Wawancara Eksklusif

Industri Film Korea Menembus Tantangan karena Pandemi

Atmi Ahsani Yusron - detikHot
Selasa, 27 Okt 2020 18:52 WIB
film zombie korea selatan
Foto: Next Entertainment
Jakarta -

Pandemi Corona yang menyerang sebagian besar negara di dunia mempengaruhi segala sudut kehidupan dan industri termasuk film. Sebuah tantangan untuk tetap bisa produktif di tengah kondisi pandemi dengan segala peraturan soal keamanan dan kesehatan yang harus ditaati.

Film sekuel Train To Busan, Peninsula, adalah salah satu film yang secara langsung terdampak oleh pandemi Corona. Film ini sempat mengalami beberapa kali pengunduran tayang setelah COVID-19 menyerang Korea Selatan dalam dua gelombang. Memang film ini sudah selesai diproduksi sebelum diberlakukan lockdown namun pandemi berdampak langsung pada penayangan film arahan sutradara Yeon Sang Ho tersebut.

"Sebagaimana di belahan dunia lain, keadaan industri film di Korea juga tidak mudah. Segenap sineas berjuang keras untuk bisa bangkit kembali," curhat pria yang sebelumnya pernah menyutradarai beberapa film animasi dalam sebuah wawancara eksklusif bersama detikcom.

Setelah sempat mengalami pengunduran akhirnya Train To Busan 2: Peninsula tayang di musim panas 2020 ini. Meski dengan protokol kesehatan yang ketat dan peraturan baru soal penggunaan masker di bioskop, film tersebut mendapat sambutan yang sangat meriah. Dalam empat hari penayangannya saja film ini sudah mendapat satu juta penonton di Korea Selatan.

Kisah zombie masih jadi sajian utama dalam Peninsula. Yeon Sang Ho memutuskan untuk melebarkan dunia zombie yang diperkenalkannya lewat film animasi Seoul Station (2016) lalu Train To Busan (2016) kemudian Peninsula di 2020. Berlatar empat tahun setelah kejadian di Train To Busan, film ini diperankan oleh Kang Dong Won sebagai jagoan serta sederet pemain lain seperti Lee Jung Hyun dan Lee Ree.

Train To Busan: Peninsula raih 1 juta penontonTrain To Busan: Peninsula raih 1 juta penonton Foto: dok. Film Peninsula

Zombie dalam universe Train To Busan yang digarap Yeon Sang Ho juga menjadi sebuah ancaman mengerikan seperti halnya virus Corona. Tayang di masa pandemi sedikit banyak membuat cerita dalam film ini tak hanya jadi sebuah hiburan yang menegangkan, tetapi juga mungkin sesuatu yang terasa nyata.

"Menurut saya, selalu ada saatnya kita bertemu kondisi yang tidak mengenakkan, tidak cuma Corona. Meskipun cerita film ini adalah cerita fantasi, tapi isinya dapat dirasakan dengan realistis," lanjut sang sutradara.

Menyikapi pandemi Corona yang masih belum ada kepastian soal titik akhirnya, industri perfilman Korea Selatan pun harus terus bergerak dan produktif. Sebagai sutradara, Yeon Sang Ho mengakui bahwa kondisi pandemi ini adalah sebuah tantangan.

Selanjutnya
Halaman
1 2