam menanggapi sebuah permasalahan yang difilmkan," ungkap Tompi kepada detikcom, Jumat (20/8/2021).

Berdekatan dengan ramainya kritik terhadap Tompi, sebuah diskusi lain digelar Joko Anwar lewat Space Twitter. Dalam satu bagian diskusi tersebut, Joko Anwar mengundang Eric Sasono, seorang kritikus film kawakan Indonesia yang pernah mendapat Piala Citra untuk Best Film Critic.

Dalam diskusi tersebut dibahas soal pentingnya kritik film buat ekosistem industri di Indonesia. Eric Sasono juga memberikan perbandingan antara industri film di Indonesia dengan di negara lain seperti Perancis, Inggris, hingga Amerika Serikat.

"Kritikus film harus menjadi bagian dari ekosistem industri. Dari berbagai aspek, tentu dia memberikan kontribusi dan itu menjadi sesuatu yang 'alamiah'. Ketika film pertama kali muncul kan bikin orang takjub dan kagum pada masanya. Itu kan mengundang orang untuk menulis, baik diminta atau tidak, baik dalam pikiran untuk mendukung atau pun tidak. Bahwa keajaibannya itu sendiri, daya tariknya itu sudah mengundang perhatian," beber Eric.

Lebih lanjut lagi Eric Sasono menjelaskan bahwa kritik adalah bagian dari apresiasi. Selain itu, kritik film juga disebut bisa membuat berjalan menemani industri untuk jadi lebih dewasa.

"Kalau kita bicara ekosistem perfilman, perannya (kritik film) macam-macam sekali. Yang paling dasar, kritik adalah bagian dari apresiasi. Kaitannya sama literasi film, pengetahuan film, dan seterusnya. Tapi dia juga bisa menjadi bagian dari kedewasaan industri. Kedewasaan itu berkaitan dengan kritik sebagai sebuah upaya membangun 'standar kualitas industri'," lanjut Eric Sasono.

Eric Sasono kemudian memberikan gambaran soal kritik film dari negara lain. Kritik di negara-negara seperti Inggris, Amerika Serikat, dan Perancis, dinilai Eric sebagai sebuah perhatian untuk industri. Dengan kritik tersebut, industri perfilman bisa terpacu untuk terus menghasilkan karya berkualitas untuk penonton.

[Gambas:Instagram]

Eric Sasono mengibaratkan para kritikus film sebagai sosok pengawal. Sosok yang menemani industri agar terus tumbuh dan berkembang.

"'Standar kualitas industri' dalam pengertian bahwa misalnya majalah-majalah seperti Variety atau Screen, majalah-majalah yang tumbuh bersama dengan Hollywood dan industri film di Inggris. Itu mereka punya perhatian supaya industrinya terus bisa menghasilkan karya-karya yang terus bisa diterima penonton. Makanya mereka menerapkan semacam 'mengawal' industrinya untuk terus tumbuh," terang Eric Sasono.

Lantas bagaimana dengan kritik film di Indonesia? Menurut Eric Sasono, kritik film Tanah Air masih tertatih-tatih.

"Kritik film di Indonesia fungsinya lebih banyak masih agak tertatih-tatih di dalam apresiasi, meningkatkan apresiasi, literasi film, karena satu hal, budaya film di Indonesia berbeda dengan Perancis atau Inggris, juga dengan Amerika Serikat. Film selalu dianggap sebagai hiburan yang tidak punya nilai seni, tidak punya sumbangsih terhadap nasionalisme. Dengan kultur semacam itu, sinema tidak jadi bagian dari diskusi kebudayaan yang luas secara umum. Perannya bisa dibilang di pinggiran, meskipun belakangan, secara umum kehidupan kebudayaan di Indonesia bisa mengalami diskusi yang berbeda dengan diskusi besar tahun 30an atau 80an. Sekarang eranya sudah berbeda juga," tandasnya.

(aay/wes)