ADVERTISEMENT

Hot Questions

Akal Sehat Pergaulan Rocky Gerung, dari Anak Menteng hingga Senoparty

M. Iqbal Fazarullah Harahap - detikHot
Kamis, 16 Des 2021 11:05 WIB
Jakarta -

Pada artikel pertama, Rocky Gerung telah menceritakan bagaimana pergaulannya di masa muda. Menikmati keseruan musik di sejumlah pub di Kawasan pusat Jakarta hingga ke Bandung. Tequila, musik jazz dan sesekali membaca literasi musik luar negeri bersama dengan teman-teman.

Rocky Gerung sebagai 'Anak Menteng', detikHOT kemudian menggali dan membandingkannya dengan pergaulan hari ini. Di mana, terjadinya glorifikasi atas Jakarta Selatan (Jaksel), yang kemudian menghadirkan Fenomena Senoparty. Apakah, sejak dulu kawasan selatan Jakarta sudah begitu seksi dan memikat muda-mudi?

"Jakarta Selatan sejak dulu sudah punya panggung sendiri memang, seniman nongkrong di area Blok M. Ada SMA 6, sekolah elite di situ. Ada juga istilah Lenggang Melawai, anak-anak muda sering ngeceng di situ. Kalau Senopati sendiri paling baru berkembang 10 tahun terakhir. Memang sejak dulu sudah ada persaingan antara anak-anak Kebayoran dan anak Menteng, keduanya elite," kenang Rocky. Dia menyeruput cangkir kopinya sebelum memulai nostalgianya lagi.

Rocky GerungRocky Gerung Foto: Rocky Gerung dok detikhot

"Dulu di Blok M situ ada dagang ganja. Terus kalau jalan sedikit ke arah PSKD (SMA), ada pemasok di situ," Rocky tertawa.

Mantan Dosen Filsafat Universitas Indonesia kemudian menjelaskan tentang budaya tersirat yang ada di Menteng. Baginya, Kawasan Menteng sejatinya tempat beristirahat yang dibuat untuk berteduh. "Menteng itu home, bukan house."

"Menteng itu punya subculture sendiri. Beberapa tokoh lama pejuang kemerdekaan di situ. Seluruh tokoh politik yang bermusuhan pun di situ. Rumah (D.N.) Aidit di Cikini, Sutan Syahrir di Jalan Jawa, sekarang Jalan HOS. Cokroaminoto. Pak Harto dulu tinggal di Jalan Irian. Pada waktu itu, dibangun Wisma Nusantara. Bahaya kalau Pak Harto tetap di situ, orang bisa lempar bom molotov. Jadi kalau ditanya kenapa Pak Harto pindah ke Cendana, karena alasan fisika," sambungnya lagi dengan tertawa.

Lain dulu, lain sekarang. Akademisi 62 tahun itu merasa banyak sekali perubahan pergaulan yang salah satu faktor utama penyebabnya adalah pandemi. Dia menyebutkan istilah bernama green civilization.

"Pergaulan itu ada yang sustain, ada yang berubah. Ada yang tumbuh terus, dan ada variannya. Karena ada pandemi Covid-19, pergaulan kemudian ditafsirkan ulang. Persiapan untuk menghadirkan dunia yang bersih, menghijaukan ulang bumi. Akibatnya pergaulan sosial juga berubah. Ada anak-anak muda sekarang yang akhirnya paham bahwa pandemi mengajar kita solidaritas, berhemat, kemudian pengertian itu menimbulkan diskusi besar hari ini."

"Misalnya, hal ekonomi. Pemerintah kita kalau bicara ekonomi kenapa dia pamerkan growth? kenapa nggak pamerkan justice, kenapa nggak tentang keakraban manusia dengan hutan. Karena satu-satunya ide untuk menunjukkan keberhasilan adalah dengan memamerkan pertumbuhan, harusnya menghidupkan kembali pikiran atas green culture, green civilization. Tapi, pemerintah kita nggak ada yang bicara soal itu, sementara anak muda bergaul dengan cara itu."

Di kediamannya yang hijau dan adem seluas kurang lebih 1.000 meter itu, Rocky Gerung bersiap mengakhiri wawancara bersama detikHOT. Untuk menutupnya dengan manis, kami bicara romansa dan cinta. Seperti apa? Ikuti terus di Hot Questions.

Rocky Gerung Hot QuestionsRocky Gerung Hot Questions Foto: Muhammad Ridho
(mif/nu2)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT