"Zalsburg, Vienna, Berlin, Jenewa. Ke Zalsburg itu seminar tentang human right, Jenewa konferensi ILO. Di Berlin dan Jerman, saya putar film saya di sana," ujar Lola saat ditemui di usai nonton bareng filmnya bersama BNP2TKI di XXI Plaza Senayan, Jakarta Selatan, Jumat (3/5/2013).
Menurut Lola, ia akan berada di Eropa selama satu bulan untuk mempresentasikan filmnya. Ia merasa mendapatkan bonus liburan setelah bekerja keras membuat film tersebut.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Film ini mengisahkan tentang tiga orang pekerja perempuan yang mempunyai satu kesamaan nama. Titik Sulastri, janda beranak dua yang bekerja sebagai buruh kontrakan berupah rendah di sebuah pabrik garmen; Titik Dewanti Sari, perawan tua pemegang posisi bergengsi di sebuah perusahaan raksasa yang penuh skandal; dan Titik Kartika atau Titik Tomboy, anak preman yang bekerja sebagai buruh pabrik rumahan yang tidak takut mati demi keadilan.
Tak hanya berbagi nama, ketiga Titik sama-sama terjebak dalam sebuah situasi yang membuat hidup mereka menjadi berubah 360 derajat
Lola yang memulai debutnya di film layar lebar "Tabir" (2000), memang lebih tertarik mengangkat isu sosial dalam film-filmnya. Lalu, tema apa lagi kira-kira yang akan ia buat untuk proyek berikutnya?
"Politik dan kekuasaan itu sudah menari-nari di pemikiran saya. Saya memang dekat dengan hal itu, dari saya bangun tidur, sampai tidur lagi," pungkas sutradara 'Minggu Pagi di Victoria Park' itu.
(ich/ich)











































