Hari Film Nasional sendiri diperingati oleh insan perfilman Indonesia setiap tanggal 30 Maret. Tepat tanggal tersebut, 63 tahun lalu, adalah hari pertama pengambilan gambar film 'Darah & Doa' atau 'Long March of Siliwangi' yang disutradarai Usmar Ismail.
'Darah & Doa' dinilai sebagai film lokal pertama yang bercirikan Indonesia. Selain itu film ini juga merupakan film pertama yang benar-benar disutradarai oleh orang Indonesia asli dan juga diproduksi oleh perusahaan film milik orang Indonesia asli yang bernama Perfini (Perusahaan Film Nasional Indonesia) dimana Usmar Ismail tercatat juga sebagai pendirinya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pada tahun-tahun itu acara Festival Film Indonesia masih diadakan tiap tahun untuk memberikan penghargaan kepada insan film Indonesia pada saat itu. Tetapi pada tahun 90-an industri perfilman nasional mengalami penurunan, yang membuat hampir semua film Indonesia berkutat dalam tema-tema seks.
Pada saat itu film Indonesia sudah tidak menjadi tuan rumah lagi di negara sendiri. Film-film dari Hollywood dan Hong Kong telah merebut posisi tersebut.
Hal itu berlangsung hingga muncul 'Petualangan Sherina', film musikal yang diperuntukkan kepada anak-anak dan dibintangi oleh Sherina Munaf. Riri Riza dan Mira Lesmana yang berada di belakang layar berhasil membuat film ini menjadi tonggak kebangkitan kembali perfilman Indonesia.
Setelah itu muncul film-film lain yang lain dengan segmen yang berbeda-beda dan sukses secara komersil. Ada 'Jelangkung' yang merupakan tonggak tren film horor remaja yang juga bertengger di bioskop di Indonesia untuk waktu yang cukup lama. Selain itu masih ada film percintaan remaja 'Ada Apa dengan Cinta?' yang mengorbitkan sosok Dian Sastrowardoyo dan Nicholas Saputra ke kancah perfilman.
Sejak saat itu berbagai film dengan tema serupa mulai banyak bermunculan. Ada juga beberapa film dengan tema yang agak berbeda seperti Arisan! yang digarap oleh sutradara Nia Dinata.
Rasa optimis kembali muncul ketika duet Riri Riza dan Mira Lesmana berhasil menyedot 4,5 juta penonton lewat 'Laskar Pelangi' yang diadaptasi dari novel karangan Andrea Hirata. Festival Film Indonesia juga kembali diadakan pada tahun 2004 setelah vakum selama 12 tahun.
Pilihan genre film juga semakin variatif mulai dari action seperti 'The Raid', hingga thriller seperti 'Belenggu' dan 'Modus Anomali'. Belum lagi meledaknya film 'Habibie & Ainun' yang mencapai 4,3 juta penonton. Namun sayangnya, kesuksesan film itu belum terlihat lewat film-film lain yang muncul saat ini.
Akankah Film Indonesia bisa kembali menjadi tuan rumah di negeri sendiri? Selain dibutuhkan peran pembuat film untuk menghasilkan film-film Indonesia yang berkualitas, tentunya peran penonton untuk datang ke bioskop sangat diperlukan untuk menggerakkan industri film itu sendiri.
(ich/ich)











































