Artika Sari Devi Kurang Referensi
Kamis, 08 Sep 2005 17:03 WIB
Jakarta - Ketika harus lenggak-lenggok di catwalk, Artika Sari Devi tentu piawai. Namun ketika harus banyak menari untuk film terbaru Garin Nugroho, Artika sempat bingung. Tentang seluk-beluk tari peserta Miss Universe 2005 itu mengaku miskin referensi. Sineas Garin Nugroho menyiapkan sebuah film baru. Para pemain film opera itu adalah tokoh-tokoh tari kenamaan. Namun ada juga nama Artika Sari Devi, Putri Indonesia 2005. Dengan mengambil judul Requiem dari Jawa atawa Sita Obong, Garin ingin mengingatkan terjadinya fanatisme dan sikap ekstrem masyarakat.Produser eksekutif film itu adalah sutradara kenamaan AS, Peter Sellers. Pemutaran perdana akan dilakukan pada perayaan mengenang 250 tahun komponis Mozart di Wina, Austria, tahun 2006. "Lima negara negara diminta membuat karya film, salah satunya Indonesia. Untuk Indonesia kebetulan yang diminta adalah kami," ujar Garin kepada wartawan di Solo, Rabu (7/9/2005) malam.Seperti yang dipaparkan Garin, film garapannya kali ini lebih tepat disebut opera. Tidak ada dialog verbal dan semua cakapan dilakukan lewat media tembang (lagu Jawa). Garin menyebutnya sebagai kolaborasi antara gerak, visual, ekspresi, seni rupa, instalasi dan garapan musik yang dipadukan secara tepat dengan garapan yang detail.Oleh karenanya para pendukungnya juga bukan sembarang orang. Retno Maruti (penari kenamaan yang juga pimpinan sanggar tari Padneswara Jakarta), Miroto (penari dan koreografer dari Yogyakarta), Eko Supriyanto (penari dan koreografer dari Solo), Nyoman Sura (penari), Jecko Siompo (penari modern) hingga Slamet Gundono (dalang) dilibatkan sebagai pemain.Namun ada nama pemain yang bukan penari yaitu Artika Sari Devi, Putri Indonesia 2004, sosok kontorversial karena keikutsertaannya dalam kontes Miss Universe beberapa bulan lalu. Tentang keterlibatan Artika, Garin mengatakan bahwa casting didasarkan pada kebutuhan peran."Penentunya bukan saya pribadi. Saya melakukan sharing secara intensif dengan para pemain yang telah saya pilih, terutama dengan Eko dan Miroto. Setelah melakukan beberapa kali pembicaraan akhirnya kami memilih Artika. Syukur bahwa ahirnya yang bersangkutan bersedia untuk kami ajak bermain," papar Garin.Artika yang juga hadir dalam jumpa pers awal pembuatan film opera itu juga membenarkan yang dikatakan Garin. "Saya sungguh berbahagia diajak main. Saya harus mengejar dengan belajar secara intensif kepada sejumlah penari yang telah disiapkan tim produksi. Hal itu karena saya miskin referensi dan benar-benar pengalaman baru di dunia film, tari maupun opera," tuturnya.Masih ada nama-nama besar lainnya sebagai pendukung film itu. Diantaranya adalah komponis Rahayu Supanggah sebagai penata musik, Samuel Wattimena sebagai perancang kostum, Theo Gay Hian penata kamera kenamaan dari Malaysia, Sunaryo serta Agus Suwage dan kawan-kawan yang dipercaya merancang instalasi.Pengambilan gambar seluruh adegan dalam film direncanakan akan dilakukan di Solo dan Yogyakartasejak 15 September hingga 5 Oktober 2005 ini. Proses finishing akan dilakukan Mei hingga Juni 2006 dan Agustus 2006 akan siap ditayangkan di Wina. "Kami berharap bahwa film ini nanti akan memberi sumbangan pada dokumentasi khasanah budaya," ujar Garin.Sisi Ekstrem Rama dan RahwanaFilm ini mengangkat kisah seorang penjual gerabah yang sedang bangkrut bernama Setyo yang marah ketika mengetahui istrinya, Siti, direbut dengan tipu daya oleh Ludiro, seorang pemilik rumah jagal(penyembelihan hewan). Di akhir cerita para pendukung Setyo menyerbu dan membakar rumah Ludiro, sedangkan Setyo membunuh Siti untuk diambil hatinya."Film ini diilhami cerita dalam epos Ramayana. Kami melihat ada paradoks pada Sita atau Shinta sebagai tanah yang didoakan Rama dan tanah dibajak oleh Rahwana. Dunia ini mewakili peradoks keterpinggiran atas terjadinya kesewenangan, lokal dan global serta ketidakberdayaan untuk mempertemukannya," papar Garin."Hal lain yang ingin kami pesankan adalah adanya dua kutub pemikiran dalam masyarakat yang sama-sama ekstremnya. Ada orang yang tanpa daya tapi berusaha bertahan menjaga miliknya, ketika terpojok lalu melampiaskan kemarahan dengan perusakan. Di sisi lain ada sosok sewenang-wenang yang tanpa hati melakukan penguasaan. Kedua ekstrem ini harus dihindari," pungkasnya. (mbr/)











































