'Journey to the West: the Demons Strike Back: Petualangan Jalan di Tempat Si Kera Sakti

Shandy Gasella - detikHot
Jumat, 24 Feb 2017 16:20 WIB
Foto: imdb
Jakarta - Siapa yang tak kenal karakter Kera Sakti, atau juga dikenal dalam bahasa Tiongkok sebagai Sun Wu Kong —versi lain menyebutnya Sun Go Kong? Kita yang tinggal di Asia Tenggara yang notabene jauh dari peradaban China Daratan ternyata cukup akrab dengan mitologi perjalanan Biksu Tong Sam Chong ditemani tiga muridnya yakni Kera Sakti, Ti Pat Kai si Siluman Babi, dan Wu Ching si Siluman Air dalam mencari sutra (kitab suci Tripitaka) Buddha ke Barat (India). Sejatinya kisah ini sudah kuno sekali, berawal dari novel yang terbit pertama kali di abad ke-16 pada masa Dinasti Ming karangan Wu Cheng'en. Begitu banyak adaptasi yang telah dibuat dalam berbagai medium, dari film, serial televisi, panggung drama, kartun, hingga komik.

Kisah Kera Sakti mulai populer dan digandrungi di sini lewat serial televisi 'Journey to the West' produksi TVB Hong Kong yang ditayangkan salah satu stasiun TV swasta nasional pada tahun 90-an. Aktor Dicky Cheung berperan sebagai Sun Wu Kong, dan Kong Wa sebagai Biksu Tong Sam Chong. Ada pula adaptasi bebas yang begitu fenomenal, yaitu serial kartun 'Dragon Ball'. Dalam serial tersebut tokoh Sun Wu Kong sang Kera Sakti malih rupa menjadi Sun Go Ku.

Ada banyak sekali versi film yang telah dibuat. Pada 2013, aktor sekaligus sutradara legendaris Stephen Chow ('Kungfu Hustle', 'Shaolin Soccer') membuat versinya sendiri dengan judul, lagi-lagi, 'Journey to the West' namun dengan tambahan subjudul 'Conquering the Demons'. Film ini sukses secara komersil dan dipuja-puji kritikus akan kelihaian Chow dalam menggarap kisah klasik menjadi tontonan yang baru dan segar, serta terasa begitu inventif dengan mengisahkan ulang kronologi hikayat Sang Kera Sakti, Bisku Tong, si Siluman Babi, dan si Siluman Air dalam cerita yang tak pernah kita dapatkan sebelumnya. Film itu memenuhi segala unsur hiburan; komedi, drama, adegan aksi yang seru, dan sempilan adegan-adegan penuh emosi.

Lantas, kisah lanjutannya tentu amat dinantikan oleh para pecinta film. Kursi sutradara kini beralih kepada Tsui Hark ('The Taking of Tiger Mountain', 'Flying Swords of Dragon Gate'), seperti Chow, ia juga merupakan sutradara legendaris sekaligus salah satu yang paling dihormati asal Hong Kong. Kini Chow menduduki kursi produser dan ikut menulis naskah bersama Si-Cheun Li ('The Mermaid', 'Triad').

Dua tokoh perfilman Hong Kong paling penting abad ini berkolaborasi, tentu ekspektasi kita melambung tinggi. Berjudul 'Journey to the West: the Demons Strike Back', walau terdengar keren seperti judul film 'Star Wars: The Empire Strikes Back' lanjutan 'Star Wars: A New Hope', film ini justru tak sesuai ekspektasi.

Melanjutkan kisah di ending film pertama, biksu Tong (kini diperankan oleh eks K-Pop Idol Kris Wu), tentu masih bersama tiga muridnya, Sun Wu Kong (Kenny Lin, 'The Great Wall', 'The Taking of Tiger Mountain'), Ti Pat Kai (Yang Yiwei), dan Wu Ching (Mengke Bateer, 'Bodyguards and Assassins') melanjutkan perjalanan mereka menuju India demi mencari, ya betul, kitab suci. Namun seiring perjalanan, mereka mesti berhadapan dengan berbagai macam godaan dari para siluman yang hadir silih berganti mengusik misi perjalanan spiritual mereka.

Namun, berbeda dengan film pertama, kali ini film hadir nyaris tanpa memiliki sesuatu apa pun untuk diceritakan! Tak ada cerita, apalagi plot. Sungguh tak bisa dipercaya. Siluman-siluman itu hadir lantas bersinggungan bersama para protagonis kita seenaknya saja, dan selalu kebetulan --bukan lewat serangkaian plot yang membawa cerita bergerak dari satu titik ke titik lain.

Hubungan antara Biksu Tong dan Sun Wu Kong, alih-alih berkembang jauh dari penggambaran terakhir yang kita saksikan lewat film pertama, malah jalan di tempat, dan justru terkesan tak konsisten. Lupakan karakter si Siluman Babi, dan si Siluman Air, karakter mereka sama sekali tak ada gunanya di film ini.

'Journey to the West: the Demons Strike Back' hanya mampu memperlihatkan kepada kita tentang seberapa majunya teknologi perfliman China, dan seberapa besar uang yang mereka miliki untuk memproduksi film tanpa dibarengi talenta dan kreativitas yang sepadan. Hasilnya? Film yang membosankan, penuh adegan aksi berlarat-larat hasil ciptaan animator. Menonton film ini ibarat sedang menaiki wahana roller coaster selama berjam-jam —jikalau hanya lima menit tentu menyenangkan, tapi berjam-jam?

Shandy Gasella pengamat perfilman



(mmu/mmu)