ADVERTISEMENT

Pergaulan

Partygoers! Saatnya Pulang Ke Rumah

M. Iqbal Fazarullah Harahap - detikHot
Sabtu, 18 Des 2021 12:42 WIB
Ms. Jackson
Foto: dok. Ms. Jackson
Jakarta -

Grup hiphop Outkast merilis lagu berjudul 'Ms.Jackson' pada 2000 silam. "I'm sorry Ms. Jackson (oh), I am for real / Never meant to make your daughter cry / I apologize a trillion times," nyanyi Outkast dengan irama groove yang mengasyikkan. 18 tahun kemudian, Ms. Jackson melancong dari Amerika, menginjakkan kakinya ke Indonesia.

Bukan dalam bentuk orang ataupun grup musik, melainkan sebuah tempat. Bar & Lounge, tempat anak muda Jakarta menikmati malam, berpesta sambil mendengarkan ragam lagu dalam format sajian musik langsung di atas panggung atau live music, berupa band dan DJ (Disc Jockey).

Ms. Jackson menjadi satu dari banyak tempat pesta di area Senopati, Jakarta Selatan. Area yang dipercaya sebagai pusat pergaulan hari ini. Berdiri sejak 2018. Ms. Jackson mengusung konsep 'music bar' yang menyajikan sajian musik setiap harinya dengan berbagai genre.

Pada 2020 kemarin, di antara pandemi dan party, Ms. Jackson memilih untuk tutup. Secara kebetulan juga, tempat mereka mengalami musibah kebakaran. Jadilah, tahun ini menjadi waktu berbenah untuk siap dibuka kembali. Sebelum masa pembukaan, detikHOT menyambangi pemilik Ms. Jackson, Vinnie Kinetica Rumbayan. Kita berbicara soal latar belakang Ms. Jackson, persiapannya untuk buka dan fenomena pergaulan hari ini.

"Dulu banget, itu ada masanya orang keliling, pindah-pindah tiap hari buat nyari live music. Senin di mana, Selasa di mana. Sampai ada akun di Instagram yang kasih jadwal-jadwalnya. Akhirnya kita putuskan kenapa nggak kita bikin aja tempatnya, yang tiap hari live music. Dari riset kami, ternyata orang udah biasa dengan lifestyle itu, makan, duduk, minum dan nonton live music. Kalau biasanya di kondisi tertentu, sekarang jadi lifestyle semua orang," buka Vinnie kepada detikHOT saat ditemui di Kawasan Senayan, Jakarta Selatan.

"Ditambah, Jakarta juga sudah menjadi pop culture city. Sudah sama kaya Tokyo, London, Los Angeles. Spending behavior-nya sudah naik juga. Misalkan dulu kita buat acara ulang tahun habis biaya Rp 5 juta. Sekarang, 2018 pas kita buka itu, sudah bukan hal yang mewah. Lo pergi rame-rame sama temen lo, ngabisin Rp 5 juta buat sehari," sambung Vinnie.

"Sejak awal Ms. Jackson buka, fokusnya menjadi music bar dan seterusnya akan begitu. Nama Ms. Jackson juga berangkat dari musik kan, lagunya Outkast," lanjutnya lagi.

Ms. JacksonSuasana di Ms. Jackson sebelum pandemi COVID-19. Foto: dok. Ms. Jackson

Mungkin bisa dibilang, konsep itu membuahkan hasil. Mengingat di tahun pertamanya, Ms. Jackson diganjar penghargaan Paranoia Awards 2019 Hard Rock FM sebagai 'Bar/Lounge of the Year'. Bahkan, untuk mendukung konsep musiknya, Ms. Jackson punya program bernama Jackson All Stars, di mana mereka menghadirkan musisi-musisi kelas nasional, untuk tampil bergantian selama 7 hari 7 malam. Slank, Kahitna, Glenn Fredly, d'Masiv, Melly Goeslaw, NAIF, Ardhito Pramono adalah beberapa nama yang pernah naik pentas.

Ada hal lain yang menurut Vinnie menjadi pemikat bagi para penggiat pesta menyukai Ms. Jackson. Adalah soal persona yang dibangun Ms. Jackson kepada publik.

"Kami membangun Ms. Jackson ini kaya black American woman. Kita nggak foto tempatnya bagus, makannya enak, tapi kaya manusia biasa. Dia ngeluh hari Senin, seneng waktu hari Jumat, pesta waktu tamu datang. Kalau tempat lain ngejual produk, kami jual persona. Pengikut kami di media sosial merasa berhubungan dengan teman, bukan tempat."

Menghadirkan Pop, Jazz, Pop Rock, Top 40, R&B bergantian setiap hari bukan hal yang mudah. Ada pertimbangan antara usaha memberikan suguhan berbeda dan selera pasar.

"Kasih edukasi ke pengunjung soal literasi musik itu jadi tantangannya. Sejak awal kita klaim Ms. Jackson adalah 'music bar', kita nggak mau kasih musik yang sama dan itu-itu saja. Kita punya tanggung jawab memberi tahu ada musik enak yang lain. Misalnya, kita mainkan juga motown, band nyanyiin Marvin Gaye, Aretha Franklin."

Ms. JacksonSuasana Kahitna manggung di Ms. Jackson sebelum pandemi COVID-19. Foto: dok. Ms. Jackson

Walaupun, Vinnie pribadi menyadari, bahwa, kadar gaul anak Jakarta, ataupun daerah manapun di Indonesia, tidak akan pernah mengingkari bahwa dalam darah, musik pop Indonesia tetap menjadi juaranya.

"Kita itu pernah melakukan riset, Kita nggak bisa menghilangkan 'kedangdutan' kita, jangan bohong kalau lo suka lagu Indonesia. Dangdut bagian dari Senopati, Sheila on 7, Dewa 19, masa sih lo nggak dengerin? Saat di bawah pengaruh alkohol, saat minum, lo akan jadi impulsif sekaligus kompulsif. Lo nyanyiin lagu-lagu radio, lagu-lagu Indonesia, bikin semuanya jadi terhubung ke kehidupan lo. Iya, lagu Usher tetap keren. Tapi bisa jadi nggak relate. Nah, saat-saat seperti ini lah lo akan punya potensi untuk jajan lagi," jelas Vinnie sembari tertawa.

Sebentar lagi, masa hibernasi Ms. Jackson akan usai. Kaca-kaca yang berkilauan di jalan masuk itu akan kembali ramai dan menyilaukan. Bartender akan sibuk meracik, panggungnya yang setelah renovasi akan jadi lebih besar, berisik lagi. Lantai dansa akan semarak lagi, teriakan suka cita dan tangis putus cinta terdengar bersahutan dengan musik. Antrean di toiletnya pun mengular dan beberapa bercak muntah mungkin terlihat. Tidak apa.

"Ms. Jackson mungkin nggak sehebat itu, tapi kami adalah benchmark. Sekarang, kami sedang menyiapkan inovasi untuk reopening awal tahun depan, agar dapat memenuhi ekspektasi nostalgia dari para pelanggan," kata Vinnie.

"Dulu, Ms. Jackson punya tagline, 'Your Next Crush'. Sekarang kami mau bilang, 'It's Time to Come Home'. Kemarin kami tutup, lo pada keluyuran kemana-mana, ya sekarang, pulang lah sini ke rumah. Pulang ke Ms. Jackson," tutupnya.

(mif/dar)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT