Kondisi Perfilman Nasional di Setahun Pandemi

Devy Octafiani - detikHot
Selasa, 30 Mar 2021 14:07 WIB
Habibie dan Ainun
Foto: Habibie & Ainun 3 (dok.MD Pictures)
Jakarta -

Bicara tentang bioskop, tentu tak lengkap tanpa membahas film. Film nasional ada dalam kondisi yang tak mudah seperti yang dialami industri film secara global karena pandemi.

Produksi film terhenti, padahal perfilman nasional sudah mencapai titik yang optimal pada 2019 dengan pencapaian 52 juta penonton. Ada total 129 film yang dihasilkan dengan rata-rata 400 ribu penonton per satu film.

Indonesia juga tercatat di 10 besar negara dengan pasar film terbesar di dunia.

Kini jumlah film Indonesia merosot drastis. Di samping penghentian banyak produksi film, ditutupnya bioskop sejak akhir kuartal pertama hingga kuartal empat tahun 2020 otomatis membuat penonton film tak ada.

Kini terhitung lima bulan bioskop sudah kembali dibuka namun kepercayaan publik belum sepenuhnya kembali.

"Tahun ini tahun 2021 sudah ada 7 film yang beredar. Dan penontonnya 390 ribu, untuk seluruh 7 film. Jadi udah tau dong kondisinya kayak apa? Pekerja di industri perfilman di subsektor film, animasi, video itu mencapai 50 ribu orang di tahun 2019. Dan ada sekitar 2.500 usaha yang kontribusinya hanya untuk gross domestic product itu sumbangannya lebih dari Rp 15 triliun," ungkap produser Chand Parwez saat dihubungi belum lama ini.

Belakangan, tak sedikit film Indonesia yang kemudian dirilis lewat OTT. Namun menayangkan film di bioskop dengan secara digital adalah dua hal yang berbeda.

Di sisi lain, kasus pembajakan makin meningkat dengan hadirnya sejumlah film lewat streaming.

"Pendapatan bioskop itu buat film masih yang terbesar. Marketnya belum bisa digantikan oleh digital. Karena kalau dijual ke digital, digital hanya bisa mengurangi kerugian saja. Tidak mendapatkan keuntungan. Dan pembajakan masih merajalela, kalau kita masuk ke digital, langsung dibajak. Tahun 2017 riset dari LPM UI, di 4 kota saja kerugian akibat pembajakan aja Rp 1,495 triliun hampir Rp 1,5 triliun. Dan estimasi kerugian secara nasional ini sampai Rp 5 triliun per tahun," sambung produser rumah produksi Starvision Plus ini.

Chand Parwez mengungkapkan, ia sebagai produser kini mengambil langkah yang hati-hati. Membuat sebuah film dikatakannya memakan biaya hingga Rp 10 miliar.

Rumah produksinya memiliki 9 film yang dua di antaranya dilepas ke digital. Namun sisanya ia pertahankan untuk menghindari kerugian.

Chand Parwez mengatakan, untuk itu ia dan para insan film mengambil langkah untuk menyampaikan surat terbuka kepada Presiden Jokowi belum lama ini. Seiring dengan vaksin yang sudah disebarkan untuk publik, ada harapan film Indonesia dapat meramaikan bioskop pada bulan Juli.

"Presiden menanggapi dengan sangat baik, beliau sudah janji untuk pembentukan Satgas untuk menangani pembajakan. Beliau juga menyarankan misalnya mau melakukan perbaikan di mulai di bulan Juli. Karena di bulan Juni diharapkan ada 70 juta masyarakat yang divaksinasi. Jadi kita berencana per Juli ini bagaimana kita menciptakan gairah orang untuk kembali menonton di bioskop," ungkap Chand Parwez.

Simak juga 'Cerita di Balik Ramai-ramai Posting 'Surat untuk Presiden'':

[Gambas:Video 20detik]



(doc/dar)