The Professor and The Madman, Ketika Ilmu Pengetahuan Beradu dengan Kegilaan

Dyah Paramita Saraswati - detikHot
Jumat, 09 Okt 2020 21:18 WIB
The Professor and the Madman
Foto: dok. Mola TV
Jakarta -

Ada istilah yang lekat dengan ilmu pengetahuan. Ia berbunyi, 'jarak antara kegilaan dan kejeniusan hanya diukur oleh kesuksesan'.

Istilah tersebut menempel pada sosok Sean Penn yang tampil dalam film barunya berjudul The Professor and The Madman. Ia menjadi bagian dari visual yang menghidupkan sejarah asal-usul tentang pemberdayaan ilmu pengetahuan mengenai asal usul bahasa Inggris, tepatnya kamus Oxford English Dictionary.

Bertahun-tahun setelah kamus itu tercipta, Oxford English Dictionary masih menjadi rujukan paling banyak digunakan untuk menelaah makna kata dalam bahasa Inggris.

Dalam film, tokohnya akan bersinggungan dengan seseorang bernama James Murray (Mel Gibson), pria yang memiliki kemampuan di atas rata-rata dalam hal bahasa.

Sebelum itu, Murray mencoba untuk bisa diterima sebagai editor dalam proyek penyusunan kamus bahasa Inggris yang nantinya dikenal sebagai Kamus Bahasa Inggris Oxford.

Namun tak semudah itu Murray mewujudkan keinginannya. Ia diragukan karena latar pendidikannya yang rendah.

Murray pun membuat deretan daftar kata-kata yang bisa dimasukkan dan disusun secara lengkap, baik secara makna maupun sejarah. Ia bekerja keras membuat kamus tersebut bersama rekannya.

Murray akhirnya membuat pengumuman kepada publik untuk ambil bagian sebagai kontributor dalam proyek penggarapan kamus ini. Di antara banyaknya pesan yang ia terima, ada William Chester Minor, seorang mantan tentara perang dunia yang ditahan karena pembunuhan. Ia membombardir Murray dengan daftar-daftar kata beserta asal usulnya.

The Professor and The Madman menampilkan jalinan kerja sama antara James Murray dan William Chester Minor yang diperankan oleh Sean Penn. Film ini menampilkan intrik di balik proyek penggarapan kamus bahasa itu yang membuat tokoh James Murray jatuh bangun.

Ia harus berhadapan dengan sejumlah komite Oxford yang ragu bahkan memandangnya sebelah mata.

The Professor and the MadmanThe Professor and the Madman Foto: IMDB

Sejarah selalu memiliki beragam versi, maka tidak mengherankan apabila film ini santer menuai kontroversi di balik layarnya. Mel Gibson dan sutradara Farhad Safinia melalui pertikaian hukum yang panjang dengan rumah produksi Voltage Pictures saat menggarap The Professor and The Madman.

Kinerja Gibson dan Safinia dikomplain karena tak sesuai jadwal. Keinginan Gibson untuk membawa syuting film ini di kampus Oxford yang asli menambah panas pertikaian tersebut.

Akan tetapi setidaknya film The Professor and the Madman berhasil menyampaikan hiruk-pikuk dan sulitnya penyusunan kamus legendaris yang hingga kini menjadi rujukan. Sebuah sejarah yang mungkin tidak diketahui orang banyak.

Film ini melakukan proses syuting di Dublin, di universitas Trinity College yang dikenal sebagai salah satu universitas tertua yang didirikan sejak 1592.

The Professor and the Madman memiliki durasi yang cukup panjang, sudut pandang dari film itu seakan bergerak bergantian mengikuti kisah James Murray dengan lika-liku upayanya dan William Chester Minor dengan kegelisahannya sebagai terdakwa kasus pembunuhan yang diketahui memiliki gangguan kecemasan.

Melalui dua narasi yang ingin dibangun itu, ada banyak kisah yang ingin diceritakan dalam film tersebut. Hal itu membuat durasi film itu terbilang lama.

The Professor and the Madman juga menceritakan bagaimana William Chester Minor yang merupakan narapidana kasus pembunuhan dapat didakwa bersalah meski ia tidak berniat membunuh, bagaimana ia menjalani hari-harinya yang murah di sel tahanan hingga akhirnya menjadi penyumbang kata terbanyak untuk kamus yang penting bagi keilmuan dan kesusastraan Inggris.

Beberapa adegan dalam film juga menyajikan ketegangan, terutama pada saat The Professor and The Madman berupaya mengisahkan cerita tentang William Chester Minor di tahanan atau ketika James Murray tengah bekerja mengumpulkan kata bersama dewan komite Oxford yang penuh kecurigaan dan keberhati-hatian.

Bila kamu tertarik pada bahasa dan sejarah. film ini mungkin dapat menjadi alternatif tontonan yang seru.

Terlepas dari itu semua, The Professor and The Madman membawa pesan yang cukup kuat. Yakni tentang kegigihan dan ketidakpuasan untuk berada di satu titik, seperti bahasa yang menyimbolkan perubahan waktu dan memiliki sejarah bukan hanya sekadar kata-kata yang muncul begitu saja.

The Professor and The Madman bisa disaksikan di Mola TV.

(srs/aay)