Di usia 21 tahun ia mulai mengikuti training di departemen ketentaraan Inggris. Ia pernah diajukan untuk ikut terlibat dalam perang di Irak pada 2007 lalu. Namun hal tersebut urung ia lakukan mengingat statusnya sebagai putra kerajaan Inggris. Dikhawatirkan keterlibatannya dalam perang tersebut dapat dijadikan target berbahaya bagi musuh untuk melukai dirinya.
Namun Harry lantas tak mundur. Ia kemudian bergabung dengan departemen ketentaraan Kanada untuk mengikuti pelatihan perang di Afghanistan di bawah perhatian badan PBB, NATO. Selama setahun ia menjalani pelatihan. Termasuk cara mengendarai helikopter Apache.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Aku merasa inilah bidang yang aku kuasai. Ya dalam beberapa hal aku memang gagal, tapi bisa menerbangkan helikopter menutupi beberapa kekuranganku," ujarnya.
Pulang dari Afghanistan, Harry berkeinginan untuk memulai petualangannya yang lain. Belum lama ini ia tengah menjalani ekspedisi ke Kutub Selatan bersama beberapa tim terpilih dari Inggris.
Harry pergi tim yang terdiri dari 12 orang pria dan wanita yang berangkat dari wilayah Cape Town, Afrika Selatan. Kepada media 'Parade', salah seorang rekan mengutarakan pendapatnya atas peran Harry dalam kelompok petualangan tersebut.
"Dia mencairkan berbagai suasana. Dalam momen lelah sekalipun, ia menghadapi semua dan mendukung tim ekspedisinya untuk tak menyerah," ujar rekan Harry tersebut yang bernama Guy Disney.
Perjalanan menuju Kutub Selatan tersebut tidaklah mudah. Dalam perjalanan yang tentunya melelahkan tersebut, para anggota rentan terserang kedinginan berlebih yang dapat membuat beberapa bagian tubuh menjadi sulit digerakkan.

Bila perjalanan tersebut berlangsung lancar, Harry dan kawan-kawan dipastikan menyelesaikan ekspedisi mereka dan pulang ke Inggris pada 23 Desember mendatang.
(doc/hkm)











































