The Professor and the Madman: Permata yang Tersembunyi

Shandy Gasella - detikHot
Kamis, 05 Nov 2020 18:30 WIB
The Professor and The Madman
Mel Gibson dan Sean Penn dalam The Professor and The Madman / Foto: (dok.ist)
Jakarta -

Diedarkan di bulan Maret 2019 di sekitar 30 negara di dunia, bioskop di Singapura berkesempatan dapat jatah tayang di bulan Juli 2019, tapi sayang The Professor and The Madman tak sempat mampir ke Indonesia. padahal sejumlah film rilisan Voltage Pictures sebelumnya sering ditayangkan di bioskop tanah air.

Terus terang film yang dibintangi Sean Penn dan Mel Gibson ini tak terdeteksi keberadaannya, setidaknya oleh saya sendiri, sejak lebih dari setahun lalu film ini diedarkan. Tak ada iklan promo trailer, tak ada kritikus film yang merekomendasikannya, hingga kemudian film ini ditayangkan di Mola TV. Sebuah permata yang terkubur dalam genangan lumpur ini akhirnya saya temukan.

Film The Professor and The Madman dimusuhi oleh hampir sebagian besar kritikus film di Amerika untuk alasan yang tidak saya pahami betul, dan pada intinya bukan berkenaan dengan kualitas atau nilai artistik filmnya sendiri, tetapi drama di layar belakang yang mengindikasikan adanya skandal selama proses pembuatannya. Tapi, mari kita kesampingkan hal tersebut, dan melihat film ini selaiknya ia dilihat, yakni apa yang ia tawarkan sebagai sebuah tontonan. Siapa sangka film biografi yang berkisah tentang penyusunan buku kamus bahasa Inggris Oxford (Oxford English Dictionary) di awal abad ke-19 bisa semenarik dan semenggugah ini?

The Professor and The MadmanMel Gibson dan Sean Penn dalam The Professor and The Madman Foto: (odk.ist)

The Professor and The Madman dibuka dengan kisah seorang berkebangsaan Skotlandia bernama James Murray (Mel Gibson, Braveheart, Lethal Weapon), seorang ahli bahasa yang memahami banyak bahasa di dunia berikut keilmuannya, dan ia mempelajarinya secara otodidak. Ia ditantang oleh para guru besar di universitas Oxford untuk menyusun apa yang kemudian bakal kita kenal sebagai Oxford English Dictionary, kamus yang kita gunakan sebagai rujukan pertama untuk mempelajari bahasa Inggris. Tapi, tak semua guru besar Oxford menghormatinya lantaran ia tak memiliki latar belakang pendidikan formal, sebagian terang-terangan tidak memberi dukungan. James berjanji akan menuntaskan pekerjaannya dalam waktu lima hingga tujuh tahun, mencatat setiap kata yang ada dalam bahasa Inggris, melabelinya arti, cara pengucapan, dan asal usul kata per kata. Ia pun memboyong isteri (diperankan Jennifer Ehle, Zero Dark Thirty) dan anak-anaknya ke Oxford, membangun satu ruangan kantor baginya untuk bekerja siang malam, dan mempekerjakan dua orang asisten.

Sementara itu, dalam waktu bersamaan namun berbeda tempat - tapi masih di Inggris, dan pada mulanya seolah tak berhubungan sama sekali, terjadi peristiwa pembunuhan oleh seorang dokter veteran perang berkebangsaan Amerika bernama William Chester Minor (Sean Penn, I am Sam, Mystic River) terhadap seorang pria asing (diperankan Shane Noone) yang ia kira sebagai orang yang semula hendak membunuhnya. William menderita penyakit mental serius. Atas tindakannya tersebut, ia didakwa bersalah dan ditempatkan di sebuah rumah sakit jiwa. Tapi, tak sedetik pun masa hukumannya ia lewati tanpa penyesalan. Lewat bantuan sipir bernama Muncie (Eddie Marsan, Happy-Go-Lucky, The Gentlemen dan kini The Professor and The Madman), ia meminta agar upah yang ia terima sebagai pensiunan dikirimkan kepada Eliza (Natalie Dormer dari serial Game of Throne), seorang wanita yang telah ia jandakan. Pada mulanya Eliza menolak, tetapi keadaannya yang miskin dan kebutuhan anak-anaknya agar tercukupi pada akhirnya membuatnya tak kuasa menolak pemberian dari seorang yang telah membunuh suaminya tersebut.

