Lalu pada 2013 ia memutuskan untuk menyutradarai, sambil tetap menulis naskah untuk film yang ia garap sendiri. Yang menarik, film pertama yang ia sutradarai, 'Toilet Blues', malah baru bisa dinikmati belakangan oleh penonton di bioskop setelah dua film yang ia buat kemudian, 'Optatissimus' dan 'Kau dan Aku Cinta Indonesia' sudah tayang duluan. 'Toilet Blues' malah lebih dulu malang melintang di beberapa ajang festival film internasional, di antara Festival Film Internasional Busan ke-18 yang digelar tahun lalu. Masyarakat Indonesia baru bisa menyaksikan 'Toilet Blues' di bioskop sejak 3 Juli 2014.
Wawancara ini terjadi pada satu petang yang cerah di Jakarta, di sela-sela kesibukan Dirmawan Hatta melakukan promosi film 'Toilet Blues' yang kini sedang diputar di bioskop. Pengamat perfilman Indonesia, Shandy Gasella mencoba mengulik lebih detail proses kreatif dan gagasan-gagasan di balik film-film yang pernah ia buat. Ini adalah bagian kedua dari wawancara tersebut:
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Saya belum pernah berusaha mendefinisikannya secara rigid, secara keras, tapi saya akan tahu kalau film itu bagus atau tidak, biasanya saya ukur dengan, manusia itu kompleks, sangat kompleks, ketika film itu mampu untuk mencapai lapisan-lapisan tertentu yang tidak hanya tampak di permukaan dalam pergaulan keseharian maka film itu bagus, apapun cara penuturannya. Ada lapisan-lapisan tertentu yang terus-menerus digali, jadi bagaimana sebuah film kemudian memberikan sebuah pemahaman yang lebih jauh lagi, entah itu lebih baik atau lebih buruk terhadap diri kita sendiri. Sederhananya begini kira-kira; bila saya mendapatkan sublimasi dari sebuah film, maka itu film yang bagus buat saya.
Apa saja sih film-film yang menurutmu bagus? Sebut tiga judul saja!
'Apocalypse Now' (Francis Ford Coppola, 1979), film perang yang sebenarnya ngomongin hal-hal lain di luar perang itu sendiri, sebuah film dengan capaian-capaian surealis yang pada saat yang sama getir, tapi juga indah, dan bigger than life. Lalu 'The Wind Will Carry Us' (Abbas Kiarostami, 1999), dan 'The Matrix' (Wachowski Brothers, 1999).
Ketika kamu merasa sebal terhadap sebuah film, apa yang bisa meredakanmu?
Bila Dinosaurus dan teman-temannya itu pernah punah maka film jelek juga bolehlah ikutan punah. [tertawa] Ya, film itu asyik, film itu penting, buat saya film itu segala macam, namun pada titik tertentu saya pun bisa menyikapinya sebagai sesuatu yang nggak penting juga, saya tidak ingin menjadikan film sebagai berhala saya. Kira-kira begitulah saya menangkap apa yang saya tidak sukai dari film. Yang membuat saya gelisah itu penyeragaman, dan penyeragaman ini berlangsung dengan cara yang semakin subtil, semakin canggih, semakin licik, dan ujung-ujungnya menciptakan kita sebagai konsumen. Kita dipaksa, bukan direpresi dengan ditodong senapan, tapi dikooptasi bahwa kita sendiri kemudian mengamini itu, mengamini keseragaman-keseragaman itu, menurut saya itu bagian dari penindasan. Film atau kesenian pada umumnya semestinya memiliki satu dua niat, dalam tanda kutip, saya nggak terlalu yakin dengan istilah ini, pembebasan, dalam kaitannya dengan film secara umum, saya berpikir bagaimana caranya agar film itu menjadi milik kita juga, jadi sesuatu yang kita akrabi dengan sejumlah agenda yang saya sebutkan tadi itu.
Cerita-cerita yang kita saksikan dalam film sebenarnya bukanlah cerita-cerita baru, kita telah sering menyaksikan sebelumnya. Apa yang kamu lakukan untuk membuat cerita dalam filmmu nampak segar dan original?
Bila saya menggeluti sebuah tema, sebuah subyek persoalan tertentu, maka kemudian tema ini akan semakin unik, dia akan menjadi sebuah pribadi, jadi bagian dari diri saya. Ketika sudah sampai di sana, saya rasa setiap cerita menjadi segar dengan sendirinya. Lalu pertaruhannya adalah bagaimana kemudian metabolisme intelektual dan mental saya mengolah itu semua, semakin saya melarutkan diri dalam persoalan di sekeliling saya, maka cerita yang saya buat juga akan mempunyai pemaknaan baru terhadap konteks yang baru. Cerita tentang Yesus dan Maria Magdalena adalah cerita yang berumur lebih dari 2000 tahun, tapi pada konteks kekinian saya menemukan cara baca baru terhadap plot kisah itu. Karya seni itu kan hanya output, dan pada akhirnya juga hanya sebuah medium belaka, yang lebih penting di balik itu adalah dialog-dialog manusianya.
Itu yang selalu kamu tekankan dalam film-filmmu?
Ya, tentu saja. Ketika saya memutuskan jadi seorang kreator, salah satu risikonya adalah saya dilihat telanjang bulat oleh orang lain, bahwa kemudian film saya digerakkan oleh sebuah curahan hati tertentu, jelas iya, wong itu berangkat dari kegelisahan saya kok. Sejauh ini saya belum bisa menyatakan bahwa saya bisa membuat cerita yang sepenuhnya dipesankan oleh orang lain, bila itu adalah ukuran dari sebuah profesionalisme, maka mungkin saya bukanlah seorang penulis yang profesional. Saya selalu mencari sebuah kaitan yang intim dengan si cerita yang saya buat, meskipun cerita itu sebuan pesanan pihak lain, kalau tidak begitu ya susah.
Pernahkah kamu menemukan kegagalan selama membuat film? Bagaimana kemudian kegagalan itu mengubahmu dan caramu membuat film di kemudian hari?
Bila kita menggunakan ukuran-ukuran yang berlaku umum maka film saya itu biasanya adalah film yang penontonnya tidak banyak alias tidak laku. Apakah itu sebuah kegagalan? Tentu saja iya, produser pasti bilang bahwa itu gagal. Tapi kalaupun misalnya toh itu sebuah kegagalan, mereka tidak pernah menuntut balik terhadap saya, artinya memang mungkin sedari awal mereka bisa menangkap bahwa saya tidak menggunakan ukuran-ukuran yang semacam itu meskipun saya menyetujui upaya-upaya untuk meningkatkan jumlah raihan penonton. Lalu bagaimana kegagalan itu berpengaruh terhadap film-film saya kemudian saya rasa itu menciptakan dorongan dialektis terhadap karya-karya saya berikutnya, paling tidak saya meniatkannya demikian.
Film kamu selanjutnya, 'Bulan di Atas Kuburan', apakah kamu mengerjakannya dengan cara-cara yang sama seperti yang sudah-sudah?
Bila saya menulis naskah film, biasanya saya cukup peduli dengan ukuran-ukuran yang berlaku umum; tiga babak, ketegangan, konflik, resolusi, dan sebagainya. Untuk 'Bulan di Atas Kuburan' saya tidak menyutradarainya, saya hanya menulis ulang naskahnya saja. Saya pernah menulis naskah film 'King' (Ari Sihasale, 2009), film yang lumayan sukses diterima oleh masyarakat, artinya saya bukannya nggak bisa menulis sebuah cerita yang bisa dipahami banyak orang. Pada akhirnya kemudian ketika kita berbicara laku dan tidak laku, ada banyak sekali aspek yang sampai sekarang saya sendiri belum tahu lho formula seperti apa yang bisa menjamin sebuah film bisa laku di pasaran.
Biasanya kita menyerah pada satu formula, misalnya, "Oh bikin aja yang horor," formula yang sangat sederhana yang bisa kita ikuti yang belakangan pun gagal juga karena penonton semakin lama semakin jarang datang ke bioskop, horor pun tidak selalu laku ternyata. Film horor tetap yang teratas tapi pendapatan penontonya kini cenderung semakin turun, apa yang terjadi? Kita belum mampu untuk memformulasikan sebuah film yang sukses itu tadi. Kalau kita tidak beranjak dari sana ya kita akan terus-menerus bikin horor. Bukannya horor itu jelek, tapi bila dijadikan satu-satunya hal yang kita rayakan itu mengerikan. Saya ingin kok ada industri film BF (film porno) misalnya di sini untuk mengilustrasikan gagasan saya tadi.
Film melewati sejumlah tahapan proses, terkadang yang paling dramatis terjadi di ruang editing. Seberapa jauh biasanya perbedaan yang kamu dapatkan antara ide awal dan hasil kahir yang kamu capai?
Sebenarnya bila mengambil garis besar produk jadinya akan seperti apa, biasanya sudah disepakati dari awal. Benturan dengan pihak lain, katakanlah dengan produser, itu jarang sekali saya temui. (Benturan-benturan) itu akan berlangsung sebelum film itu dibuat. Bila produksi film sudah berjalan biasanya saya akan sedikit sekali berbenturan dengan pihak-pihak "non-kreatif", namun dengan pihak-pihak kreatif sering sekali, terutama dengan editor. Pada saat produksi 'Kau dan ACI', saya nyaris tak menemukan kendala berarti. Saat mengerjakan 'Optatissimus' dan 'Toilet Blues', saya mendapatkan temuan-temuan yang luar biasa di editing. Hasil akhir 'Optatissimus' 80-85% sesuai dengan apa yang saya angankan.
Lain lagi dengan 'Toilet Blues', itu karya pertama saya, karya pertama kru saya juga. Saya dan kru baru pertama kali berkolaborasi, ketika kami berbenturan di lapangan membuat adegan, shot, dan seterusnya, mungkin pada saat itu kami nggak sungguh-sungguh tahu apa yang sedang kami kerjakan, tapi kami justru mendapatkan temuan-temuan yang tak disangka-sangka ketika di pascaproduksi.
Saya rasa itu proses yang terbaik, pada akhirnya kami menyelesaikan sebuah film dengan banyak ujian. Akhirnya ketika film-film saya selesai saya selalu menemukan produser-produser yang berani bertaruh, kita bicara bukan soal satu dua langkah, tapi dalam jangka waktu yang lebih panjang, artinya film-film yang saya hasilkan merupakan kolaborasi yang sebaik-baiknya antara saya sebagai kreator dan produser. Saya nggak percaya bahwa film-film saya gak bisa dijual, belum ketemu aja caranya. Saya yakin itu.
(mmu/mmu)











































