ADVERTISEMENT

Salman Rushdie Ditinju sampai Ditikam 15 Kali, Organ Tubuh Rusak hingga Pakai Ventilator

Tia Agnes Astuti - detikHot
Sabtu, 13 Agu 2022 16:10 WIB
NEW YORK, NY - DECEMBER 10:  Novelist Salman Rushdie speaks onstage at the Norman Mailer Center 7th Annual Awards ceremony and celebration at Pratt Institute on December 10, 2015 in New York City.  (Photo by Thos Robinson/Getty Images for Norman Mailer Center, Inc.)
Foto: Getty Images
Jakarta -

Novelis The Satanic Verses atau Ayat-ayat Setan, Salman Rushdie, ditikam di sebuah acara sastra yang diselenggarakan oleh Institusi Chautauqua New York pada Jumat (12/8) waktu setempat. Ribuan orang yang menghadiri acara terhenyak dan berlari dari lokasi.

Saat itu, Salman Rushdie baru saja dipanggil dan diperkenalkan oleh host ke atas panggung. Tak berapa kemudian, pelaku yang sudah ditangkap itu melakukan penyerangan.

Salman Rushdie awalnya ditinju dan dipukul berulang-ulang di bagian dada dan leher. Lalu, pelaku menikamnya sekitar 15 kali di bagian yang sama.

Panggung acara sastra itu pun dipenuhi oleh darah yang bersimbah. Para peserta yang hadir untuk mengikuti acara diskusi berlarian, dan berhamburan ke luar acara. Petugas keamanan setempat langsung meringkus pelaku dan mengamankan di lokasi kejadian.

Literary agent Salman Rushdie, Andrew Wylie, yang mengurusi penerbitan karya-karyanya mengatakan kondisi kesehatan sang novelis belum stabil. Dia menggunakan ventilator atau alat bantu nafas saat ini.

Organ tubuh Salman Rushdie pun mengalami kerusakan parah, hatinya rusak, ada beberapa bagian saraf di lengan yang terputus, dan kemungkinan besar bakal kehilangan penglihatan.

Salman Rushdie mengalami luka yang serius dan diungkapkan oleh Dr Martin Haskell, lukanya susah untuk dipulihkan.

Dalam acara tersebut, ternyata bukan Salman Rushdie saja yang diserang. Namun seorang moderator bernama Henry Reese (73 tahun) salah satu pendiri organisasi yang menawarkan residensi kepada penulis yang menghadapi penganiayaan dan juga ancaman pembunuhan.

Reese menderita cedera wajah dan saat ini dirawat di rumah sakit. Keduanya rencananya dalam acara diskusi sastra bakal membahas tentang negara Amerika Serikat yang bisa digunakan sebagai negara perlindungan bagi penulis dan seniman di pengasingan.

Nama Salman Rushdie dikenal karena novel The Satanic Verses disebut menghina Nabi Muhammad. Mantan Pemimpin Agung Iran, Ayatollah Ruhollah Khomeini mengucapkan ancaman untuk Salman pada 14 Februari 1989.

Novel keempat sang penulis menceritakan tokoh utama yang bernama Mahound (yang kemungkinan besar merujuk pada Muhammad) diceritakan secara kilas balik paralel dengan dua tokoh utama lainnya Gibreel Farishta dan Saladin Chamcha.

Sebagian ceritanya terinspirasi dari kisah hidup Muhammad. Namun bagi umat muslim, novelnya dianggap penuh SARA hingga tak boleh beredar di India dan menyulut kerusuhan di Pakistan.

Dia sempat tinggal di Inggris kemudian bersembunyi di New York selama lebih dari 3 dekade. Selama bersembunyi, ia menggunakan nama samaran dan jarang muncul ke publik namun sejak 11 September 2001 ia mulai berani muncul dan bersuara.

(tia/aay)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT