detikHot

movie

Gundala Belum Jadi Putra Petir

Rabu, 04 Sep 2019 19:35 WIB Nugraha - detikHot
Halaman 1 dari 2
Foto: Gundala (dok.Screenplay)
Jakarta - 'Gundala' harus dirayakan oleh publik Indonesia. Sebagai kunci untuk membuka ruang para superhero lokal terus bermunculan. Perhatian, spoiler alert!

Tugas Joko Anwar sebagai sutradara begitu berat. Kelanjutan Jagat Sinema Bumilangit seperti dipertaruhkan.


'Gundala' membawa kita pada sebuah kisah klasik yang dekat dengan masyarakat Indonesia. Cerita tentang pertaruhan buruh yang mencari keadilan, diperankan oleh Rio Dewanto sebagai ayah Sancaka.

Suguhan yang asyik langsung diperlihatkan dalam adegan-adegan pertarungan itu. Pertarungan lokal yang Indonesia banget, ada sebuah ruang dengan koreografi yang seakan membabi buta tapi teratur. Dalam pertarungan yang melibatkan puluhan buruh dan penjaga keamanan, ayah Sancaka meregang nyawa karena kekejaman dan pengkhianatan.

Kesulitan ekonomi menuntut ibu Sancaka, yang diperankan Marissa Anita, keluar dari rumah petaknya. Ia pergi ke Tenggara, berjanji kembali keesokan hari.

Sancaka kecil memulai perjuangan dalam kesunyian, tanpa teman, tanpa makanan. Mentimun keriput dilahapnya di tengah gelap, sisa makanan di tanah diambilnya demi bertahan hidup.


Sancaka pergi ke kota, sebuah cerita yang dekat dalam benak kita karena kerap diangkat dalam kisah sosial urbanisasi ke ibu kota, yang menawarkan banyak kehidupan meski juga dianggap lebih jahat dari ibu tiri.

'Gundala' sejauh ini begitu nikmat disaksikan hingga akhirnya Sancaka jadi pria dewasa dan semuanya berubah. Sejak kecil, kepadanya ditanamkan sifat individualis. Ia memilih menghindar dari berbagai masalah.


(nu2/doc)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikhot.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com