Garin Nugroho Menjawab Pro Kontra Film 'Kucumbu Tubuh Indahku'

ADVERTISEMENT

Garin Nugroho Menjawab Pro Kontra Film 'Kucumbu Tubuh Indahku'

Dyah - detikHot
Selasa, 30 Apr 2019 07:25 WIB
Foto: Garin Nugroho (saras/detikHOT)
Jakarta -

Ada dua alasan mengapa 'Kucumbu Tubuh Indahku' belakangan menjadi bahan perbincangan. Pertama, setelah melanglang buana ke berbagai festival, film itu akhirnya tayang di bioskop Tanah Air. Kedua, menyusul penayangannya di bioskop, muncul petisi yang memboikot dan meminta film itu untuk diturunkan.

Ditemui pada dan usai diskusi publik yang diadakan di Auditorium Visinema Campus, Cilandak, Jakarta Selatan, Senin (29/4/2019) malam, sutradara film tersebut, Garin Nugroho buka suara mengenai pro dan kontra yang tujukan pada filmnya itu.

Garin sebenarnya tidak keberatan apabila ada pihak yang tidak menyukai filmnya. Hanya saja, yang ia inginkan adalah diskusi yang sehat dan membangun. Ia ingin, apabila ada pihak yang tidak setuju pada filmnya, maka orang itu telah benar-benar menontonnya. Ia juga tak ingin kritik itu hanya menjadi kegaduhan di dunia maya semata.

"Ini kan era medsos, memang bisa jadi produktif, bisa kreatif. Tapi bisa jadi pengadilan massa yang tidak produktif," ujar Garin.

"Oleh karena itu, adalah bebas kalau ada petisi (untuk mem-) boikot atau tidak setuju, tapi tidak boleh menghakimi atau mengajak orang (untuk ikut menghakimi) tanpa melihat lebih dulu," imbuhnya.


Menyoal Seksualitas dan Trauma Tubuh

'Kucumbu Tubuh Indahku' bercerita tentang kisah hidup (coming of age) tokoh bernama Arjuno atau akrab disapa Juno (Muhammad Khan). Film itu terinspirasi dari kisah hidup Rianto.

Film tersebut dibuka dengan adegan Juno kecil sedang mengintip para penari Lengger tengah berlatih. Kedapatan mengintip oleh guru tari (Sujiwo Tejo), Juno kecil malah diajak berlatih tari. Dalam film dijelaskan bahwa nama Lengger berasal dari kata 'leng' yang berarti lubang (sebagai simbol feminimitas) dan 'ngger' dari kata jengger ayam jago (sebagai simbol maskulinitas).

Juno memiliki latar belakang yang kelam, ia hidup sebatang kara setelah ayahnya yang seorang pergi karena dituduh sebagai anggota partai terlarang. Keluarganya dibunuh di sebuah sungai. Juno sempat tinggal bersama tantenya, namun ia kemudia pergi dan bekerja pada seorang penjahit hingga akhirnya bertemu dengan kelompok tari Lengger secara tidak sengaja.

Kehidupan pahit Juno membuatnya memiliki trauma tersendiri. Juno juga merasakan ada ketaksaan seksualitas dalam dirinya, ia merasa memiliki sebagian jiwa yang feminin dalam dirinya yang dibalut tubuh maskulin.

Garin Nugroho menjelaskan, pada dasarnya, fim tersebut hendak membicarakan dua yakni perihak seksualitas dan bagaimana seseorang menyintas trauma tubuhnya.

"Film 'Kucumbu Tubuh Indahku' kisahnya berbasis tentang penari lengger di Banyumas yang di dalam dirinya ada maskulin dan feminin. Dan tentang trauma tubuh, semua orang punya trauma," jelasnya.

Menurutnya, persoalan trauma tubuh adalah hal yang penting untuk dibahas. Garin mengatakan, "Sebab trauma yang tidak dipecahkan kadang-kadang bisa menjadi prilaku yang bisa ke dalam, bisa keluar."

Ide itu datang ketika Garin menyadari bahwa film-film bertema sejenis kebanyakan melulu mengangkat kehidupan kelas menengah perkotaan.

"Saya melihat film-film soal seksualitas selalu tentang kelas menengah atas, atau tentang drugs dan budaya musik popular. Hampir tidak pernah tentang budaya tradisi," ucapnya.

Berangkat dari situ, Garin Nugroho mulai mengembangkan cerita tentang penari Lengger tradisional.

Lebih jauh lagi, dalam menggarap 'Kucumbu Tubuh Indahku', Garin Nugroho menggabungkan unsur naratif dan eksploratif. Ia memberi contoh, film naratif yang pernah ia buat adalah 'Cinta Dalam Sepotong Roti' (1991) atau 'Aach... Aku Jatuh Cinta' (2015). Sedangkan film yang eksploratif adalah 'Opera Jawa' (2006) atau 'Setan Jawa' (2016).

"Jadi (film 'Kucumbu') ada tujuannya. Setiap karya kan punya tujuan bisa sosial, estetik, politik, atau ekonomi. Kita harus tahu tujuannya apa," ungkapnya.


Berkekuatan Hukum

Dari penjelasan Garin Nugroho di atas, maka seharusnya ada diskursus yang lebih luas dari film tersebut ketimbang petisi boikot. Sebagai sutradara, Garin pun menyayangkan adanya ajakan pemboikotan itu dan menyebut hal itu sebagai tindakan yang mencederai kebebasan berkarya.

Akan tetapi, Garin percaya diri sebab ia menyebut 'Kucumbu Tubuh Indahku' merupakan film yang telah memiliki kekuatan hukum.

"Karena 'Kucumbu Tubuh Indahku' itu sudah lulus sensor, artinya dia sudah masuk ke dalam prosedur hukun yang ada di negeri ini," jelasnya.

Sebagai solusi dari brutalnya isu-isu yang bisa digiring lewat media sosial, Garin melihat perlu ada panduan publik.

"Seharusnya institusi kaya lembaga sensor, kementrian pendidikan atau lainnya tugasnya adalah memandu publik. Tapi kan panduan publik itu tidak ada," kata Garin.



(srs/doc)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT