Pasar Bebas Baju Bekas

ADVERTISEMENT

Pasar Bebas Baju Bekas

M. Iqbal Fazarullah Harahap - detikHot
Jumat, 25 Mar 2022 21:18 WIB
Thrifting
Thrifting Foto: dok Second Off
Jakarta -

Thrifting bukan hanya soal komunitas para penikmatnya. Tapi juga para pedagang atau yang dikenal dengan istilah thrift shop. Mereka mengemban tugas untuk melakukan penyortiran barang-barang yang masuk dan layak dijual.

Untuk melengkapi cerita sebelumnya, detikHOT menghubungi salah satu thrift shop bernama Second Off. Di Instagram nama akunnya @second.off_, tokonya terletak di Kawasan Tanjung Priok, Jakarta Utara. Tidak bisa mewakili semuanya, tapi setidaknya bisa memberikan gambaran umum tentang bagaimana cara mereka bekerja.

Anjas, mewakili Second Off berbagi cerita dari mana dia mendapatkan barang. Baik dari pasar-pasar lokal hingga impor luar negeri. Berdiri sejak dua tahun lalu memiliki lebih dari 500 koleksi.

"Kalau untuk beberapa item memang kita buka satu bal (karung), ada celana, hoodie, t-shirt, sweeter kita nyarinya di pasar yang jual barang seperti itu, kaya di Senen, Gedebage. Kalau impor untuk item-item tertentu aja, yang harganya di sana juga agak rendah terus kita jual di sini. Caranya impor itu kita ikut lelang," cerita Anjas melalui sambungan telepon.

Kata 'impor' dan 'lelang' menandakan bahwa jaringan para komunitas thrift shop ini sudah global. Mereka memiliki koneksi untuk mendapatkan barang-barang potensial. Negara Jepang adalah sumber utamanya.

"Betul, jadi di sana (luar negeri) juga banyak seller-seller yang jual second hand gitu. Tapi yang di sini tidak ada atau di sini ada tapi harganya udah tinggi banget. Biasanya dari Jepang. Kalau di daerah lain, ada Bandung, Bogor, juga ada di Makassar, Manado. Jadi, kenal juga sama temen-temen dari komunitas itu."

ThriftingThrifting Foto: dok Second Off

Dari satu karung yang dibeli, terdapat sekitar 200 lembar item. Kemudian dipisahkan satu per satu untuk menemukan 'harta karun'. Menurut Anjas, di Second Off, mereka cukup luas memilih merek untuk diperjualbelikan. Dari mulai Uniqlo, H&M, sampai streetwear seperti Stussy, Bape dan Supreme.

Anjas bercerita, di tokonya, semakin tua usia t-shirt, biasanya akan dibanderol dengan harga yang semakin mahal. Apalagi jika berbicara t-shirt bernuansa musik.

"Kalau misalkan dalam dunia thrift, misalnya itu kaos musik Nirvana itu kan udah release, kalau misalkan di H&M, Pulland Bear, itu mereka keluarkan juga yang Nivana, tapi yang nilainya tinggi itu adalah Nirvana yang edisi tahun 90-an. Dilihat dari dari tag-nya. Beda harganya amat sangat signifikan, misalnya Nirvana 90s sama Nirvana yang sekarang bisa di google Rp150.000-Rp250.000, kalau yang 90s dijual hampir Rp5 Juta-Rp6 Juta."

"Saya punya kaos Snoop Dogg, sempet kita buka Rp10 Juta, sempat ditawar Rp7 Juta tapi kita belum kasih. Kenapa kita belum kasih? Karena itu memang valuable banget. Ada juga yang Akira itu Rp11 Juta. Jadi, di thrifting ini tidak ada yang mengatur harga-harganya, pasar bebas."

Harga-harga itu tidak lantas membuat para pembeli urung membeli. Justru, bagi mereka, barang-barang itu adalah harta karun dan mungkin juga investasi.

ThriftingThrifting Foto: dok Second Off

"Pastinya dari pembeli sudah sadar, tapi banyak juga pembeli yang awam, 'mahal banget kaos bekas gini'. Berarti dia belum paham, kita bisa kasih knowledge kenapa ini mahal. Makannya kenapa orang-orang yang lama itu kayak punya treasure kayak punya harta karun," tutur Anjas.

Tapi apa bisa dipastikan barang tersebut asli? Bagaimana caranya?

"Knowledge sih, itu yang mahal. Makanya kalau kita baru main kadang susah banget belajar itu. Karena orang yang udah lama main pun nggak mau seenak jidat ngasih tahu. Itu ilmunya nggak ada di sekolahan dan nggak bisa baca di buku. Biasanya kita cek (asli atau palsu) dari pack, terus dari jahitan, ngecek via Google juga. Sama kalau kita udah biasa pegang itu brand kan udah tahu pas baru ngeliat aja," tegas Anjas lagi.



Simak Video "Cegah Kerumunan di DWP 2022, Penyelenggara Siapkan Pintu Khusus"
[Gambas:Video 20detik]
(mif/nu2)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT