Harapan dan Idealisme Hanung Bramantyo di Film '?'

Harapan dan Idealisme Hanung Bramantyo di Film '?'

- detikHot
Rabu, 06 Apr 2011 10:41 WIB
Harapan dan Idealisme Hanung Bramantyo di Film ?
Jakarta - Film terbaru garapan sutradara Hanung Bramantyo yang berjudul '?' (baca: Tanda Tanya) akan mulai menghiasi layar lebar Indonesia pada 7 April 2011. Di film tersebut, Hanung menuangkan kegundahannya tentang kehidupan beragama di Indonesia.

Selasa (5/4/2011) malam, '?' diputar perdana di Planet Hollywood, Jakarta Selatan. Para tamu undangan terlihat sumringah setelah keluar dari gedung bioskop. Beberapa di antaranya langsung menghampiri Hanung untuk memberikan ucapan selamat.

Meskipun filmnya banyak dipuji saat itu, Hanung belum merasa sukses. Misi utamanya adalah meluruskan pandangan orang-orang yang memiliki stigma negatif terhadap Islam. Berikut petikan wawancara dengan sutradara yang sebelumnya menuai pujian lewat karyanya 'Sang Pencerah' itu mengenai harapan dan idealismenya dalam film '?'

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Apa yang ingin dicapai ketika membuat film ini?
Harapan saya, ngajak semua masyarakat terutama orang Islam untuk kembali kepada nilai-nilai Islam yang sifatnya humanis. Islam memang bagi pemeluknya termasuk saya adalah agama yang paling bener dalam taraf akidah. Tetapi kan tidak terus itu mempengaruhi hubungan dengan agama-agama lain. Nah sikap itu sekarang ini menipis yang saya lihat. Yang terjadi justru sesuatu yang sifatnnya abusif, menghancurkan, menghalang-halangi orang beribadah.

Dulu saya lahir dari keluarga yang multikultur, multietnik, multiagama juga. Bapak saya Jawa Islam. Ibu saya Cina, dulu Budha, terus akhirnya jadi muallaf (masuk Islam).Β  Tapi kan keluarga ibu saya kan Cina-Cina semua, ada yang Katholik, Protestan, Budha. Nah saya hidup di antara itu, nggak ada masalah. Justru sekarang-sekarang ini setelah reformasi malah muncul banyak sekali gesekan-gesekan. Nah saya sebagai orang Islam jadi risih karena ada stigma bahwa agama Islam itu agama yang berbahaya, tidak toleran dan teroris. Itu sebenarnya yang mau saya luruskan.

Selain menuangkan idealismenya, pasti memikirkan bisnis juga kan?
Yang jelas secara bisnis, film ini harus untung. Itu akan membuktikan dua hal. Pertama, kepercayaan kepada investor. Kedua, bahwa film Indonesia yang komersil itu tidak melulu dimonopoli oleh orang-orang yang membuat film horor yang tidak bertanggung jawab. Horor yang tidak bertanggung jawab itu adalah film horor yang hanya sekedar ngomongin tentang pocong, kuntilanak, dan tentang seks. Itu menjadi stigma bahwa film komersil kayak gitu. Nah, kita kan jadi males kalau kayak gitu.

Dengan adanya film ini nanti laku akan memberikan gambaran buat orang-orang, penonton dan pemerintah Indonesia juga, bahwa film Indonesia itu bagus lho. Itu sebenernya harapan saya.

Akan terus mengangkat film-film seperti ini?
Saya semestinya memang begitu. Saya harus ada konteks sosial yang harus saya bicarakan, yang saya angkat dalam film. Film 'Brownies' itu sebenernya saya protes terhadap kapitalisme. 'Catatan Akhir sekolah', 'Jomblo', 'Get Married' apalagi, dalam film itu kan sebenernya ada pesan di balik semua itu. Konteks sosialnya kan cukup kuat. Saya selalu konsisten dengan itu.

Inspirasi dalam membuat film?
Dari mana aja. Terutama dari situasi yang dekat dengan kita. Berangkatlah dari apa yang kita punya, itu rumus saya. Pada saat saya membuat film 'Sang Pencerah' saya berangkat dari komunitas Muhammadiyah yang memang sudah saya geluti dari dulu.

(ich/mmu)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads