Sheila Timothy: Saya Yakin Akan Ada Film Saya yang Ditonton Banyak Orang

Wawancara dengan Produser 'Tabula Rasa' (3-Habis)

Sheila Timothy: Saya Yakin Akan Ada Film Saya yang Ditonton Banyak Orang

- detikHot
Kamis, 25 Sep 2014 15:18 WIB
Sheila Timothy: Saya Yakin Akan Ada Film Saya yang Ditonton Banyak Orang
Jakarta - Nama Sheila Timothy di awal kemunculannya tak bisa dipisahkan dengan sutradara Joko Anwar. Di bagian ketiga wawancara ini, pengamat perfilman Indonesia Shandy Gasella sedikit-banyak akan mengulik apa yang kini terjadi antara dua sineas tersebut. Lala juga bicara tentang sosok yang mempengaruhinya, pandangan-pandangannya untuk kemajuan film Indonesia hingga kiprahnya di Asosiasi Produser Film Indonesia (APROFI), sebuah lembaga baru yang menempatkan dirinya sebagai ketua. Berikut petikannya:

Ada beberapa production house yang mengontrak eksklusif aktor-aktris untuk bermain di film-film produksi mereka. Apapun jenis filmnya, aktor/aktris yang dikontrak eksklusif itulah bintangnya. Apa tanggapanmu soal ini?

Aktor Indonesia yang bagus itu banyak, tapi tiap karakter, tiap skrip punya kepentingan yang berbeda. Terkadang kenapa kami butuh casting misalnya, bukan untuk mengetes apakah si aktor bisa berakting atau nggak, pasti dia bisa berakting cuma apakah dia punya jiwa dari si karakter ini apa nggak, itu sih yang kami cari. Saya rasa masalah fame bisa ditutupi lewat packaging marketing, promosi dan bagaimana kita jualan, itu kan bagaimana pinter-pinternya kita memasarkan. Di 'Tabula Rasa' sampai extras di belakang, perhatiin deh, semua berakting dengan baik. Ada satu momen yang saya suka banget waktu Hans sama Mak duduk makan lontong sayur, di sebelahnya itu ada orang botak sama ibu-ibu yang lagi makan, itu mereka ngobrolnya natural banget. Itu yang memperkaya film, itu yang bikin filmnya jadi satu kesatuan utuh.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Ketika film dirilis kita tak pernah tahu apakah film itu bakal sukses ditonton oleh ratusan ribu bahkan jutaan orang, seburuk atau sebaik apa pun kualitas filmnya. Tapi, apa yang paling membuatmu bahagia atau sedih ketika filmmu telah dilepas ke bioskop?

Yang paling senang kalau misalnya ada orang yang bilang bahwa filmnya bagus dan pesannya sampai ke dia, itu senang banget rasanya. Tapi, kalau sampai ada satu orang yang bilang, wah filmnya jelek banget, begini, begini itu...aduh! Saya selalu bilang sama sutradara di film kami, Joko, Adri, Tumpal, jangan takut bahwa kita akan menggantungkan beban berat untuk film itu bahwa dia harus ditonton jutaan orang. Saya punya perhitungan sendiri. Bisnis itu selalu punya risiko, khususnya film termasuk kategori high risk, yaitu risiko yang harus ditanggung. Nyesek sih pas ternyata, hah cuma segini penontonnya? Sedih sih. Ya, itu tadi karena high risk, bahwa bisa dibilang gagal gitu ya tapi saya bisa bangkit lagi itu rasanya yang bikin semangat bahwa saya bisa survive. Saya yakin bahwa kreativitas dari filmmaker Indonesia itu banyak banget, dan selama saya masih mampu. Saya penasaran, masa iya sih film bagus nggak bisa survive? Saya yakin cepat atau lambat akan ada film saya yang ditonton banyak orang. Ketika momen itu terjadi, film-film saya sebelumnya akan naik juga karena film-film yang diproduksi dengan baik tidak akan mati dalam waktu hitungan satu dua tahun. 'Pintu Terlarang' pun sampai sekarang masih tetap diperbincangkan. Jadi saya sih yakin saya bikin film yang baik, dan ini akan evergreen, kekal abadi.

Pada tahapan apa kiranya kamu tahu ketika skrip itu siap untuk diproduksi?

Enampuluh persen dari feeling sih, insting. Seperti misalnya 'Pintu Terlarang', pas baca skripnya saya tahu banget ini skrip bakal keren kalau difilmkan, ada sesuatu yang unik dan beda. 'Modus Anomali' pun begitu. 'Tabula Rasa' juga pas Tumpal ngasih sinopsis saya yakin ini akan unik dan menarik, apalagi gimmick-nya kan ini film makanan pertama, dan bahwa kuliner lagi naik banget nggak hanya di Indonesia tapi juga di dunia. Jadi saya pikir bagaimana cara saya yakin mengetahui kapan skrip itu siap diproduksi, itu insting sih.

Siapa yang paling mempengaruhi kamu dalam berkarya?

Bokap saya. Bokap saya itu produser musik. Mungkin karena dari saya kecil saya selalu melihat bagaimana passion-nya dia di musik, bagaimana dia bekerja di belakang dan memproduksi musik-musiknya dia, bagaimana dia mencari bakat-bakat di musik Indonesia dan dia yakin bahwa bakat-bakat ini akan tampil seperti contohnya era-era dia tuh Koes Plus, Panbers. Dia bekerja di belakang tapi kan ada andilnya untuk membuat si artis bisa naik. Itu mungkin yang bikin saya menikmati proses pembuatan dari ide sampai akhirnya jadi sebuah karya, walaupun mediumnya beda; dia musik saya film, semangat dan passion-nya dia yang luar biasa telah mempengaruhi saya. Saya jatuh cinta dengan proses pembuatan film sebenarnya waktu saya kerja di iklan. Dari dulu sih suka nonton film. Tahun 90-an first job saya itu kerja di iklan sebagai account executive, tapi begitu udah syuting ke lapangan, saya orang nomor satu yang terjun ke lapangan. Saya sampai ikut ke pascaproduksi juga, ngedit segala macam padahal itu bukan kerjaan saya. Tapi saya senang banget gitu, dari bikin ide yang cuma di atas kertas lalu jadi storyboard sampai akhirnya tayang itu luar biasa. Dari situ saya sempat juga bikin beberapa video profile buat keluarga, buat mertua. Tapi benar-benar yang men-trigger saya adalah si skrip 'Pintu Terlarang' itu. Pas saya baca sepertinya saya seolah-olah dipanggil-panggil gitu untuk produksi ini.

Nah, ngomong-ngomong soal 'Pintu Terlarang', bagaimana ceritanya Joko Anwar bisa menemuimu kala itu?

Waktu itu dikenalin Fahri Albar, "Nih, ada nih sutradara Joko Anwar," katanya. Saya timpalin, "Joko Anwar? Siapa tuh?" Akhirnya Fahri ngenalin, saya dikasih film 'Kala', saya tonton, eh kok bagus. Karena beberapa kali saya nonton film Indonesia kok ceritanya ketebak banget. Sepertinya idenya brilian di premis, tapi pas jadi kok begini sih, seperti nggak ada effort-nya gitu lho, nggak ngulik. Maka ngobrollah saya dengan Joko, pas saya baca skripnya, eh menarik banget, bagaimana satu cerita yang dimulai dari child abuse tapi dikemas dalam psychological thriller menurut saya pada saat itu merupakan satu hal yang baru, belum ada film Indonesia seperti itu. Akhirnya saya ngomong ke suami. Katanya, ya udah kalau kamu merasa bisa kita bikin company. Jadilah Lifelike Pictures. Pada awalnya saya cari-cari investor, setelah berhasil ngumpulin investasi, saya bilang sama Joko, "Oke, kita go ahead."

Membuat dua film bersama Joko Anwar, apa hal yang paling menyenangkan dan tidak menyenangkan bekerja dengannya?

Yang paling nyenengin kerja dengan dia itu dia pinter banget. Kami banyak diskusi dan cara dia mengetahui persis apa yang dia mau buat itu luar biasa. Dari penceritaan skrip aja dia bisa jelasin persis gambarnya gini gini gini. Jadi waktu skrip datang dan dia ceritain ke saya, dia bisa naruh visualnya di kepala saya. Dan pas produksi dia sutradara yang menyenangkan. Semua kru sayang sama dia. Prosesnya berjalan dengan baik. Yang nyebelin, dia terkadang suka keras kepala. Maksudnya, mungkin beberapa seniman yang jenius, yang pinter itu punya ego. Nah, kadang-kadang keras kepalanya itu yang membuat kami mesti ke kiri ke kanan dulu sampai akhirnya bisa ketemu (kompromi).

Joko Anwar sendiri kan kini punya Lo-Fi Flicks, apakah itu berarti sebuah perpisahan di antara kalian berdua?

Nggak ada masalah sih, karena Joko kan memang tidak pernah ada di Lifelike Pictures. Nggak menutup kemungkinan bila misalnya dia nanti punya skrip yang menarik untuk saya kan nanti kami bisa co-produksi, nggak masalah, itu sesuatu hal yang biasa dan lumrah terjadi di industri perfilman.

Cerita di balik nama Lifelike Pictures?

Film Indonesia zaman dulu itu disebutnya gambar idup, Lifelike Pictures itu gambar idup, sesederhana itu saja.

Apa yang membuat sebuah film itu memiliki kualitas yang baik dalam pandanganmu?

Tentu ada kualifikasi teknis dan sebagainya, tapi yang paling penting itu bagaimana dia bisa menggerakkan hati orang, apakah itu membuat penonton jadi takut, jadi terinsiprasi, jadi tersentuh begitu sebuah film bicara ke hati, itu film yang bagus.

Apa saja film favoritmu?

Film Ang Lee yang 'Eat Drink Man Woman', 'What Dreams May Come'-nya Robin Williams, itu tuh pas nonton saya merasa afterlife itu kayak begitu. Saya kalau mimpi kayak begitu soalnya, penggambaran afterlife di film itu ngena banget buat saya. Lalu saya suka 'Tree of Life', saya nggak ngerti apa maksudnya tapi saya bisa nangis-nangis nontonnya. Saya nggak ngerti nih ada dinosaurus, tapi tiba-tiba saya nangis! Saya juga suka 'Nebraska', 'Life is Beautiful', saya campur-campur sih suka nggak cuma film-film indie, film komersil juga suka. Apa pun film yang bisa bicara ke saya buat saya itu film yang bagus.

Apa yang kamu lakukan untuk bersenang-senang di kala tak lagi sibuk dengan pekerjaan?

Masak. Saya tiap hari masak buat anak-anak. Cuma belakangan ini, sebulan ini nggak bisa masak karena sibuk. Masak buat saya itu kayak ritual. Jadi kalau lagi masak itu bikin saya tenang, sambil dengerin musik, menyenangkan aja, seperti ini tuh "me-time"-nya saya.

Apa pandanganmu soal kritik film di Indonesia?

Kritik baik itu penghargaan buat kerja keras kami, kritik buruk dijadikan pelajaran walaupun terkadang bete juga bacanya, tapi pasti kan ada sesuatu yang baik yang bisa kami ambil. Nggak banyak kritikus film di Indonesia, rata-rata kan di media itu hanya penulis resensi saja, jadi mereka menulis sinopsis. Kritikus film di Indonesia kan nggak banyak yang bagus, tapi yang benar-benar kritikus film memang bagus sih. Terkadang saya suka kaget, wow ternyata dalam sekali ulasannya, padahal filmnya sendiri nggak nyampe sedalam itu.

Menurutmu apa yang dapat membuat perfilman Indonesia jadi lebih baik?

Pergerakan kami sendiri di antara orang-orang film semangatnya selalu ada dari zaman dulu walaupun kondisinya tidak kondusif, tapi selalu ada ada film-film bagus yang diproduksi tiap tahun. Yang akan bisa bikin kita maju lagi satu step, hopefully kalau ada orang yang paham dan punya hati untuk perfilman yang duduk di kursi pemerintahan, itu akan membuat perubahan yang signifikan.

Ceritakan kegiatanmu di APROFI dong.

Jadi APROFI (Asosiasi Produser Film Indonesia) ini masih baru banget, baru berdiri setahun, jabatan saya sebagai ketua tiga tahun (2013-2016). Tiga tahun pertama ini kami akan buat fondasi dulu supaya tiga tahun berikutnya yang menjabat ketua tinggal menjalankan fondasinya ini. Bersamaan dengan itu pula kami juga memberikan masukan-masukan ke pemerintah lewat BPI (Badan Perfilman Indonesia) supaya bisa dibuat peraturan-peraturan yang mendukung untuk industri perfilman kita, itu salah satu yang kami kerjakan. Kami juga lagi mau tanda tangan MOU dengan Producers Guild of Korea (asosiasi produser di Korea) bulan depan, awal Oktober saya akan ke sana. Ini inisiatif dari APROFI, agendanya kerja sama antara Indonesia dan Korea Selatan. Kami membuka jalan untuk co-produksi, untuk hal-hal yang dibutuhkan oleh masing-masing asosiasi, dan seperti misalnya transfer pengetahuan, seminar, apa pun yang bisa meningkatkan kualitas di industri ini. Di bulan Desember nanti saya akan jadi panelis di Asia Pacific Screen Awards di Brisbane, Australia, dan saya akan bawa nama APROFI untuk sejumlah negosiasi juga.

Sebagai penutup, kenapa orang harus menonton 'Tabula Rasa'?

Film ini dibuat dengan seluruh hati dan rasa juga kerja keras, dan kami berusaha menyampaikan rasa cinta lewat film ini, mengingatkan lagi kekeluargaan, kebersamaan, toleransi dan lain sebagainya, berharap bahwa orang-orang mau pergi ke bioskop untuk nonton 'Tabula Rasa', support bukan hanya filmmaker Indonesia tapi juga support rasa-rasa yang hampir hilang di Indonesia.

(mmu/mmu)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads