Kans Meryl Streep Lewat 'The Post'

Nugraha - detikHot
Kamis, 18 Jan 2018 17:34 WIB
Foto: Getty Images
Jakarta - Sepanjang kariernya, Meryl Streep telah menerima 20 nominasi Oscar serta tiga kemenangan untuk 'Kramer vs Kramer'. 'Sophie's Choice' dan 'The Iron Lady'.

Dalam film terbarunya, 'The Post', ia berperan sebagai Kay Graham, penerbit surat kabar pertama wanita di Amerika, The Washington Post. Streep sepertinya bakal berada dalam nominasi aktris terbaik, setelah kehilangan piala di Golden Globes dan SAG Awards.

Streep membuat pidato epik saat menerima Cecil B. DeMille Award di Golden Globe tahun lalu. Banyak wartawan yang ingin ia kembali ke panggung, hanya untuk melihat apa yang ia katakan kali ini.

"Hollywood sedang merangkak dengan orang luar dan orang asing, dan jika Anda menendang kita semua keluar, Anda tak akan memiliki apa-apa untuk ditonton kecuali sepakbola dan seni bela diri, yang bukan seni," katanya sambil menangis kala itu.
Meryl StreepMeryl Streep Foto: Getty Images

Dia menggemakan komentar Hugh Laurie tentang bagaimana Hollywood Foreign Press Association adalah bagian dari segmen yang paling banyak difitnah dalam masyarakat Amerika - Hollywood, sekarang.

"Tapi siapa kita, dan apa sih di Hollywood? Hanya sekelompok orang dari tempat lain," tuturnya.

Di tengah pidato itu, kamera lantas menyorot beberapa orang yang disebutkannya seperti: Sarah Paulson, Sarah Jessica Parker, Amy Adams, Natalie Portman, Ruth Negga, Viola Davis, Dev Patel dan Ryan Gosling. Dia bertanya, "Di mana akta kelahiran mereka?"

Selain itu, ia juga berbicara mengenai Donald Trump yang dianggapnya telah mengolok-olok reporter The New York Times. Menurutnya, tak ada pembenaran dalam ucapan Trump, tapi itu adalah tugasnya.
Meryl StreepMeryl Streep Foto: Getty Images

"Ini menghancurkan hati saya, ketika melihatnya dan saya masih belum bisa mengeluarkannya dari kepala saya karena tak ada dalam film, melainkan dalam kehidupan nyata," tuturnya.

"Tidak hormat mengundang rasa tidak hormat, kekerasan menghasut kekerasan. Bila yang berkuasa menggunakan posisinya untuk menggertak orang lain, kita semua kalah," tukasnya.

'The Post' menandai dua hal besar bagi Streep. Bukan hanya untuk pertama kalinya ia beradu akting dengan Tom Hanks, tapi juga merupakan kolaborasi besar pertamanya dengan Steven Spielberg, meski sang sutradara pernah memakai suaranya yang singkat dalam 'A.I. Artificial Intelligence'.

Pertimbangkan bahwa sebagian film memerlukan waktu lebih dari satu tahun untuk diselesaikan, lalu kita bakal menghargai usaha hebat di balik 'The Post'. Spielberg hanya butuh waktu sembilan bulan untuk membuatnya setelah membaca naskah, membawa Meryl Streep dan Tom Hanks dalam sebuah cerita yang diklaim oleh kebanyakan kritikus akan mendominasi Oscar pada bulan Maret nanti.
Steven SpielbergSteven Spielberg Foto: Gettyimages

"Saya membaca naskahnya pada akhir Februari dan mulai syuting pada bulan Juni. Ini adalah waktu yang singkat. Tapi saya ingin film ini keluar tahun ini karena saya pikir ada kebenaran di tahun 1971 yang relevan hari ini. Saya pikir, inilah saatnya," kata sutradara pemenang Oscar di balik drama historis 'Schindler's List' dan 'Saving Private Ryan'.

'The Post' mendokumentasikan tentang The Washington Post dan The New York Times, mengungkapkan sebuah perkara selama beberapa dekade yang dirahasiakan oleh Pemerintah AS selama perang Vietnam. Mereka bergulat dengan berita yang akan diterbitkan The Pentagon Papers, media pemerintah.

'The Post' adalah film dengan agenda politik dan Spielberg tidak malu mengatakannya.

"Wartawan dalam cerita kami adalah pahlawan. Wartawan ini pada 1971 didedikasikan untuk prinsip kebebasan pers dan peraturan hukum, dan mencoba melakukan hal yang benar dengan membawa makalah ini ke publik Amerika," tukasnya.

(nu2/spt)