Sutradara 'Soegija' itu berpendapat, seharusnya sebuah cerita kesedihan bukanlah dieksploitasi. Apalagi jika sampai menimbulkan kesan dibuat-buat.
"Tidak mengobral keharuan sebagai eksploitasi, itu etika bikin film yang baik," ujarnya saat ditemui di XXI Epicentrum, Jakarta Selatan, Kamis (26/4/2012).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Tingkat kesulitan di artistik. Biasanya orang bikin film sejarah itu di lorong, jadi sisi artistiknya ketutup. Atau misalkan bikin rumah 3 lantai, semuanya harus diisi, bukan cuma dapurnya aja, tapi satu rumah," ujarnya.
Saat ini, sutradara berusia 50 tahun itu sedang sibuk mempromosikan film terbarunya yang berjudul 'Soegija'. Lewat 'Soegija', Garin ingin melukiskan kisah-kisah kemanusiaan di masa perang kemerdekaan bangsa Indonesia dari kurun 1940 hingga 1949.
Garin menilai ketokohan Soegijapranata, yang merupakan tokoh uskup pribumi Gereja Katolik Indonesia itu sangat penting. Tidak hanya bagi umat Katolik, melainkan bangsa Indonesia. Tokoh ini mempunyai peran siginifikan dalam masa-masa krisis, menjelang dan awal-awal kemerdekaan.
Garin akan merilis film berbiaya Rp 12 milyar itu pada 7 Juni mendatang.
(ich/ich)










































