Pakar Konten Komentari Isu Rasis di Drama Korea Racket Boys

Atmi Ahsani Yusron - detikHot
Senin, 21 Jun 2021 15:15 WIB
Pemain Racket Boys
(Foto: dok. SBS) Isu rasisme dalam Racket Boys rupanya jadi perhatian juga oleh para pengamat dan ahli di Korea Selatan.
Jakarta -

Pekan lalu sempat heboh soal drama Korea Racket Boys yang dinilai melecehkan Indonesia. Dalam sebuah adegan terdapat dialog yang disebut merendahkan panitia penyelenggara turnamen bulu tangkis di Indonesia.

Rupanya hal itu tidak hanya menjadi sorotan di Indonesia saja. Ketika episode 5 dari Racket Boys tayang, penonton Indonesia geram dan mengkritik SBS hingga menulis tuntutan permintaan maaf di media sosial stasiun televisi Korea Selatan tersebut.

Isu rasisme dalam Racket Boys rupanya jadi perhatian juga oleh para pengamat dan ahli di Korea Selatan. Terlebih dua drama SBS yang sedang tayang mendapat komentar pedas soal rasisme hingga cultural appropriation (The Penthouse 3).

Hyun Hae Ri, CEO perusahaan Muam yang bergerak di bidang konsultan perusahaan produksi konten, memberikan pendapatnya soal ini. Menurutnya, di era streaming, konten saat ini masih tetap sulit untuk memberikan batasan dalam drama fiksi antara elemen kreatif dan ketidakpekaan terhadap penggambaran budaya.

Menyoal Racket Boys, menurut Hyun Hae Ri, seperti dikutip dari The Korea Herald, dia menilai ada beberapa hal yang bisa dikatakan wajar terjadi dalam sebuah pertandingan. Bukan soal komentar tim Korea Selatan terhadap panitia penyelenggara di episode 5, tapi adegan ketika pendukung tim kandang meneriaki tim tandang.

"Hal itu biasa terjadi dalam pertandingan. Itu hanya tentang bagaimana fans merespons situasi dalam pertandingan olahraga dan kebetulan saja kali ini terjadi di Indonesia," katanya.

Hyun Hae Ri juga mengomentari bagaimana penggemar Indonesia mengkritik habis-habisan SBS pada episode Racket Boys yang kontroversial tersebut. Menurutnya, adegan tersebut tayang karena pihak tim produksi tidak benar-benar menyadari efek yang bisa timbul kemudian.

Ditambahkan olehnya, hal ini bisa terjadi karena popularitas drama Korea yang teramat sangat di Indonesia. Popularitas seperti ini menurut Hyun Hae Ri, justru bisa dijadikan pertimbangan ketika menciptakan konten ke depannya.

Heo Chul, sutradara dan profesor dari Nanyang Technological University Singapura, berpendapat tim produksi konten di Korea Selatan sangat tertinggal untuk urusan kepekaan terhadap budaya ini. Bahkan menurut Heo Chul, bukan cuma tim produksi saja yang bermasalah, tapi masyarakat Korea Selatan secara umum.

"Menurutku ini bukan cuma ketidakpekaan dan ketidakpedulian perusahaan produksi konten, tapi permasalahan nasional Korea Selatan yang masih tertinggal dibandingkan negara lain," katanya.

Heo Chul menyarankan kepada produsen konten di Korea Selatan untuk memperluas keberagaman staf produksinya. Sehingga bisa kesalahan-kesalahan yang terjadi seperti di Racket Boys dan The Penthouse 3 tidak terulang.

"Kurangnya pemahaman tentang masalah keragaman budaya adalah masalah yang harus diatasi bersama oleh penonton domestik dan pembuat acara," tutup Heo Chul.

(aay/mau)