Ngeri Krisis Sampah Plastik dalam Dokumenter Pulau Plastik

Devy Octafiani - detikHot
Kamis, 08 Apr 2021 14:51 WIB
Pulau Plastik
Foto: (dok. Watchdoc/Visinema)
Jakarta -

Plastik bukan hal asing dalam kehidupan sehari-hari. Materi itu jadi bahan kemasan sampai alternatif pengganti alat jinjing yang digunakan banyak dari kita.

Namun plastik yang tampak sepele karena ringan dan jadi alat bantu membawa barang, pembungkus makanan, pengganti gelas minuman hingga jadi sedotan itu diam-diam tertumpuk dan membawa ancaman.

Cermin dari keberadaan sampah plastik yang tak bisa diurai secara alami itu direkam dalam dokumenter berjudul Pulau Plastik. Dokumenter garapan Dandhy Laksono dan Rahung Nasution itu menjabarkan bagaimana keberadaan sampah-sampah plastik yang jadi konsumsi publik itu menggunung dan sulit diolah.

Selama ini isu sampah plastik sudah digaungkan. Di Bali, gerakan menolak plastik sudah digerakkan. Dokumenter ini juga menampilkan upaya organisasi hingga aktivis dan musisi asal Bali, Robi Navicula ambil bagian untuk menyebarkan visi menjaga bumi dari sampah plastik.

"Plastik kan selama ini ada gagasan di-reduce, reuse, recycle tapi nggak segampang itu ternyata, aktivitas global yang terjadi di luar itu juga berdampak ke Indonesia," ungkap Robi dalam jumpa pers via Zoom, Kamis (8/4/2021).

Dandhy Laksono mengungkapkan, dari data yang diperoleh, sampah plastik di kawasan Indonesia yang didominasi oleh lautan sudah ada pada titik kritis. Selain dari daratan, limbah sampah plastik dari laut tak terhindarkan disumbang dari kapal-kapal laut.

Pulau PlastikPulau Plastik Foto: (dok. Watchdoc/Visinema)

"Kalau dulu pergi haji dengan naik kapal misalnya, nggak akan terlalu berdampak kalau sampah dari kapal dibuang ke laut karena nggak seperti sekarang, sampahnya masih organik dan masih bisa diurai. Berbeda dengan sekarang," ungkapnya.

Dokumenter ini menyoroti pada tiga sosok yang menyuarakan hal yang sama mengenai bahaya sampah tersebut. Selain Robi Navicula, dokumenter Pulau Plastik juga menyoroti aktivitas pengacara muda Tiza Mafira juga ahli biologi dan penjaga sungai di Jawa Timur, Prigi Arisandi.

Ketiganya menelusuri sejauh mana jejak sampah plastik menyusup ke rantai makanan kita, dampaknya terhadap kesehatan manusia, dan apa yang bisa dilakukan untuk
menghentikannya.

Dokumenter ini dijadwalkan tayang di bioskop pada 22 April 2021. Dokumenter Pulau Plastik dirilis bertepatan dengan momen Hari Bumi yang jatuh dan diperingati di setiap 22 April.



Simak Video "Alasan Dandhy Laksono Bawa Isu Sampah Plastik ke Film Dokumenter"
[Gambas:Video 20detik]
(doc/dar)