Lantas bagaimana dua peristiwa berlainan ini berkelindan dalam film The Professor and The Madman garapan Farhad Safina, debut penyutradaraannya setelah sebelumnya sempat menulis skenario Apocalypto, film action mengesankan garapan Mel Gibson yang sempat edar di tahun 2006? Murray ceritanya kewalahan dalam menginventaris kata-kata, mencari asal usul kata-kata lewat karya-karya sastrawan Inggris, hingga kemudian ia mengusulkan untuk mencari relawan yang bersedia mengirimkan kata-kata yang pernah tertulis dalam buku, disertai kutipan lengkap dalam sebuah kalimat, dan seterusnya. William yang berusaha untuk menjaga kewarasannya, dan ia percaya untuk dapat tetap waras hanya bila ia sibuk bekerja hingga kegilaan dapat menjauh dari pikirannya. William, meminta bantuan kepala RSJ agar memberinya buku dengan jumlah ratusan bahkan ribuan eksemplar, tak butuh waktu lama, siang malam ia dedikasikan hidupnya mencari kata per kata, mengurutkannya dengan teliti dan ia kirimkan lewat pos kepada James.

Alur The Professor and The Madman kemudian menyoroti pekerjaan James terpangkas beberapa bulan bahkan tahun atas peran serta William dalam mencari kata-kata spesifik yang diinginkan James beserta asal usulnya secara keilmuan. Didasari rasa terima kasih dan kekagumannya, James menemui William di RSJ tempatnya ditawan. Siapa sangka, seorang pesakitan berkebangsaan Amerika yang didakwa kasus pembunuhan berat yang juga menderita penyakit mental, ternyata turut berkontribusi atas terciptanya kamus bahasa Inggris Oxford. Keduanya lalu menjalin persahabatan. Waktu terus bergulir, William lambat laun juga menjalin hubungan istimewa dengan Eliza. Setengah durasi menuju akhir banyak pergolakan batin yang terjadi pada diri William, yang mempengaruhi kehidupan dua orang terdekatnya, yakni James dan Eliza.

The Professor and The MadmanMel Gibson berperan sebagai ahli bahasa dan Sean Penn sebagai dokter veteran perang yang mengalami trauma / Foto: (odk.ist)

Sesungguhnya tanpa elemen romansa pun, bila The Professor and The Madman hanya berfokus pada apa yang tertera dalam judulnya sendiri, yaitu tentang seorang profesor dan orang gila, dengan panampilan Sean Penn yang begitu menjiwai perannya, seolah ia tenggelam dalam peran yang ia bawakan, juga Mel Gibson yang tampil sama kuatnya, film ini bakal tetap enak diikuti. Tetapi, bukan Hollywood namanya bila kita tak menemukan sedikit saja elemen klise di dalamnya. Bukan artinya bahwa unsur romansa yang melibatkan Minor dengan Eliza buruk, bahkan saya menganggap penampilan Natalie Dormer amat mengesankan dengan kemampuannya mengimbangi Sean Penn tanpa terlihat susah payah, hanya saja fokus cerita jadi terbagi tak cukup merata.

The Professor and the Madman adalah tentang determinasi, sejauh apa manusia dapat melangkah, dan juga tentang cinta dan welas asih, tentang pengampunan. Siapa sangka nilai-nilai tersebut dapat ditemui dalam sebuah film yang bercerita tentang penemuan sebuah kamus! Film ini layak dan patut ditonton bukan karena ia mengisahkan cerita nyata bersejarah, tetapi hanya demi menyaksikan Sean Penn berakting di dalamnya saja sudah jadi satu alasan yang sahih.

Sean Penn selalu dapat diandalkan, terutama di sini, ia memperlihatkan emosi, luka dan kegilaan yang ia manifestasikan sedemikian atas pembacaan terhadap situasi dan kondisi yang menimpa karakternya, dan apa yang ia tunjukkan menarik kita untuk menyelami dan memahaminya, seolah kita diajak menjadi saksi atas segala pergulatan hidup yang dijalaninya. Adalah sungguh aneh bin ajaib, film The Professor and The Madman dengan narasi kuat serta didukung jajaran pemain yang luar biasa, terutama (lagi-lagi) Sean Penn, film ini teramat underrated (kurang diapresiasi), untuk tak menyebutnya dibenci sebagian besar kritikus Amerika.

Secara in toto, memang bukan film yang sempurna, tetapi Sean Penn tak terbantahkan, memberikan performa terbaiknya sebagai aktor di film The Professor and The Madman ini. Dan ia layak disanjung setinggi langit. Film ini layak disanjung atas usahanya mengisahkan manusia-manusia luar biasa yang dapat menggerakkan relung hati manusia lainnya agar selalu ingat bahwa kita istimewa lantaran kita memiliki kapasitas untuk menyayangi dan bersikap welas asih terhadap sesama. Terdiri dari 12 buku, 414.825 kata, dan 1.827.306 kutipan ilustratif, edisi pertama kamus bahasa Inggris Oxford diselesaikan pada 1 Januari 1928. Tujuh puluh tahun lamanya dikerjakan sejak pertama kali diinisiasi.

The Professor and the Madman dapat ditonton di aplikasi Mola TV.



Simak Video "Haaland 2 Gol, Dortmund Bekuk Freiburg 4-0 "
[Gambas:Video 20detik]
(doc/doc)