"Saya berperan sebagai seorang polisi anak buahnya Nirina, saya ditugaskan untuk menangkap para penjahat. Ini peran penting sekali," ucapnya seraya tertawa lebar.
Ketika sedang duduk di balik lensa, Anggy menjadi pengarah yang tegas. Namun ia juga terbuka pada masukan yang diberikan para pemainnya. Dan saat giliran dia berakting, Anggy pun memposisikan diri sebagai aktor.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Dua hari itu idenya mereka juga kita tampung, lalu kita bikin skenarionya. Pada saat reading pun ada banyak masukan-masukan lagi," tutur sutradara yang memiliki gaya rambut mohawk itu.
Keterbukaan Anggy pada masukan pemain juga ia terapkan saat di lapangan. Malah, ada satu adegan yang ia rekam ketika pemainnya sedang bercanda di luar skenario.
"Jadi si Mudy (Taylor) lagi ngobrol-ngobrol terus nyanyi, akhirnya gue diemin aja sampai sepuluh menit. Bagus karena spontanitas dan masuk ke dalam cerita dan lucu, produser juga suka," jelasnya.
Kendala yang dialaminya saat syuting kebanyakan dari segi teknis. "Blocking paling susah, karena tiap (pemeran) bergerak kan kamera selalu ngikutin. Kadang pemain (baru) suka lupa blocking-nya," tambah Anggy.
(ich/mmu)











































