Belum terbentuknya penonton film nasional yang kuat didasarkan oleh banyak faktor. Tetapi alih-alih menyalahkan film impor yang tayang berdekatan, para filmmaker dituntut untuk membuat film yang lebih bermutu.
"Yang pasti kita, film beredar berdasarkan animo penonton. Yang salah apa? Sekarang kembalikan ke masyarakat. Kita lihat, kita sajikan film, mana yang mereka akan tonton. Isu film nasional merupakan produk budaya, ada isu politisasi yang ujung-ujungnya mencari penonton," kata Direktur Cinema 21 Tri Anintio kepada detikHOT, Senin (3/8).
Tri mengatakan jaringan bioskopnya hanya berpihak kepada kemauan penonton. Ia menilai sebuah kebijakan seharusnya berorientasi pada kemauan masyarakat.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Baca Juga: Bioskop 21 Sebut UU Perfilman Masih Punya Kelemahan
Dengan kualitas film yang bagus, maka penonton akan dengan sendirinya datang. "Kalau ada yang nggak laku saat 'Ant-man' diputar, 'Ant-man' yang disalahkan. Coba kalau ada yang nggak laku saat bersaing dengan film nasional lainnya, mereka pasti diam-diam saja. Tahun 2006 atau 2007 'Bangku Kosong' main bareng 'Casino Royale' laku. 'Petualangan Sherina' main bareng 'Harry Potter' laku. Film nggak bersaing secara subtitutif," beber Tri.
Tri mencontohkan bukti film nasional bisa mendapat banyak penonton meskipun tayang berdekatan dengan film Hollywood. "Nyatanya 'Comic 8' dan 'Surga Yang Tak Dirindukan' bisa menembus satu juta penonton," ujarnya lagi.
(pus/ich)











































